Breaking News
light_mode
Rabu, 8 Juli 2026

Pelaku Grafika Nasional Bertransformasi Digital di Surabaya Printing Expo 2026

  • account_circle Mascim
  • calendar_month 46 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ruang.co.id – Pameran teknologi percetakan terbesar di kawasan Indonesia Timur, Surabaya Printing Expo (SPE) 2026, secara resmi dibuka di Grand City Convex pada Rabu (8/7/2026). Memasuki edisi ke-19, pameran ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri grafika untuk memamerkan inovasi mesin terkini serta mendorong kolaborasi di tengah derasnya arus transformasi digital.

Pembukaan pameran ini dihadiri langsung oleh jajaran pemangku kepentingan nasional dan daerah. Tampak hadir Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi RI, Dr. Ir. Herbert Johan Siagian, M.Sc., Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, serta CEO Krista Exhibitions, Daud Dharma Salim.

Dalam sambutannya, Daud Dharma Salim menegaskan bahwa SPE telah menjadi barometer pertumbuhan teknologi percetakan di wilayah timur. Menurutnya, pameran ini bukan sekadar ajang transaksi mesin, melainkan cerminan vitalnya kebutuhan sektor pendukung. “Surabaya memiliki ekosistem industri yang sangat kuat, mulai dari makanan dan minuman, kemasan, kosmetik, farmasi, hingga ekonomi kreatif. Seluruh sektor tersebut membutuhkan dukungan teknologi percetakan yang semakin modern, efisien, dan berkualitas,” tegas Daud.

Tahun ini, SPE diikuti oleh sekitar 150 perusahaan, termasuk di dalamnya 10 pelaku UMKM binaan, dengan target kunjungan menembus angka 15.000 orang. Selain menampilkan mesin cetak digital dan konvensional, perhelatan ini juga memfasilitasi kebutuhan non-teknis seperti branding, kemasan produk, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi industri kreatif.

Ketua DPD PPGI Jawa Timur, Iwan Dhamar Suprihartono, meluruskan persepsi publik yang menganggap industri cetak konvensional telah redup. Ia menekankan bahwa industri ini justru tengah berevolusi ke arah yang lebih cerdas. “Kalau dulu identik dengan mesin cetak konvensional, sekarang industri grafika berkembang menuju teknologi digital yang lebih cerdas dan efisien. Pameran ini menjadi bukti bahwa industri grafika terus berinovasi dan tetap memiliki prospek yang besar,” papar Iwan.

Senada dengan hal itu, Ketua Umum PPGI, Ahmad Mughira Nurhani, menyoroti potensi besar yang belum tergarap maksimal. Ia menyebut momen ini sebagai titik krusial bagi pelaku usaha kecil untuk melakukan diversifikasi. “Bagi pelaku UMKM grafika, ini saat yang tepat untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi, melakukan diversifikasi produk, serta memanfaatkan teknologi otomatisasi dan smart packaging,” ujar Ahmad.

Sementara itu, mewakili Gubernur Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin mengungkapkan data empiris yang memperkuat posisi strategis industri ini. Ia menyebut Nilai PDRB industri percetakan Jatim pada 2025 menyentuh Rp27,64 triliun dengan pertumbuhan kumulatif di atas 11 persen dalam tiga tahun terakhir. Sherlita pun mendorong agar pameran ini tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membuka akses pendidikan vokasi. “Kami berharap perusahaan yang tergabung dalam SPE dapat membuka lebih banyak kesempatan magang bagi siswa SMK maupun mahasiswa agar mereka memperoleh pengalaman langsung menggunakan teknologi industri terbaru,” tandasnya.

  • Penulis: Mascim
expand_less