Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026
Trending Tags
Beranda » Terkini » Fakta Lapangan Mulai Terlihat, Atlas Padel Pasang Peredam dan Warga Tetap Nyaman

Fakta Lapangan Mulai Terlihat, Atlas Padel Pasang Peredam dan Warga Tetap Nyaman

  • account_circle Mascim
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Fakta di lapangan perlahan mulai memperlihatkan gambaran yang lebih utuh dari polemik dugaan kebisingan di Atlas Sports Club, Jalan Dharmahusada Indah Barat III. Manajemen Atlas Padel telah memasang sistem peredam suara, sementara mayoritas warga sekitar menyatakan tetap merasa nyaman beraktivitas seperti biasa.

Hal ini mengemuka dalam proses mediasi yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya bersama Satpol PP, pihak Atlas, dan perwakilan warga. Dalam forum tersebut, pengelola menegaskan komitmennya untuk segera memasang peredam sebagai bentuk tanggung jawab, meski hasil pengukuran resmi tingkat kebisingan belum dikeluarkan.

Ketua RT 05 Dharmahusada Regency, Amanto Prayudisiono, mengonfirmasi bahwa hanya satu rumah yang posisinya berdempetan langsung dengan lapangan yang merasakan dampak secara langsung. “Yang terdampak itu sebenarnya hanya satu rumah yang berdempetan langsung dengan lapangan. Rumah-rumah lain sudah terpisah oleh jalan dan jarak,” ujarnya, pada Senin (8/6/2026).

Amanto juga mengapresiasi respons pengelola yang dinilainya sigap dan terbuka. “Atlas sudah merespons dengan baik. Mereka minta waktu untuk memasang peredam. Tapi sebelum tenggat waktu yang diminta selesai, keluhan kembali dimunculkan dan persoalan ini sudah bergulir ke berbagai pihak,” jelasnya.

Atlas Sports Club

Alat pengukur kebisingan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya saat melakukan pengecekan pengukuran tingkat kebisingan. (Ist)

Untuk memperoleh data objektif, DLH berencana mengukur tingkat kebisingan di dua titik. Namun, rencana pemasangan alat di dalam rumah warga yang mengajukan komplain justru tidak mendapat izin. “Informasi yang saya terima dari DLH, pemasangan di dalam rumah tidak diizinkan sehingga akhirnya dilakukan di luar rumah,” ungkap Amanto.

Warga lain berinisial NG, yang rumahnya tepat berhadapan dengan lapangan, turut memberikan kesaksiannya. “Saya jawab ini tidak berpihak ke siapa-siapa. Kalau di ruang tamu memang masih terdengar suara aktivitas padel. Tapi kalau di kamar yang berada di bagian belakang rumah, saya tidak mendengar apa-apa,” tuturnya.

NG menilai pemasangan peredam merupakan langkah yang realistis untuk meredakan persoalan. “Kalau menghilangkan suara total tentu sulit, karena ini aktivitas olahraga. Tapi kalau dikurangi sampai batas yang bisa ditoleransi, saya rasa itu sudah langkah yang baik,” imbuhnya.

Ia berharap ada jalan tengah yang bisa ditemukan tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan. Harapan tersebut sejalan dengan minimnya respons warga terhadap petisi penolakan yang sempat beredar di grup percakapan. Informasi yang dihimpun menyebutkan ajakan tersebut tidak menuai dukungan signifikan dari mayoritas anggota grup.

Saat ini, semua pihak menanti hasil pengukuran resmi DLH sebagai dasar objektif untuk menuntaskan persoalan. Pemasangan peredam oleh Atlas menjadi langkah nyata yang memperlihatkan itikad baik agar kenyamanan warga dan keberlangsungan aktivitas olahraga dapat berjalan selaras.

  • Penulis: Mascim
expand_less