Haornas 2026 di Jatim Jadi Momentum Benahi Ekosistem Olahraga Inklusif
- account_circle Mascim
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Legislator DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso mendorong Haornas 2026 perkuat ekosistem olahraga inklusif. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Poin Berita:
- Haornas 2026 di Jawa Timur harus menjadi titik balik pembenahan ekosistem olahraga, bukan sekadar seremonial.
- Anggota DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso dari Komisi E menekankan olahraga inklusif dan dukungan lintas sektor.
- Komisi E DPRD Jatim sedang membahas Raperda Kepemudaan dan Keolahragaan untuk memberi payung hukum dan ruang inovasi olahraga.
Ruang.co.id – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di Jawa Timur harus menjadi titik balik pembenahan ekosistem olahraga, bukan sekadar upacara seremonial. Anggota DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso menegaskan hal itu di Surabaya, Minggu, (23/9).
Politikus Komisi E DPRD Jatim tersebut menilai pembinaan olahraga selama ini terlalu berorientasi pada prestasi, seperti PON. Padahal, gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat perlu terus digenjot. Ia juga mengapresiasi komitmen Pemprov Jatim, Dispora, KONI, dan seluruh insan olahraga.
“Haornas 2026 tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar menjadi penggerak nyata sebagai inspirasi penguatan kualitas ekosistem olahraga kita,” kata Cahyo.
Menurutnya, olahraga bukan hanya soal medali. Olahraga adalah sarana pembangunan karakter masyarakat. Nilai sportivitas, kegigihan, tenggang rasa, dan gotong royong penting untuk membentuk masyarakat yang sehat jasmani sekaligus berkarakter positif. Karena itu, ia menekankan pentingnya olahraga inklusif dengan memberi ruang bagi penyandang disabilitas.
“Olahraga ini tidak hanya sekadar mencari prestasi saja, tetapi juga merupakan sarana pembangunan karakter masyarakat kita,” ujarnya.
Cahyo menjelaskan, dukungan dunia usaha, baik BUMN, BUMD, maupun swasta, turut menentukan. Bantuan tidak hanya berupa logistik dan pembiayaan, tetapi juga penerapan profesionalitas dalam pengelolaan organisasi serta klub olahraga. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pembinaan tidak berjalan di tempat.
“Kami Komisi E siap mendukung baik dari sisi anggaran, kebijakan, maupun regulasi melalui Raperda Kepemudaan dan Keolahragaan, yang saat ini dibahas Komisi E,” katanya.
Cahyo berharap regulasi tersebut memberikan payung hukum dan ruang inovasi bagi insan olahraga Jatim. Momentum Haornas 2026 harus dipakai untuk mengevaluasi pembinaan, memperluas akses fasilitas, dan mendorong partisipasi masyarakat. Dengan begitu, ekosistem olahraga di Jawa Timur dapat berkembang secara inklusif, kolaboratif, berjenjang, dan berkelanjutan.
- Penulis: Mascim

