Muktamar NU 2026 Buka Babak Baru, AHWA Jadi Gerbang Utama Ketum PBNU
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 22 jam yang lalu
- print Cetak

Muktamar NU 2026 membuka babak baru pemilihan Ketum PBNU. AHWA kini jadi gerbang utama setelah voting 401 suara setuju, 150 menolak, satu abstain. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) membuka babak baru dalam sejarah pemilihan Ketua Umum PBNU. Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) kini menjadi gerbang utama setelah voting memenangkan opsi perubahan mekanisme pemilihan.
Keputusan diambil dalam Sidang Pleno III setelah musyawarah mufakat tidak menemukan titik temu. Dari 552 suara yang masuk, 401 peserta menyetujui mekanisme baru, 150 memilih mempertahankan sistem lama, dan satu suara abstain.
Sidang pleno dipimpin Katib Syuriyah PBNU Prof Dr HM Asrorun Ni’am, MA didampingi Prof Dr Mohammad Nuh.
“Voting ini adalah jalan terakhir yang sah secara organisasi. Kita tidak bisa memaksakan mufakat ketika pandangan sudah sangat tajam,” ujar Asrorun Ni’am di lokasi Muktamar, Jombang, Sabtu (29/8/2026).
Dengan hasil ini, peserta Muktamar tidak lagi memilih langsung Ketua Umum PBNU. Penentuan kini berjalan berjenjang: PCNU mengusulkan lima nama, AHWA menyaring menjadi tiga, lalu Rais Aam terpilih menetapkan satu nama sebagai Ketua Umum PBNU.
Posisi AHWA menjadi sangat menentukan. Forum ulama inilah yang memegang kendali menggugurkan dua dari lima calon, sekaligus membatasi pilihan akhir Rais Aam.
Perdebatan soal mekanisme ini merupakan isu paling panas dalam Muktamar. Sebagian peserta menilai sistem lama lebih terbuka, sementara kubu pendukung perubahan menilai model AHWA lebih sesuai tradisi dan marwah organisasi.
“Model ini menempatkan orang-orang yang paling paham kapasitas calon sebagai penentu. Ini bukan mundur, tapi menata ulang arah kepemimpinan NU,” tegas Asrorun Ni’am.
Selisih suara yang telak, 401 berbanding 150, menjadi sinyal kuat bahwa mayoritas peserta menginginkan mekanisme baru.
Tahapan berikutnya menjadi medan pertaruhan baru. Lima nama yang diusulkan PCNU akan menjadi pintu awal. Setelah itu, AHWA bekerja menyaring menjadi tiga nama yang dianggap paling layak.
Konsekuensinya, kandidat dengan popularitas tinggi di akar rumput belum tentu melaju. Sebaliknya, nama yang dianggap layak oleh AHWA justru punya peluang besar meski tidak populer di kalangan peserta.
Dengan AHWA sebagai gerbang utama, kontestasi Ketua Umum PBNU kini bukan lagi soal siapa yang paling banyak didukung peserta, melainkan siapa yang paling dipercaya forum ulama untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
- Penulis: Ruang Gentur

