Breaking News
light_mode
Minggu, 28 Juni 2026

Pesona Wisata Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Laboratorium Ekosistem Dunia  

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Surabaya, Ruang.co.id – Keberadaan satwa liar seperti burung, kupu-kupu, kucing bakau, hingga kepiting pemanjat pohon, menjadi bukti ekosistem Kebun Raya Mangrove Surabaya masih terjaga baik.

Kepala UPT Kebun Raya Mangrove Surabaya, Dian Prasetyaningtyas, menegaskan kawasan ini memiliki 74 spesies mangrove dari total 245 spesies mangrove Indonesia.

“Kurang lebih hampir 30 persen, dan relatif memang untuk jenis spesiesnya paling banyak di antara area mangrove lain,” ujar Dian, Jumat (26/6/2026).

Dian menjelaskan, Kebun Raya Mangrove Surabaya, merupakan satu-satunya kebun raya bertema mangrove di Indonesia, berbeda dengan kawasan lain yang masih berstatus hutan mangrove.

“Kalau yang lain-lain di Indonesia kita ada 48 kebun raya, tetapi sifatnya tidak tematik. Untuk mangrove itu Surabaya satu-satunya,” katanya.

Menurut Dian, bergabungnya UPTD Kebun Raya Mangrove dengan BRIDA Surabaya, memperkuat pengembangan kawasan, sebagai pusat riset mangrove berkelas dunia, dengan target koleksi 245 spesies.

“Targetnya menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium mangrove dunia. Harapannya seluruh spesies mangrove Indonesia bisa dimiliki,” ujarnya penuh optimisme.

Selain vegetasi, kawasan ini juga menjadi habitat 35 jenis burung yang singgah maupun menetap, menambah daya tarik wisata ekologi Surabaya timur.

“Burung itu kita ada kurang lebih sekitar 35 jenis, baik singgah ataupun hidup di area Kebun Raya Mangrove Surabaya,” papar Dian menjelaskan.

Tak hanya burung, kupu-kupu dan kucing bakau juga ditemukan. Penelitian dosen Unesa membuktikan keberadaan kucing bakau sebagai indikator ekosistem mangrove terjaga.

“Tidak banyak tempat ditemukan kucing bakau. Itu menunjukkan ekosistemnya terjaga dengan baik dengan adanya keberadaan kucing bakau itu sendiri,” sebut Dian.

Kawasan ini juga menjadi habitat kepiting pemanjat pohon beracun, serta biawak. Meski vegetasi rapat mengurangi abrasi, sampah kiriman sungai masih menjadi tantangan.

“Surabaya berada di wilayah hilir, sehingga pasti mendapat kiriman sampah dari berbagai daerah. Sampah menyangkut di akar mangrove bisa mengganggu pertumbuhan,” pungkasnya.

  • Penulis: Ruang Nurudin
expand_less