Muktamar NU ke-35 Pilih AHWA, Gus Kikin Terkuat dan Semangat Qanun Asasi Menguat
- account_circle Mascim
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

Keputusan Muktamar NU ke-35 memilih AHWA menempatkan Gus Kikin sebagai kandidat terkuat Ketua Umum PBNU sekaligus menghidupkan semangat Qanun Asasi. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama secara resmi mengubah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Para muktamirin memilih sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dengan perolehan 401 suara, mengungguli usulan pemilihan langsung yang hanya mendapat 150 suara. Minggu, (30/8/2026).
Keputusan ini diikuti dengan disepakatinya Pasal 7 Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam. Aturan tersebut memuat syarat iddah politik satu tahun dari partai politik. Imbasnya, sejumlah calon yang masih terafiliasi partai praktis tidak memenuhi syarat untuk maju.
Langkah ini sejalan dengan aspirasi mayoritas warga NU. Survei Parameter Politik Indonesia yang digelar 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi mencatat 65,8 persen warga NU setuju organisasi menjauh dari politik elektoral. Sebanyak 76,1 persen responden berharap PBNU fokus mengurus umat dan agama.
Penjaringan calon AHWA saat ini masih berlangsung. Lebih dari 21 nama kiai dan ulama tengah dihitung suaranya. Meski demikian, peta bursa calon ketua umum mulai mengerucut pada dua nama, yaitu Gus Kikin dan Gus Yahya. Lima calon lain disebut sepakat agar pemilihan dilakukan melalui mekanisme AHWA.
Dukungan terhadap Gus Kikin mengalir dari tuan rumah Muktamar. Ketua PCNU Kabupaten Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, menilai Gus Kikin sebagai sosok ideal untuk memimpin PBNU. “Gus Kikin ini zuriah muassis, cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Darahnya sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga pengusaha, sudah mentas dengan dirinya, insyaallah enggak golek urip nang NU, bisa nguripi,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama memimpin PWNU Jawa Timur, Gus Kikin dikenal teduh dan tidak pernah bermasalah dengan organisasi. “PWNU Jawa Timur resmi mengusung beliau dengan amanah 45 PCNU se-Jawa Timur. Maka PCNU Jombang sami’na wa atho’na, kami sepakat mengusung beliau,” lanjutnya.
Penilaian senada datang dari Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir. Ia menyebut Gus Kikin sebagai sosok yang teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah.
Menguatnya figur berlatar belakang wirausaha dalam bursa calon bukan hal baru dalam sejarah NU. KH Hasan Gipo, saudagar asal Surabaya, tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pertama. Gus Fahmi bahkan sejak April lalu telah menyampaikan bahwa calon ketua umum tidak harus dari kalangan kiai. Ia menyoroti sosok Hasan Gipo dan berharap ketua umum NU bisa lahir dari kalangan pengusaha.
Warna manajerial dan kewirausahaan ini sejalan dengan gagasan ekonomi yang ditawarkan Gus Kikin. Ia mendorong konsolidasi ekonomi warga NU, mulai dari kekuatan pasar nahdliyin hingga pengembangan ekonomi digital. UMKM dinilainya bukan sekadar usaha, melainkan perjuangan hidup warga. Ini menjadi peluang NU untuk menginventarisasi aset, mengoptimalkan potensi, dan mendigitalisasi organisasi, sebagaimana semangat Qanun Asasi yang dihidupkan kembali.
Gus Kikin sendiri selama ini menegaskan bahwa pencalonannya adalah amanah, bukan niat pribadi. “Bila memang ditugaskan, insyaallah saya siap,” ucapnya. Terbaru, ia menyampaikan optimismenya seraya menyerukan agar NU tetap rukun.
Kedaulatan keputusan tetap berada di tangan muktamirin dan para ulama yang duduk dalam AHWA. Sebagaimana dawuh Gus Sholah yang diingat Gus Fahmi, jangan biarkan air mata muassis menetes karena ulah kita. Wallahu a’lam bish showab.
- Penulis: Mascim

