Sumaya Ukir Sejarah, Medali Perak Teqball Jadi Milik Indonesia di Asian Games 2026
- account_circle Ruang Wawan
- calendar_month 48 menit yang lalu
- print Cetak

Sumaya atlet teqball Indonesia meraih medali perak Asian Games 2026 (Photo : AINAGOC)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Nama Sumaya kini tercatat dalam sejarah teqball Indonesia. Atlet asal Riau tersebut berhasil membawa pulang medali perak dari nomor Women’s Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Pencapaian itu menjadi medali perak pertama Indonesia pada Asian Games 2026 sekaligus podium bersejarah bagi teqball. Pasalnya, cabang olahraga tersebut untuk pertama kalinya masuk dalam persaingan Asian Games.
Sumaya harus puas berada di posisi kedua setelah menghadapi wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, pada pertandingan final di Nagoya City Higashi Sport Center. Pertandingan berlangsung dalam tiga set dengan skor 12-10, 8-12, dan 9-12 untuk kemenangan atlet Myanmar.
Meski belum berhasil membawa pulang emas, Sumaya tetap melihat hasil tersebut sebagai pencapaian penting dalam perjalanan kariernya.
“Saya bangga dengan diri sendiri walaupun kalah. Saya ingin latihan lebih keras lagi. Medali perak ini saya persembahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan negara,” ucap Sumaya.
Sumaya Akui Masih Banyak yang Harus Diperbaiki
Pertandingan final memberikan sejumlah pelajaran bagi Sumaya. Atlet berusia 21 tahun itu mengakui masih melakukan beberapa kesalahan yang membuat peluangnya untuk memenangkan pertandingan menjadi lebih sulit.
Ia merasa momentum pertandingan beberapa kali berubah akibat kesalahan-kesalahan kecil. Karena itu, Sumaya ingin menjadikan pengalaman di Asian Games 2026 sebagai bahan evaluasi untuk persiapan berikutnya.
“Sebenarnya pikiran saya cuma ingin satu poin naik, tetapi karena banyak kesalahan jadi susah untuk menang. Saya masih penasaran untuk mengalahkan Myanmar itu. Next mungkin harus lebih banyak latihan lagi,” katanya.
Dukungan penonton juga menjadi bagian penting dalam perjuangan Sumaya di partai puncak. Sejumlah suporter Indonesia hadir langsung di venue dan memberikan dukungan sepanjang pertandingan.
Kehadiran sejumlah tokoh olahraga nasional turut memberi atmosfer berbeda. Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir, President NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari, serta Chef de Mission Tim Indonesia Todotua Pasaribu menyaksikan pertandingan tersebut dari lokasi.
Sumaya mengaku dukungan tersebut justru membuatnya semakin bersemangat menjalani pertandingan.
“Saya tidak terlalu tertekan. Nervous masih bisa saya alihkan, tetapi memang keadaannya tidak memungkinkan. Kehadiran suporter memberikan saya semangat,” ungkapnya.
Berawal dari Sepak Takraw
Perjalanan Sumaya menuju podium Asian Games memiliki cerita tersendiri. Sebelum menekuni teqball, ia lebih dulu mengenal sepak takraw sejak duduk di bangku SMP.
Kesempatan untuk mencoba olahraga baru datang setelah dirinya tidak terpilih memperkuat kontingen pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024. Dari situ, Sumaya kemudian beralih ke teqball.
Perpindahan tersebut membuatnya harus beradaptasi dengan karakter permainan yang berbeda. Meski sama-sama menggunakan kemampuan mengolah bola, teqball memiliki teknik dan ruang permainan yang membuat Sumaya harus mempelajari banyak hal baru.
“Kalau sulit, lebih sulit teqball. Gerakannya berbeda, mejanya kecil, tapi saya lebih menikmati main teqball karena lebih menantang. Sampai sekarang, saya tidak menyesal pindah ke teqball,” ujar Sumaya.
Keputusan tersebut perlahan membuahkan hasil. Sumaya melewati berbagai kompetisi mulai dari Kejuaraan Nasional, International Series di Bangkok, SEA Games, hingga akhirnya tampil di Asian Games 2026.
Sebelum mencapai final di Nagoya, ia juga sudah memiliki pengalaman internasional dengan meraih medali perunggu SEA Games pada nomor mixed double.
Teqball Indonesia Bawa Pulang Dua Medali
Prestasi Sumaya tidak berdiri sendiri. Tim Indonesia juga meraih satu medali perunggu dari teqball melalui nomor lainnya.
Dengan tambahan perak dari Sumaya, teqball menyumbangkan dua medali bagi Indonesia pada debutnya di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, yakni satu perak dan satu perunggu.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Teqball Seluruh Indonesia (POTSI), Calvin Legawa, menyebut hasil tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan olahraga teqball di Tanah Air.
“Ini sebuah pencapaian, artinya sejarah juga buat teqball Indonesia. Untuk pertama kali debut di Asian Games, kita berhasil membawa pulang medali,” ujar Calvin.
Menurut Calvin, pencapaian di Asian Games dapat menjadi pijakan untuk membangun prestasi teqball Indonesia secara lebih berkelanjutan.
Ia melihat Indonesia memiliki modal dasar yang cukup kuat karena karakter permainan teqball memiliki keterkaitan dengan kemampuan mengolah bola yang sudah berkembang melalui sepak takraw.
“Kalau kita dipersiapkan lebih panjang, saya rasa potensi Indonesia di teqball sangat besar, karena basic-nya ada di bola dan sepak takraw,” tutup Calvin.
Medali perak Sumaya sekaligus menjadi bukti bahwa perpindahan cabang olahraga dapat membuka jalan baru bagi seorang atlet. Dari sepak takraw hingga akhirnya berdiri di podium Asian Games, perjalanan tersebut kini menjadi bagian dari sejarah awal teqball Indonesia di panggung Asia.
- Penulis: Ruang Wawan

