Ruang.co.id – Kepengurusan Daetah Dewan Masjid Indonesia ( DMI) kota Surabaya, periode 2026-2031 resmi dilantik, minggu malam (19/4). Dalam pelantikan yang digelar di lantaib 3 Masjid Nuruzzaman kompleks Universitas Airlangga Surabaya tersebut berlangsung khidmad dan dihadiri ratusan perwakilan Takmir Masjid di wilayah Surabaya.
Diantara para pengurus yang dilantik terdapat beberap nama pakar yang mengisi keanggotaan. Sebut saja di Dewan Mutasyar, ada nama Prof Dr Muhammad Nasih, mantan rektor Unair yang masih menjadi guru besar di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Kemudian ada nama H Imam Syafi’i SH MH, anggota DPRD Surabaya. Kemudian diantara dewan Pakar ada nama KH Roni Sya’ roni dan pakar Ilmu Politik, Suko Widodo. Disamping itu di badan ekonomi syariah ada nana Prof Imron Mawardi dan beberapa nama besar lainnya dilingkungan akademika dan lembaga pemerintahan maupun lembaga keislaman lainnya.
Para pengurus daerah DMI kota Surabaya yang diketuai Dr H Arif Afandi Msi itu dilantik oleh ketua Pengurus wilayah DMI Jawa Timur Dr KH Sujak M.Ag.
Dalam sambutannya usai pelantikan, ketua PD DMI kota Surabaya, Arif Afandi mengatakan tugas utama Dewan Masjid adalah membina madjid-masjid di Surabaya yang berjumlah lebih dari 1500 masjid agar makmur dan dan berkembang sebagai tempat Ukuwah Islamiyah.
“Dewan Masjid tidak mengurusi masalah ibadahnta. Karena yang mengurusi ibadah sudab ada NU, Muhamadiyah, Al Irsyad, LDII dan lainnya. Namun yang diiurusi Dewan Masjid adalah membina masjid agar mampu mandiri dan halal sebagai tempat ibadah baik dalam bidang pengelolaan ekonomi syariahnya maupun legalitas kehalalannya sebagai tempat ibadah,” ujar Arif dalam salah satu kata sambutannya.

Sementara itu, ketua PW DMI Jatim, KH Sujak M.Ag dalam sambutannya mengatakan, Dewan Masjid Indonesia mempunyai beberapa program yang dicanangkan DMI pusat. Diharapkan program- program tersebut bisa dijalankan juga oleh DMI di daerah-daerah. Salah satunya adalah pendampingan takmir untuk memberikan pelatihan kepengurusan masjid dan mendampingi para takmir untuk memperjuangkan legalitas kehalalan masjid.
“Dari sekitar 52 ribu tujuratus labih masjid di Jawa Timur ada sekitar ratusan masjid yang bermasalah denfan urusan legalitas tanah wakafnya. Untuk itulah salah satu peran dewan masjid untuk membantu agar masjid mendapatkan surat legalitasnya sehingga halal dan bisa digunakan untuk ibadah tanpa ada permasalahan lain yang membayanginya,” kata Sujak dalam sambutannya.
Sementara itu, Prof Muhammad Nasih yang memberikan kata ssmbutan sebaga ketu Takmir Masjid Nuruzzaman yang ditempati pelantikan mengucapkan selamat bekerja kepada pengurus DMI menghadapi tantangan ke depan yang cukup berat salam hal membina madjid-masjid di Surabaya.
Sebelum acara pelantikan ditutup, para hadirin dan undangan yang hadir dalam acara ini diperdengarkan dengan tauziah yang menghadirkan tokoh Nasional dan Jawa Timur, Prof M Nuh, wak ketua PW Muhamadiyah Jawa Timur, Prof Dr Thohir Luth MA dan KATIB Aam PBNU, KH Ahmad Said Asrori.
Dalam tauziahnya, M Nuh menitik beratkan pada perlunya belajar dan berfikir sebagai manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT tanpa memandang gelar yang dimiliki. Sehingga meskipun seorangbitu bergelar profesor tidak perlu malu atau gengsi belajar pada orang dibawahnya jika memang hal itu diperlukan. Sehingga di dalam diri tidak ada kesombongan sehingga bisa meningkatkan ketakwaan. Hal ini karena otak manusia tidak bisa berfikir terus selana 24 jam.
“Jangan mentang-mentang profesor tidak mau mendengarkan nasehat dari orang dibawahnya. Jika demikian. Maka habislah orang tersebut. Karena saat ini otak kita dalam menampung informasi terbatas. Tidak seperti teknologi IA yang sebenarnya hanya mesin. Hal ini karena manusia tidak bisa 24 jam terus menerus berfikir. Mesti ada jeda untuk istirahat arau tidur. Sedangkan IA dalam terus menerus menerima infotmasi tanpa tidur bahkan dalam 7 kali 24 jam.” Tandas mantan Mendiknas RI era presiden SBY itu dalam tauziahnya.
Sementara itu, Prof Thohir dalam tauziahnya menyebutkan bahwa pengurus DMI sebenarnya adalah orang- orang yang termasuk berjihad di jalan Allah. Karena itu tugas mulia untuk menjalankan amanah membina masjid hendaknya dijalankan dengan hati yang tulus ikhlas. Karena dengan berjihad ini ajan menaikan derajat dan taqwa dimata Allah.
“Saya berharap agar pengurus DMI bisa menjalankan organisasi secara baik. Tidak hanya sekali dilantik kemudian selesai tidak melakukan apa- apa. Tapi lakukanlah pertemuan rutin sebulan sekali atau dua kali sebagai sarana pertemuan dan alih informasi antar pengurus,” tutur Prof Thohir.
Tauziah terakhir sekaligus penutup doa dilakukan KH Ahmaf Said Asrori. Sebagai ulsma dari khalangan Nahdliyin (ulama NU) KH Asrori mengatan bahwa dalam mengemban tugasnya, pengurus DMI harus bisa menjadi tauladan dalam sikapnya dan prilakunya dalam mengemban amanah. Paling tidak pengurus DMI harus tahu masjid dan sering beribadah di Masjid. Sehingga tahu permasalah ysng ada di Masjid.
“Saya tekankan disini bahwa para pengurus DMI ini benar- bebar orang yang tahu masjid. Jangan sampai ada pengurus DMI tapi tidak pernah sholat berjamaah di masjid. Ini kan sangat kontradiktif dengan program-program DMI yang bertujuan untk mrmskmurkan masjid,” tegas KH Asrori dalam tauziahnya. Sembari menutup tauziahnya, KH membacajan doa penutup yang sekaligus mengakhiri acara pelantikan DMI kita Surabaya.

