Jatim Darurat HIV/AIDS, Sidoarjo Episentrum Ancaman Baru Anak-anak dan Catin Positif
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 33
- print Cetak

Kasus HIV Sidoarjo menembus 7.377 penderita. Anak-anak dan calon pengantin positif terdeteksi, memicu kekhawatiran serius masyarakat luas. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Di balik laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak, Sidoarjo menyimpan persoalan kesehatan yang kian mengkhawatirkan.
HIV/AIDS berkembang, menjadi anggapan ancaman serius, yang tidak lagi bisa dipandang sebagai masalah kelompok tertentu.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo per April 2026 mencatat, jumlah kasus HIV kumulatif mencapai 7.129. Angka tersebut, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah penanganan HIV di Kabupaten Sidoarjo, dan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
Hanya dalam beberapa bulan, jumlah kasus melonjak dari 6.198 pada Desember 2025 menjadi 7.129 kasus. Itu terungkap dalam dengar pendapat (hearing) Komisi D DPRD Sidoarjo.
Hearing itu, dihadiri pejabat Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Sidoarjo, dan pengurus Paguyuban Remaja Peduli HIV-AIDS (Parpas) Sidoarjo, pada Kamis (4/6/2026).
Kenaikan angka HIV itu, memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pencegahan, edukasi, serta pengawasan terhadap kelompok berisiko.
Komisi D DPRD Sidoarjo menilai, kondisi tersebut sebagai sinyal bahaya yang membutuhkan respons cepat dan terukur.
Komisi D mengingatkan pemerintah daerah, agar tidak membiarkan peningkatan kasus berkembang menjadi situasi darurat kesehatan.
“Lha Ini kan luar biasa, harus kita antisipasi. Jangan sampai kemudian Sidoarjo menjadi kabupaten darurat HIV,” tegas Dhamroni Chudlori, Ketua Komisi D, Kamis (4/6/2026).
“Kami dari Komisi D mengimbau, mendorong kepada daerah, melalui Bappeda, untuk segera menyusun aksi daerah atau action plan, terkait perlindungan dan juga pencegahan HIV/ AIDS yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Ini memprihatinkan,” pungkasnya.
Hasil penelusuran terhadap dokumen Analisis Situasi HIV-IMS, Dinkes Sidoarjo menunjukkan persoalan tidak hanya berada pada penambahan kasus baru. Tantangan terbesar, justru muncul pada keberlanjutan pengobatan pasien yang telah terdiagnosis.
Data cascade HIV mencatat 815 pasien hilang dari pemantauan atau lost to follow up, setelah menjalani terapi antiretroviral (ARV). Selain itu, 225 pasien lainnya tercatat terputus dari layanan, setelah diagnosis maupun perawatan.
Fakta yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada angka kematian. Hingga April 2026, sebanyak 1.672 orang dengan HIV/AIDS dilaporkan meninggal dunia, atau sekitar 23 persen dari total kasus kumulatif yang pernah ditemukan.
Meski layanan telah diperluas melalui 31 puskesmas, rumah sakit, klinik komunitas, hingga layanan PEP, tingginya mobilitas penduduk sebagai wilayah penyangga Surabaya tetap menjadi tantangan besar.
Komisi D DPRD mendesak penyusunan Rencana Aksi Daerah, sebagai implementasi Perda Nomor 3 Tahun 2017.
Di balik 7.129 kasus itu, tersimpan ribuan kisah perjuangan hidup, stigma sosial yang kerap menyudutkan, dan masa depan kesehatan masyarakat Sidoarjo yang sedang dipertaruhkan.
Alarm Senyap HIV Sidoarjo 7.129 Kasus, DCC Anggap Stigma Baru Prestasi bukan Ancaman
Epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi ancaman serius. Sepanjang 2025, tercatat 63.297 kasus baru secara nasional dan Jawa Timur, menempati posisi tertinggi dengan 10.612 kasus.
Data tersebut, menempatkan Jawa Timur sebagai wilayah dengan beban HIV/AIDS terbesar di Indonesia. Di balik dominasi itu, Surabaya tertinggi dan Sidoarjo sebagai runner up, muncul sebagai daerah dengan jumlah kasus paling menonjol.
Hingga Mei 2026, Kabupaten Sidoarjo mencatat sekitar 7.377 kasus kumulatif dengan tambahan 248 kasus baru. Angka tersebut menempatkan daerah ini sebagai salah satu kantong epidemi terbesar di Jawa Timur.
Investigasi terhadap pola penyebaran menunjukkan tingginya mobilitas penduduk, urbanisasi, pertumbuhan kawasan industri, dan aktivitas ekonomi, menjadi faktor yang memperbesar risiko penularan di wilayah penyangga metropolitan Surabaya.
Fenomena tersebut diperkuat dengan banyaknya pasien dari luar daerah, yang menjalani terapi antiretroviral atau ARV di Fasilitas layanan kesehatan – Perawatan, Dukungan & Pengobatan (PDP), di Kabupaten Sidoarjo.
Berdasarkan data kumulatif pendampingan Yayasan Delta Crisis Center mulai 2008 sampai dengan 13 Juni 2026, Sedikitnya 584 orang dampingan berdomisili di Luar Sidoarjo.
Sedang untuk yang ber-eKTP di luar sidoarjo sebanyak 1.545 orang dari total data 5.005 orang dampingan. Selebihnya, ber-eKTP Sidoarjo. Demikian kata Ferry Efendi, Direktur Program DCC kepada Ruang.co.id, Sabtu sore (6/6/2026).
Kondisi itu, menjadikan Sidoarjo bukan hanya daerah dengan kasus tinggi, melainkan juga pusat layanan HIV/AIDS yang melayani pasien lintas kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Data Yayasan Delta Crisis Center , mencatat 303 kasus baru hingga 13 Juni 2026. Sebelumnya, sepanjang 2025 terdapat 679 kasus baru yang tercatat yang berhasil ditemukan dan didampingi.
Temuan tersebut menunjukkan, HIV tidak lagi terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Penyebarannya telah memasuki ruang keluarga, pasangan suami istri, anak-anak, hingga calon pengantin (Catin), yang hendak membangun rumah tangga.
“Alarm serius, terlihat pada kelompok usia produktif. Rentang usia 26 hingga 40 tahun mencapai 2.237 kasus, sedangkan kelompok usia 41 hingga 55 tahun tercatat sebanyak 1.635 kasus,” ungkap Ferry, Sabtu (6/6/2026).
Kelompok usia muda, juga mulai menunjukkan peningkatan. Sebanyak 478 kasus ditemukan pada usia 16 hingga 25 tahun, menandakan perlunya penguatan edukasi dan pencegahan sejak dini.
Temuan baru yang memantik perhatian publik, terdeteksinya 14 calon pengantin positif HIV, saat menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan berlangsung.
“Kasus tersebut, menghadirkan dilema etik dan hukum. Pendamping berkewajiban mencegah penularan kepada pasangan, namun status HIV tetap menjadi hak privasi yang tidak dapat dibuka tanpa persetujuan pemilik data,” ungkapnya lagi.
Ancaman lain muncul pada kelompok anak-anak. DCC mencatat 12 anak usia nol hingga lima tahun, serta 44 anak usia 6 hingga 15 tahun, masuk dalam program pendampingannya.
“Mayoritas kasus anak terjadi, akibat penularan dari ibu, baik selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya pencegahan penularan dari ibu kepada anak,” ungkap Ferry lagi.
Di sisi lain, sebanyak 914 pasien tercatat meninggal dunia secara kumulatif hingga 2026. Kelompok usia 41 hingga 55 tahun, menjadi penyumbang angka kematian tertinggi.
DCC juga mencatat, 448 pasien hilang kontak. Fakta ini menunjukkan tantangan terbesar, bukan hanya menemukan kasus baru, melainkan memastikan pasien tetap menjalani terapi secara konsisten dan berkelanjutan.
Menurut pendamping HIV DCC Plus, tingginya angka temuan kasus, tidak selalu berarti penularan baru sedang meledak. Banyak pasien yang baru terdiagnosis saat ini, diduga telah terinfeksi lima hingga sepuluh tahun sebelumnya.
Karena itu menurutnya, meningkatnya angka temuan kasus, justru dapat menjadi indikator baik bahwa kegiatan sosialisasi, skrining, dan pendampingan berjalan lebih efektif, sehingga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sebagai upaya deteksi dini terhadap penularan HIV.
“Stigma lama beranggapan bahwa tingginya angka temuan dan deteksi pengidap HIV, dapat dinilai sebagai kegagalan pemerintah setempat dalam menangani kasus HIV. Tapi menurut Delta Crisis justru tingginya angka temuan mengindikasikan bahwa, semua elemen yang bergerak dalam program pencegahan dan penanggulangan HIV, sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, dalam upaya membongkar jumlah kasus yang sebenarnya, yang sering diibaratkan sebagai fenomena gunung es, dan keberhasilan tersebut patut untuk diapresiasi setinggi-tingginya,” ujar Ferry.
“Karena secara angka kumulatif dari tahun ke tahun, pengidap HIV pasti terus meningkat dan tidak mungkin secara kumulatif dibuat zero HIV,”tandasnya.
Jadi, menurut Ferry, target besar Program Pencegahan & penanggulangan HIV adalah 3 Zero HIV, yakni pertama, Zero New HIV Infections – Tidak Ada Infeksi HIV Baru.
Kedua, Zero Discrimination – Tidak Ada Diskriminasi Terhadap ODHIV. Sedangkan ketiga, Zero AIDS–Related Deaths. Tidak ada kematian akibat AIDS.
“Selain itu, Penguatan program kolaborasi TB/ TBC-HIV juga perlu ditingkatkan, mengingat TB merupakan infeksi penyerta paling banyak bagi penderita HIV”, jelasnya.
“Namun demikian, Yayasan DCC menggarisbawahi, di balik setiap angka HIV/AIDS, terdapat keluarga yang berjuang mempertahankan harapan, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, serta masa depan yang bergantung pada keberhasilan kerja bersama lintas sektor mulai dari masifnya sosialisasi sebagai upaya pencegahan, keberhasilan upaya pendampingan, dukungan dan pengobatan terhadap penderita HIV, demi fisik, psikologis dan sosial yang lebih sehat, baik dan berkualitas, meski virus masih sulit untuk dihilangkan sepenuhnya dari tubuh mereka”. Pungkasnya.
- Penulis: Ruang Nurudin

