Ruang.co.id – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) memberikan penghargaan kepada ilmuwan, akademisi, dan mahasiswa berprestasi dalam Malam Penganugerahan LPTNU Award 2026 yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu, (11/3). Penghargaan ini diberikan atas kontribusi nyata mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset inovatif, serta pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).
Pada kategori Ilmuwan Muslim Indonesia dengan Penemuan Berpengaruh, LPTNU mengapresiasi tiga tokoh yang risetnya berdampak luas. Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D. dari UGM dinobatkan atas riset inovasi nyamuk ber-Wolbachia yang terbukti menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen di Yogyakarta. Di bidang sains pangan, Prof. Irwandi Jaswir, M.Sc., Ph.D. dari IIUM Malaysia mendapat apresiasi atas riset mikroalga untuk produk kesehatan halal. Sementara di bidang teknologi, Ir. Tri Mumpuni Wiyatno dari IBEKA dianugerahi penghargaan berkat inovasi pembangkit listrik mikrohidro berbasis pemberdayaan masyarakat di daerah terpencil.
Ketua LPTNU, Prof. Dr. H. Ainun Na’im, Ph.D., menegaskan bahwa ajang ini merupakan inisiatif perdana yang lahir dari keprihatinan terhadap minimnya apresiasi sistematis bagi akademisi PTNU. “Anugerah LPTNU 2026 ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada PTNU di seluruh Indonesia, khususnya kepada civitas akademika yang telah berprestasi dan mendedikasikan keilmuannya dalam bidang pendidikan tinggi, baik melalui riset maupun pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain kategori ilmuwan, LPTNU Award juga mengapresiasi akademisi PTNU dengan karya ilmiah berpengaruh, seperti Achmad Syafiuddin, S.Si., M.Phil., Ph.D. dari Unusa yang masuk daftar Top 2% Ilmuwan Berpengaruh Dunia versi Stanford University. Penghargaan Tokoh Pengabdian Sepanjang Hayat diberikan kepada mantan Mendikbud Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA., sementara puluhan mahasiswa berprestasi dari berbagai PTNU juga menerima apresiasi atas capaian akademik dan dakwah di tingkat nasional.
Acara yang diikuti seluruh pimpinan PTNU se-Indonesia ini dirangkaikan dengan seminar perumusan arah pendidikan tinggi NU untuk 15 tahun ke depan. Dua tema utama yang dibahas adalah pembaruan kurikulum dan metode pembelajaran, serta upaya membangun ekosistem riset dan inovasi di lingkungan kampus NU. Prof. Ainun berharap kegiatan ini mampu memacu produktivitas intelektual di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memotivasi seluruh PTNU untuk terus berkembang dan meraih prestasi, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat,” tuturnya. Ia menambahkan, LPTNU berkomitmen mendorong penguatan tata kelola agar PTNU semakin profesional dan berdaya saing. “Kami juga ingin meningkatkan kualitas intelektual PTNU, termasuk dalam aspek tata kelola agar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama semakin kuat, profesional, dan berdaya saing,” pungkasnya.

