Breaking News
Minggu, 14 Juni 2026
Trending Tags
Beranda » Terkini » Krisis Pengangguran Indonesia: Mengapa Kita Tertinggal dari Negara ASEAN Lain?

Krisis Pengangguran Indonesia: Mengapa Kita Tertinggal dari Negara ASEAN Lain?

  • account_circle Ruang M Andik
  • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Badai krisis tenaga kerja sedang melanda Indonesia. Data terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mencengangkan: Indonesia resmi menjadi negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di kawasan ASEAN, bahkan melampaui Filipina, Vietnam, dan Thailand. Ivan Lilin Suryono, Peneliti Ahli Muda BRIN, membeberkan bahwa angka pengangguran Indonesia mencapai 4,9% pada 2024, dan diproyeksikan naik menjadi 5,1% di 2025 menurut IMF. Senin, (05/5/2025).

Kondisi ini tentu menjadi tamparan keras bagi pasar kerja Indonesia. Lantas, apa yang membuat negeri ini tertinggal jauh dari negara-negara tetangga?

Penyebab Indonesia Tertinggal dalam Penanganan Pengangguran

Ivan Lilin Suryono menjelaskan bahwa ketimpangan antara kebutuhan industri dan kualitas tenaga kerja menjadi akar masalahnya. Sementara negara-negara ASEAN lain seperti Vietnam dan Thailand telah berhasil menyesuaikan sistem pendidikan dengan tuntutan industri, Indonesia justru terjebak dalam kesenjangan kompetensi.

Sektor industri di Tanah Air berkembang pesat, terutama di bidang teknologi dan manufaktur, tetapi sayangnya kurikulum pendidikan belum sepenuhnya mengejar ketertinggalan ini. Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi maupun sekolah vokasi yang tidak siap menghadapi dunia kerja. Selain itu, minimnya lapangan kerja baru yang tercipta setiap tahun turut memperparah situasi.

Langkah Strategis untuk Menekan Angka Pengangguran

Pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah konkret sebelum krisis ini semakin dalam. Salah satu solusi utama yang diusulkan BRIN adalah peningkatan investasi di sektor padat karya, seperti industri manufaktur dan digital. Dengan begitu, penyerapan tenaga kerja bisa lebih maksimal.

Tak hanya itu, revolusi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi juga menjadi kunci. Pelatihan berbasis kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja harus digalakkan. Generasi muda harus dibekali dengan keterampilan digital, kemampuan analitis, dan kreativitas agar tidak tertinggal.

Yang tak kalah penting, semangat kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini. Daripada hanya berfokus mencari pekerjaan, anak muda Indonesia perlu didorong untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Krisis pengangguran yang melanda Indonesia bukanlah akhir segalanya, melainkan peringatan keras untuk segera berbenah. Dengan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan generasi muda, Indonesia masih bisa bangkit dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara ASEAN lain.

(Sumber)

  • Penulis: Ruang M Andik
expand_less