Breaking News
light_mode
Minggu, 12 Juli 2026

Lokasi Mesum Liar di Sidoarjo Mendadak Sepi, Razia Bocor Lagi Wabup Mimik Kecewa 

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month 35 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sidoarjo, Ruang.co.id – Sabtu Malam (11/7/2026), suasana di kawasan Krembung dan Krengseng, Kecamatan Krian, mendadak lengang. Razia gabungan yang dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo,Mimik Idayana, S.A.P., untuk kali keduanya kembali bocor.

Di lokasi penggrebekan, Wabup Mimik kecewa berat dan merasa dipermainkan oleh oknum – oknum yang membocorkannya.

Bisa jadi dari kalangan internal jajaran Forkompinda maupun Forkompimka terkait, bisa juga dari kalangan oknum LSM, ormas, maupun oknum yang mengaku profesi wartawan.

“Lho kok tutup kenapa bu?” tanya Mimik kepada seorang pemilik warung kopi. Jawaban polos sang ibu membuatnya terdiam. “Iya Bu, dengar ada razia, jadi tutup,” ujarnya.

Kekecewaan Mimik terlihat jelas. “Pantas saja kalau razia sering bocor. Personelnya terlalu banyak, informasi mudah keluar,” katanya dengan nada getir.

Meski nihil temuan razia, Mimik tetap tegas dan tak putus asa. Ia memerintahkan Satpol PP membongkar bangunan liar, yang digunakan sebagai tempat prostitusi.

“Bongkar dan bakar bangunan mesum ini,” perintahnya. Kemudian Kepala Satpol PP Yany Setiawan menegaskan, “Pemilik diberi waktu sampai 18 Juli. Jika tidak, kita bongkar paksa.”

Razia berlanjut ke Desa Lebo. Di sana, Mimik hanya mendapati barang bukti tidak lebih dari 10 gelintir botol miras, warkop menjual miras tanpa izin.

“Ini tidak dibenarkan. Ada izinnya (dagang miras) tidak?” tanyanya. Pemilik hanya menunjukkan izin warkop, bukan miras.

Kepala Desa Lebo, Nur Kusnan, yang mendampingi razia tersebut berjanji memperketat pengawasan. “Kami akan larang penjualan miras ilegal,” katanya.

Meski terlambat merespons, keseriusan berantas perdagangan miras Ilegal dan prostitusi Liar, mulai ditunjukkan kades dengan ucapannya.

Mimik menilai lemahnya pengawasan, membuat praktik prostitusi dan miras terus berulang. “Sidoarjo harus bersih, nyaman, dan asri. Razia tidak boleh berhenti,” tegasnya.

Warga yang turut menyaksikan berharap, kawasan remang dengan aktivitas luar dan negatif segera ditertibkan.

“Kami ingin lingkungan aman, supayabanak-anak tidak terpengaruh dan terjerumus,” ujar seorang warga Lebo.

Operasi yang sudah kali keduanya digelar ini, menjadi potret rapuhnya sistem penegakan hukum di tingkat desa maupun sektoral.

Menandakan pula, jejaring untuk meraup pundi – pundi rupiah dari aktivitas semacam itu, masih cukup solid, rapi dan kuat.

Bocornya razia bukan hanya masalah teknis, melainkan cermin lemahnya koordinasi dan akurasi aparat Ssebelum menindak.

  • Penulis: Ruang Nurudin
expand_less