Prof. Mike Yuliana Pimpin Riset AI-Drone, Sinergi Tiga Kampus untuk Perkuat Ketahanan Pangan
- account_circle Ruang Wawan
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Prof. Mike Yuliana memimpin riset Portable AI Drone untuk pertanian presisi dan ketahanan pangan
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Prof. Dr. Mike Yuliana, S.T., M.T. memimpin penelitian yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI), perangkat portable, sensor, dan drone untuk mendukung pertanian presisi. Riset bertajuk “Integrasi Inovasi Teknologi Portable-AI-Drone untuk Optimalisasi Produksi dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan” tersebut mempertemukan peneliti dari tiga perguruan tinggi.
Kolaborasi itu melibatkan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Politeknik Negeri Jember (Polije). Tim peneliti memadukan keahlian teknologi elektronika, kecerdasan buatan, sistem informasi, drone, sensor, hingga ilmu pertanian.
Prof Mike Yuliana memimpin konsorsium riset tersebut dari PENS. Tim mengarahkan inovasi ini untuk membantu petani memantau kondisi tanaman, mengenali gangguan sejak dini, serta menentukan tindakan berdasarkan data lapangan.
Prof Mike Yuliana Integrasikan AI dan Drone untuk Pertanian
Prof Mike bersama tim membangun ekosistem teknologi yang menghubungkan proses pemantauan, diagnosis, pemetaan, dan pengendalian tanaman.
Sistem tersebut memanfaatkan perangkat portable JagaPadi Modular untuk mengumpulkan data di lapangan. Perangkat ini membawa kamera dan sensor untuk membaca kondisi tanaman serta lingkungan sekitar.
Tim kemudian mengolah data tersebut dengan teknologi AI. Sistem dapat membantu mengenali indikasi penyakit pada tanaman padi dan memberikan informasi pendukung bagi pengguna.
Pada sisi lain, drone membantu tim memetakan kondisi area persawahan. Teknologi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) memberikan gambaran mengenai kondisi vegetasi di lahan.
Hasil pemetaan membantu tim menemukan area yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Petani kemudian dapat memeriksa lokasi tersebut secara lebih terarah.
PENS, ITS, dan Polije Bangun Kolaborasi Lintas Keilmuan
Kekuatan utama riset ini terletak pada sinergi tiga perguruan tinggi. PENS membawa keahlian pada bidang elektronika, AI, sensor, komunikasi, dan integrasi sistem. Keahlian tersebut mendukung pengembangan perangkat portable, sistem AI, serta teknologi drone.
ITS turut memperkuat aspek teknologi dan rekayasa dalam pengembangan sistem. Sementara itu, Polije memberikan perspektif keilmuan pertanian yang penting untuk menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata di lahan.
Kolaborasi tersebut mempertemukan teknologi dan pertanian dalam satu tim. Pendekatan ini membantu peneliti merancang sistem yang tidak hanya fokus pada perangkat, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pengguna di lapangan.
Nama-nama peneliti dalam konsorsium antara lain Muhammad Attamimi, Hendra Yufit Riskiawan, Hendri Darmawan, Mochammad Zen Samsono Hadi, Nailul Muna, Rudy Dikairono, Ronny Mardiyanto, Gallyndra Fatkhu Dinata, Refa Firgiyanto, dan Dwi Putro Sarwo Setyohadi.
JagaPadi Bantu Deteksi Penyakit Tanaman Padi
Salah satu bagian menarik dari riset ini hadir melalui JagaPadi Modular. Perangkat portable tersebut membantu pengguna mengumpulkan informasi dari tanaman secara langsung.
Tim juga mengembangkan Chatbot JagaPadi sebagai asisten diagnosis. Sistem AI mengolah informasi yang masuk dan membantu pengguna memahami kondisi tanaman.
Teknologi ini membuka peluang bagi petani untuk mendapatkan informasi secara lebih cepat. Petani juga dapat memanfaatkan hasil analisis sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan tindakan di lahan.
Dengan pendekatan tersebut, petani tidak harus mengandalkan pengamatan visual saja. Data dari kamera, sensor, dan pemetaan drone dapat memberikan informasi tambahan.
Drone Bantu Petakan dan Semprot Area Sawah
Riset ini juga menghadirkan teknologi drone untuk mendukung pemetaan dan penyemprotan.
Drone mengambil data kondisi tanaman dari area yang luas. Sistem kemudian mengolah data tersebut melalui analisis NDVI.
Hasil analisis membantu tim menentukan area yang membutuhkan penanganan. Drone penyemprot Hexarotor kemudian dapat mendukung proses penyemprotan pada area target.
Pendekatan tersebut membuka peluang penerapan precision farming. Petani dapat mengarahkan tindakan berdasarkan kondisi lahan, bukan sekadar melakukan penyemprotan secara merata.
Teknologi ini juga berpotensi membantu petani menghemat penggunaan sumber daya. Pada saat yang sama, sistem dapat mempercepat proses pemantauan lahan.
Teknologi Pertanian Beri Manfaat bagi Petani
Integrasi AI, sensor, dan drone membawa sejumlah manfaat bagi pengelolaan pertanian.
Petani dapat memperoleh informasi kondisi tanaman dengan lebih cepat. Sistem juga membantu petani menemukan area yang memiliki indikasi masalah.
Data NDVI memberikan gambaran kondisi vegetasi pada area yang luas. Sementara itu, perangkat portable membantu pengguna melakukan pemeriksaan lebih dekat di lapangan.
Kombinasi kedua pendekatan tersebut membuat proses pemantauan menjadi lebih terarah.
Teknologi penyemprotan presisi juga dapat membantu petani menentukan area sasaran. Cara ini berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan bahan dan waktu kerja.
Dalam jangka panjang, sistem tersebut dapat mendukung produktivitas pertanian sekaligus mendorong praktik budidaya yang lebih berkelanjutan.
Prof Mike Dorong Riset Menuju Hilirisasi
Prof Mike Yuliana dan tim tidak berhenti pada pengembangan teknologi. Mereka juga membuka peluang penerapan sistem dalam skala yang lebih luas.
Materi penelitian menunjukkan peluang pengembangan model bisnis B2B, B2G, dan cooperative farming. Tim juga melihat potensi penerapan teknologi pada berbagai komoditas.
Selain padi, konsep tersebut dapat mendukung pengelolaan jagung, tebu, hortikultura, dan perkebunan.
Pendekatan multi-komoditas membuat teknologi memiliki ruang pengembangan yang lebih luas. Tim dapat menyesuaikan sistem dengan karakteristik tanaman dan kebutuhan masing-masing sektor.
Kolaborasi PENS, ITS, dan Polije menjadi modal penting untuk membawa inovasi tersebut lebih dekat dengan kebutuhan pengguna. Sinergi lintas disiplin juga memperkuat peluang riset untuk masuk ke tahap implementasi dan hilirisasi.
Melalui kepemimpinan Prof Mike Yuliana, riset Portable-AI-Drone ini menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan pertanian. Teknologi AI, sensor, perangkat portable, dan drone bekerja bersama untuk membantu petani mengambil keputusan berdasarkan data.
Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan sektor pertanian dan mendukung ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan.
- Penulis: Ruang Wawan

