Breaking News
light_mode
Selasa, 7 Juli 2026

Unusa Buka Program Dokter Spesialis Paru dan Obstetri-Ginekologi

  • account_circle Mascim
  • calendar_month 9 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Obstetri dan Ginekologi (Obgyn). Sepuluh dokter telah diterima sebagai mahasiswa angkatan pertama. Selasa, (07/7/2026).

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menyampaikan bahwa pembukaan dua program spesialis ini merupakan amanah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Kementerian Kesehatan. Kepercayaan itu diberikan karena Fakultas Kedokteran Unusa telah memperoleh akreditasi Unggul.

“Kepercayaan untuk menyelenggarakan PPDS merupakan amanah yang harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Kami berkewajiban menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang berkualitas sekaligus berkontribusi menjawab kebutuhan nasional akan dokter spesialis,” ujarnya di Surabaya.

Pembukaan program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat pemenuhan dan pemerataan tenaga dokter spesialis di Indonesia. Seluruh mahasiswa angkatan pertama telah menandatangani surat pernyataan untuk kembali mengabdi di instansi atau daerah asal setelah menyelesaikan masa pendidikan.

Terkait maraknya kasus perundungan di lingkungan pendidikan dokter spesialis, Prof. Tri Yogi menegaskan komitmen Unusa untuk menolak keras segala bentuk kekerasan. Ia memastikan pihaknya telah memiliki Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) yang selalu siaga.

“Saya tidak akan mentoleransi segala tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan Unusa. Sekarang kita juga sudah punya satgas PPKPT yang siaga,” tegasnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Budi Santoso, menjelaskan bahwa para mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk dari wilayah kepulauan. Kehadiran peserta dari Masalembu menjadi gambaran nyata bahwa kebutuhan dokter spesialis di daerah masih sangat tinggi.

“Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kebutuhan dokter spesialis memang sangat besar. Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali membawa kompetensi terbaik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” jelasnya.

Kedua program studi baru ini didukung oleh rumah sakit pendidikan serta tenaga pengajar klinis yang berpengalaman. Kurikulum disusun untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam kompetensi klinis, penelitian, dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.

Penerimaan angkatan pertama ini menjadi tonggak penting bagi Fakultas Kedokteran Unusa dalam memperluas akses pendidikan dokter spesialis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 32.000 dokter spesialis per tahun, sementara kapasitas produksi nasional baru mencapai 2.700 dokter spesialis per tahun. Kesenjangan inilah yang coba dijawab Unusa melalui kontribusi nyata di bidang pendidikan kedokteran.

  • Penulis: Mascim
expand_less