Ra Nasih Apresiasi Pencalonan Gus Kikin Dalam Bursa Ketua Umum NU
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Ra Nasih Aschal, politikus NasDem Jatim, memberikan pernyataan dukungan terhadap pencalonan Gus Kikin sebagai kandidat Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU di Jombang, Agustus 2026. (Gentur)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Pencalonan Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dalam bursa Ketua Umum NU dalam Muktamar NU 27-31 agustus 2026 nanti memberikan harapan cerah bagi segenap warga Nahdliyin di Jawa Timur maupun nasional. Karena dengan majunya cicit pendiri NU Hadratussyikh KH Hasyim Asy’ari itu diharapkan mampu membawa NU kembali ke kithahnya.
Harapan dan sambutan baik tersebut disampaikan juga oleh Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Jatim yang juga cicit dari Syaikonah Cholil, yakni H Muhammad Nasih Aschal atau Ra Nasih. Dijumpai di depan kantornya, senin (3/8) Ra Nasih mengatakan pencalonan Gus Kikin ini sangat baik untuk NU ke depan. Sehingga harus diapresiasi dan didorong agar tidak hanya mewarnai dalam bursa pemilihan ketua umum muktamar saja. Karena dengan majunya tokoh yang merupakan trah pendiri NU ini secara tidak langsung membawa pesan moral bahwa NU tidak pernah keluar dari Tebu ireng dan beberapa Ponpes besar lainnya yang telah ikut serta dalam pendirian Jamiyah ini.
“Substansi dari itu adalah bagaimana mengembalikan NU pada khitahnya dan nemberdayakan NU pada kiprah yang lebih luas setelah muktamar nanti,” ujar Ra Nasih.
Selain itu, lanjut Ra Nasih, yang menjadi ukuran lainnya yaitu kira-kira bagaimana kemanfaatan jamiyah ini. Yaitu kemaslahatan NU akan seperti apa? Apakah hanya masih berkutat pada hal-hal yang bersifat sistemik atau sudah bergerak pada kemaslahatan umat atau bergerak pada kemaslahatan warga Nahdliyin.
Sebelum ini dinamika NU sempat memanas dengan adanya beberapa konflik ditingkat elitnya, namun sudah mereda seiring dengan adanya rekonsiliasi. Menurut Ra Nasih, justru dengan adanya perbedaan itulah yang membuat NU sebagai organisasi mampu mengaplikasikan prinsip perbedaan itu menjadi sesuatu keindahan. Karena fitrah dari kehidupan manusia ini tidak lepas dari yang namanya perbedaan. Sehingga perbedaan itu suatu Rahmat.
“Dalam tradisi di NU, perbedaan-perbedaan itu harus menjadi Rokhmat, dan perbedaan-perbedaan di NU harus menjadi solusi bagi persoalan- persoalan yang semakin memperkuat keberadaan NU sendiri,” tandas Legislator dari Dapil Madura tersebut.
Sementara disinggung tentang adanya menteri yang menjadi kandidat sementara dalam ad/art tidak boleh, Ra Nasih mengatakan, bahwa tentang siapa atau pejabat yang maju sebagai kandidat nsnti akan dirumuskan dalam muktamar nanti. Ada komisi yang akan mengatur dalam pencalonan itu.
“Namun lepas dari masalah pencalonan ketum itu, pada prinsipnya hari ini kita bisa melihat bahwa respon dari berbagai kalangan melihat bahwa bursa calon ketum NU ini menjadi sesuatu yang mahal sehingga mereka melihat bagaimana NU di abad kedua ini mau bergerak dan bertransformasi pada kemanfaatan yang lebih luas,” pungkas Ra Nasih.
Seperti diketahui dalam muktamar NU yang dijadwalkan akan berlangsung di Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, akhir agustus nanti ada delapan kandidat yang maju mencalonkan diri sebagai ketua umum. Delapan calon tersebut antara lain, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Prof KH Nasaruddin Umar, KH Imam Jazuli. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dan KH Abdussalam Shohib ( Gus Salam).
Dalam pencalonan tersebut, Gus Kikin merupakan kandidat yang diusung segenap pengurus wilayah NU dan seluruh cabang NU di Jawa Timur. Sehingga pencalonan ini merupakan mandat dari warga nahdliyin Jawa Timur.
- Penulis: Ruang Gentur
