Sidoarjo, Ruang.co.id – Di tengah riuh modernisasi dan laju kendaraan bermesin yang serba cepat, bunyi “kring… kring…” sepeda onthel, ternyata belum benar-benar hilang dari ingatan masyarakat Indonesia.
Ia tetap hidup. Bukan hanya sebagai alat transportasi tua, melainkan sebagai simbol perjalanan sejarah, persaudaraan, dan romantisme masa lalu yang terus dirawat lintas generasi.
Kini, denyut itu kembali terasa kuat di Kota Delta, Sidoarjo, yang bersiap menyambut gelombang besar ribuan onthelis, dalam event internasional, bertajuk Bumi Jenggolo III.
Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI), sebuah perkumpulan Onthelis yang cukup lama terbangun seantero nusantara. Perkumpulan itu juga berkembang di Sidoarjo, dengan sebutan KOSTI Sidoarjo, yang kini dikomandani Ir. Ari Bayasi.
KOSTI Sidoarjo, penyelenggara event berskala nasional itu. Ia menjelaskan, ”Kami menyerap langsung bagaimana standardisasi global diterapkan di Prambanan. Mulai manajemen rute, pelayanan, hingga manajemen massa di IVCA Rally, akan kami modifikasi agar Bumi Jenggolo III berjalan lebih rapi, aman, dan berkelas dunia,” terang Ari Bayasi kepada awak media.
Event itu akan menghadirkan sekitar 10 ribu pecinta sepeda tua, dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Bagi sebagian orang, onthel mungkin hanyalah sepeda besi kuno, terkadang cenderung berkarat termakan usia, dengan lampu jadul dan bel berbunyi khas.
Namun bagi para penggemarnya, onthel merupakan cerita panjang tentang perjuangan zaman.
Di masa kolonial hingga awal kemerdekaan, sepeda onthel pernah menjadi “kendaraan rakyat”. Dari guru desa, pegawai kantor, petani, hingga pejuang kemerdekaan, banyak yang menggantungkan hidupnya pada kayuhan sepeda tua itu.
Tak sedikit pula cerita lahir dari jok kulit yang mulai usang itu. Ada yang mengantar surat cinta, mengantar anak sekolah, bahkan menjadi saksi perjalanan hidup keluarga selama puluhan tahun.
Karena itulah, komunitas sepeda tua bukan hanya sebatas kumpulan penghobi. Mereka adalah penjaga memorabilia.
Semangat itu pula, yang kini dibawa dalam gaung IVCA Rally 2026, ajang sepeda veteran internasional terbesar dunia, yang akan berlangsung di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Indonesia, untuk pertama kalinya dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan dunia tersebut.
Ketua Panitia, Djoko Supriyadi, menyatakan Onthelis Bumi Jenggolo III siap digelar. ”Undangan dan misi kebudayaan Sidoarjo sudah kami sampaikan secara presisi di IVCA Rally kemarin. Respons dari onthelis nasional maupun mancanegara sangat luar biasa. Kami optimistis Sidoarjo siap menjadi hilir dari pergerakan sepeda tua internasional tahun ini,” ungkapnya.
Dari sana, semangat persaudaraan para onthelis kemudian diadopsi ke Sidoarjo, melalui event Bumi Jenggolo III. Sebuah agenda yang bukan hanya parade sepeda, melainkan pesta budaya rakyat.
Nantinya, para peserta akan diajak menikmati wajah khas Sidoarjo, mulai wisata budaya, kuliner tradisional, hingga geliat UMKM lokal, yang diproyeksikan ikut terdongkrak oleh kehadiran ribuan tamu dari luar daerah dan luar negeri.
*Kegiatan ini bukan sekadar olahraga masyarakat, melainkan mesin penggerak ekonomi dan pariwisata daerah. Kami siap menyambut para tamu domestik dan internasional dengan fasilitas terbaik,” ujar Yudhi Iriyanto, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kab. Sidoarjo.
Peserta dan Rute Wisata Event, yang akan dipusatkan di Parkir Timur GOR Sidoarjo, dengan target menghadirkan 10.000 onthelis, dan puluhan ribu pengunjung.
Yang menarik, sebagian peserta rela menempuh perjalanan lintas kota, hanya dengan mengayuh sepeda tua mereka. Peluh, panas jalanan, hingga hujan bukan hambatan.
Sebab bagi mereka, perjalanan bukan hanya perlintasan menuju lokasi acara, tetapi juga tentang menjaga warisan sejarah, agar tidak hilang ditelan zaman.
Di era digital yang serba instan, onthel justru mengajarkan sesuatu yang sederhana, yakni tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa hormat pada masa lalu.
Ketika nanti ribuan sepeda tua memenuhi jalanan Sidoarjo, yang hadir bukan hanya keramaian sebuah festival. Tetapi juga nostalgia panjang tentang Indonesia, yang pernah tumbuh dari kayuhan sederhana sebuah sepeda bernama onthel.

