Potret Tak Lekang Waktu ala Mendur Bersaudara, “Mata” yang Mengabadikan Detik-Detik Indonesia Merdeka
- account_circle Ruang M Andik
- calendar_month 39 menit yang lalu
- print Cetak

Frans dan Alex Mendur, fotografer yang mengabadikan momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Foto @FB_Pierre Mendur
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Di balik setiap momen bersejarah, selalu ada sosok yang bekerja dalam diam memastikan peristiwa itu tidak lekang oleh waktu. Dalam konteks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sosok tersebut adalah Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur. Dua bersaudara asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, inilah yang menjadi “mata” bangsa, mengabadikan detik-detik paling krusial lahirnya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tanpa keberanian mereka, bisa jadi generasi modern hanya bisa membayangkan seperti apa Soekarno membacakan teks proklamasi. Sabtu, (08/8/2026).
Keduanya bukan sekadar fotografer amatir. Alex, sang kakak kelahiran 1913, telah lebih dulu berkecimpung di dunia jurnalistik sebagai wartawan foto untuk koran berbahasa Belanda, Java Bode. Keahliannya ini kemudian menular kepada Frans, yang lahir pada 1916, dan memutuskan mengikuti jejak sang kakak menjadi wartawan foto pada tahun 1935. Pagi itu, informasi mengenai sebuah “kejadian penting” di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, sampai ke telinga mereka. Dengan hanya bermodalkan kamera Leica dan insting jurnalistik yang tajam, Alex yang saat itu bekerja untuk Kantor Berita Domei, bersama Frans, bergegas menuju lokasi.
Risiko yang mereka hadapi tidaklah ringan. Tentara Jepang masih berjaga ketat dan jelas tidak menginginkan momen tersebut tersebar luas. Dalam situasi serba terbatas, Frans hanya memiliki tiga lembar pelat film untuk mengabadikan peristiwa sakral tersebut. Salah satu jepretan ikoniknya adalah saat Soekarno membacakan teks Proklamasi. Suasana upacara yang berlangsung sederhana dan tanpa protokol itu justru menambah ketegangan.
Namun, drama sesungguhnya terjadi setelah upacara selesai. Alex sempat ditangkap oleh tentara Jepang dan sebagian hasil dokumentasinya disita serta dimusnahkan. Beruntung, Frans berhasil menyelamatkan negatif foto yang ia sembunyikan. Tindakan nekat dan cerdik inilah yang menjadi kunci selamatnya bukti visual kemerdekaan Indonesia. “Kami sadar ini adalah momen yang tidak akan terulang. Saya harus memastikan bukti ini selamat agar dunia tahu Indonesia sudah merdeka,” demikian kira-kira semangat yang dipegang Frans, seperti tercermin dalam catatan sejarah Arsip Nasional Republik Indonesia.
Perjuangan Mendur bersaudara tidak berhenti pada aksi penyelamatan negatif film. Mereka memahami bahwa perjuangan bangsa memerlukan dokumentasi yang terorganisir. Untuk itu, pada 2 Oktober 1946, bersama sejumlah rekannya seperti Justus Umbas, Frank Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda, mereka mendirikan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS). Pendirian lembaga ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian pewarta foto pribumi dalam merekam perjalanan bangsa. “IPPHOS lahir dari kebutuhan untuk punya suara sendiri dalam mendokumentasikan Indonesia, bukan lagi dari sudut pandang penjajah,” menjadi esensi perjuangan lanjutan mereka.
Kini, puluhan tahun berlalu, potret-potret hitam putih karya Mendur bersaudara tetap terpajang gagah, menjadi penghubung emosional antara generasi masa kini dengan momen paling bersejarah di negeri ini. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya direbut dengan bambu runcing dan diplomasi, tetapi juga dengan jepretan kamera dan nyali untuk menyelamatkan kebenaran.
- Penulis: Ruang M Andik
