Demensia Kini Mengintai di Usia 50 Tahun, Kemenkes Soroti Data CKG

demensia di usia 50 tahun
Kemenkes menyoroti data CKG yang menunjukkan demensia kini mengintai di usia 50 tahun. Sebanyak 36 persen lansia terindikasi gangguan kognitif, setara 2 juta orang. (Foto: Freepik)
Ruang Ilham
Ruang Ilham
Print PDF

Ruang.co.id – Kementerian Kesehatan menyoroti pergeseran usia penderita demensia yang kini mulai mengintai kelompok usia produktif. Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis terhadap 7 juta lansia, sebanyak 36 persen di antaranya terindikasi mengalami gangguan fungsi kognitif.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa temuan tersebut setara dengan sekitar 2 juta lansia. Angka ini dinilai sebagai peringatan serius yang menuntut perhatian seluruh pihak.

“Dari CKG, kita memeriksa 7 juta lansia, ditemukan 36 persen lansia ada indikasi gangguan kognitif, artinya salah satunya dimensia yang cukup besar. Kalau 36 persen dari 7 juta berarti 2 jutaan,” ujar dr. Imran di Surabaya, Selasa (26/5/2026).

Demensia merupakan gangguan kesehatan yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir logis, serta fungsi kognitif lainnya. Jenis yang paling umum ditemukan adalah penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.

Kekhawatiran semakin bertambah lantaran gejala demensia kini tidak lagi eksklusif pada kelompok lanjut usia di atas 65 tahun. Dokter spesialis saraf menemukan kasus pada pasien berusia 50 hingga 60 tahun. Gejala awal seperti sering lupa bahkan sudah bisa dirasakan sejak usia 40 tahun.

“Saya diskusi dengan dokter spesialis saraf, orang dimensia umurnya semakin muda. Kalau dulu 65 atau 70 tahun, tapi sekarang muda, 50 atau 60 tahun mulai dimensia. Itu alarm yang perlu perhatian kita,” tegasnya.

Kendati demikian, dr. Imran menegaskan bahwa demensia dapat dicegah. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki selama 20 menit setiap hari mampu menurunkan risiko hingga 40 persen. Ia juga menekankan pentingnya kualitas tidur sebagai mekanisme pembersihan alami otak.

“Dimensia terjadi karena ada penumpukan sampah di otak. Dengan tidur yang cukup, kita dapat membersihkan sampah itu. Kalau waktu tidur pendek, pembersihannya tidak tuntas total,” terangnya.

Baca Juga  Update Terbaru Besaran Iuran BPJS Kesehatan 2025 Apa yang Perlu Diketahui Masyarakat?

Konsumsi sayuran daun hijau, pengelolaan stres, serta menjaga tekanan darah dan kadar gula dalam batas normal juga menjadi langkah pencegahan yang direkomendasikan.

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak, Depok, dr. Riwanti Yuliami, menjelaskan bahwa demensia Parkinson sangat dipengaruhi oleh penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes, sehingga masih dapat dicegah melalui gaya hidup sehat. Sementara itu, Alzheimer lebih banyak dipicu oleh faktor penuaan yang tidak terhindarkan.

Ia pun meluruskan anggapan masyarakat yang kerap menyepelekan kondisi ini. “Dimensia itu istilah medis. Kalau orang awam bilang itu pikun biasa atau pikun hal wajar, itu harus diluruskan. Ini adalah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” pungkas dr. Riwanti.

Langkah pencegahan lain yang direkomendasikan para ahli meliputi berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta rutin melatih otak melalui aktivitas seperti membaca, bermain catur, dan menjaga interaksi sosial. Kementerian Kesehatan berkomitmen memperkuat deteksi dini melalui program CKG agar semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan terlindungi dari ancaman demensia. (Sumber)