Musim Giling 2026, Petani Tebu Magetan Dukung Penuh Swasembada Gula Nasional
- account_circle Ruang Mujiono
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Menjelang Musim Giling 2026, petani tebu di Magetan menyatakan dukungan penuh terhadap program swasembada gula nasional. Langkah ini ditempuh untuk memangkas impor dan memperkuat ketahanan pangan. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Magetan, Ruang.co.id – Menjelang Musim Giling Tebu 2026, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Magetan menyatakan komitmen penuh untuk mendukung program Swasembada Gula Nasional. Pernyataan sikap ini menjadi bukti nyata kontribusi aktif petani dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor gula.
Ketua APTRI Kabupaten Magetan, Sudaryanto, menegaskan bahwa seluruh petani tebu di daerahnya siap menggenjot produktivitas. Sejumlah strategi telah disiapkan, mulai dari penerapan budidaya yang baik, penggunaan bibit varietas unggul, percepatan program peremajaan tanaman atau bongkar ratoon, hingga memperkuat kemitraan dengan pabrik gula setempat. Langkah ini diyakini mampu menjamin kelancaran proses giling sekaligus mendongkrak rendemen ke angka optimal.
“Kami menilai program ini bukan sekadar target, melainkan amanat yang harus dijawab langsung oleh para petani tebu sebagai ujung tombak penyedia bahan baku. Keberhasilan swasembada gula membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk petani, pemerintah, dan industri gula,” ujar Sudaryanto. Selasa (21/7/2026).
Kabupaten Magetan merupakan salah satu daerah sentra pengembangan tebu strategis di Jawa Timur. Pemerintah daerah menargetkan perluasan program bongkar ratoon secara agresif sebagai bagian dari percepatan swasembada gula nasional. Sinergi antara petani, pabrik gula, dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan yang terus diperkuat.
“Kami mengajak seluruh petani untuk menjaga kualitas tanaman dan meningkatkan produktivitas lahan. Pemerintah daerah juga tengah mengawal distribusi pupuk bersubsidi agar tepat waktu dan tepat sasaran, serta memperbanyak sekolah lapang bagi petani. Langkah konkret ini untuk memastikan target rendemen dan produktivitas per hektare benar-benar tercapai pada musim giling tahun depan,” tambah Sudaryanto.
APTRI Magetan turut mendorong pemerintah pusat untuk terus memberikan dukungan berupa kemudahan akses pupuk, pembiayaan usaha tani dengan bunga ringan, pendampingan teknologi, serta kebijakan harga yang berpihak kepada petani. Kepastian harga dinilai sebagai stimulus utama agar petani bergairah merawat tanaman dan berani berinvestasi dalam peremajaan lahan, sehingga kesejahteraan petani dapat terus meningkat seiring dengan peningkatan produksi gula nasional.
Dengan potensi lahan yang masih dapat dioptimalkan, optimisme menyelimuti para petani. Mereka meyakini Musim Giling 2026 akan menjadi momentum penting dalam memperkuat industri gula nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
“Dengan semangat kebersamaan, kita buktikan bahwa petani Indonesia, khususnya Magetan, sanggup menjadi garda terdepan mewujudkan swasembada gula. Asal ada kepastian kebijakan dan sinergi yang solid, kami optimistis target ini bukan sekadar angan, melainkan langkah nyata menuju Indonesia yang berdaulat secara pangan,” pungkas Sudaryanto.
- Penulis: Ruang Mujiono

