Tagihan Listrik Peternak Lele Jombang Dipangkas Matahari dari PENS
- account_circle Ruang Wawan
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

PLP PENS melaksanakan Pengabdian Masyarakat di Jombang (Foto: Dok. PLP PENS)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JOMBANG — Tiga tahun lalu, Bahrul Ulum meninggalkan pekerjaannya di pabrik dan memilih beternak lele di Dusun Gabus, Desa Tunggorono, Jombang. Usaha itu berjalan, tapi satu beban selalu menggerogoti keuntungannya, yaitu tagihan listrik.
Pompa sirkulasi air di kolam-kolamnya harus menyala siang dan malam. Air yang terus bergerak adalah syarat hidup bagi ribuan lele di 11 kolam bundar terpal miliknya. Akibatnya, rekening listrik dari PLN selalu di atas Rp 200.000 setiap bulan.
Beban itu berkurang mulai Sabtu (24/10/2026). Tim Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) datang ke Dusun Gabus dan menghibahkan satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid untuk pompa sirkulasi air di lokasi usaha Bahrul Ulum, Ketua Kelompok Barokah Lele.
PLTS Hybrid untuk Pompa Sirkulasi
Unit seharga Rp 15 juta itu berkapasitas 1.200 Watt-peak dengan inverter 2.000 Watt. Sistem ini memadukan panel surya dengan baterai penyimpan daya dan jaringan PLN sebagai cadangan untuk malam hari atau saat terjadi gangguan teknis. Setelah tim memasang dan langsung mengoperasikannya, air tampak mengalir normal ke setiap kolam.
Dengan sistem itu, tim memperkirakan pompa beroperasi otomatis mulai pukul 05.00 sampai pukul 21.00 memakai energi matahari. Tim menaksir penghematan biaya listriknya mencapai 20 sampai 30 persen dibanding pemakaian PLN penuh.
“Pada kelompok ternak lele ini kita bantu satu unit PLTS dengan kapasitas 1.200 WP dan inverter 2.000 Watt,” ujar Ketua PLP Agus Fitriyanto, A.Md., yang memimpin 25 tenaga laboratorium elektro PENS dalam kegiatan tersebut.
Bahrul Ulum menyambut bantuan itu dengan lega. Ia menerima unit tersebut tanpa membayar apa pun dan merasa makin optimistis mengembangkan usahanya. Ia menjual lele yang ia panen setiap tiga bulan sekitar Rp 18.700 per kilogram dalam kondisi segar, dengan keuntungan tiap panen lebih dari Rp 2 juta.
Kelompok Barokah Lele sendiri beranggotakan 10 peternak dengan jumlah kolam yang bervariasi. Para peternak melakukan panen secara bergiliran karena lele di tiap kolam berbeda umurnya, sehingga sirkulasi air yang stabil menjadi kunci agar jadwal panen tidak meleset.
Desa Apresiasi Bantuan PENS
Sekretaris Desa Tunggorono, M Thobib Nur Anas, yang mewakili Kepala Desa Didik Dwi Mulyawan, menerima rombongan PENS bersama anggota kelompok. Pihak desa mengapresiasi bantuan itu karena membuat peternak lebih berdaya dan efisien.
Menurut Thobib, Dusun Gabus memang basis budidaya lele. Desa memfasilitasi peternak pemula, sementara peternak yang sudah berkembang mandiri bekerja sama dengan perusahaan untuk distribusi produksi. Pemerintah desa juga memfasilitasi koordinasi dan pemberdayaan kelompok agar harga jual tetap stabil.
- Penulis: Ruang Wawan
