Sering Ngiler dan Ngorok saat Tidur Malam? Ini Tipsnya
- account_circle Ruang Ilham
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Mengorok dan ngiler saat tidur malam sering dianggap sepele, namun bisa jadi indikasi masalah kesehatan serius. Ilustrasi foto by AI ChatGPT
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Kebiasaan mengeluarkan air liur (ngiler) dan mendengkur (ngorok) saat tidur malam merupakan fenomena umum yang kerap diabaikan. Praktisi kesehatan mengingatkan bahwa kedua kondisi ini, meski tampak sepele, dapat menjadi penanda awal masalah kesehatan yang lebih serius jika terjadi secara intens dan mengganggu kualitas istirahat.
Direktur Medis dari Yale Centers for Sleep Medicine, Dr. Christine Won, menjelaskan bahwa posisi tidur memegang peranan krusial dalam memicu kedua kondisi tersebut. Tidur telentang, menurutnya, justru menjadi posisi terbaik untuk meminimalisir air liur yang menetes.
“Jika Anda cenderung berguling-guling dan kesulitan tidur telentang, meletakkan bantal di sekitar tubuh Anda dapat berfungsi seperti penahan, menjaga posisi Anda tetap stabil,” ujar Dr. Won.
Lebih lanjut, ia menyoroti keterkaitan antara hidung tersumbat dan kebiasaan bernapas lewat mulut sebagai penyebab utama ngiler. Mengatasi sumbatan, baik karena alergi maupun pilek, dinilai efektif mengurangi produksi air liur berlebih di malam hari. Penggunaan plester hidung direkomendasikan untuk melegakan pernapasan, namun para ahli secara tegas menyarankan untuk menghindari plester mulut karena berpotensi mempersulit pernapasan.
Senada dengan hal itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Pennsylvania, Dr. Mark Wolff, menambahkan bahwa faktor diet turut berpengaruh. Ia menganjurkan untuk menghindari konsumsi makanan dan minuman asam atau manis menjelang waktu tidur.
“Refluks asam dapat memiliki efek serupa, jadi hindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur dan jauhi makanan pedas atau berlemak. Jika Anda menggunakan Invisalign, retainer, atau alat gigi lainnya di malam hari, cobalah untuk tidak menggerakkan gigi Anda, karena rangsangan mekanis semacam itu juga meningkatkan produksi air liur,” papar Dr. Wolff.
Menyikapi potensi bahaya di balik dengkuran, para ahli menegaskan bahwa ngorok bukan sekadar gangguan kenyamanan. Kondisi yang dikenal secara medis sebagai snoring ini bisa menjadi gejala utama Obstructive Sleep Apnea (OSA), yaitu henti napas saat tidur. Pada kondisi OSA, saluran napas tidak hanya menyempit tetapi terhenti sementara, menyebabkan kadar oksigen darah menurun dan memaksa tubuh terbangun berulang kali tanpa disadari.
- Penulis: Ruang Ilham

