Menempa Sayap dari Bilah Seni: Pelatihan Topeng Malangan untuk Kemandirian Anak Difabel
- account_circle Ruang redaksi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Anak berkebutuhan khusus dengan pendampingan menuangkan resin ke dalam cetakan topeng malangan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, memperlihatkan proses membangun kemandirian melalui seni kriya. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Malang, Ruang.co.id – Bukan karya yang selesai di hari itu yang menjadi ukurannya. Yang diukur adalah apakah, kelak, anak-anak ini bisa membuat topeng sendiri di rumah—dan menjualnya. Sabtu, 27 Juni 2026, Sanggar Budaya Anak Nareswari menggelar pelatihan membuat topeng malangan bagi 15 anak berkebutuhan khusus di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang. Tujuannya bukan sekadar mengisi pagi. Tujuannya adalah kemandirian. Sabtu,(27/6/2026).
Lima belas peserta—sebelas dari Sanggar Nareswari, empat dari Kelurahan Bumiayu—semua anak dengan Down syndrome dan tunagrahita—duduk bersama orang tua mereka selama tiga jam, belajar menuangkan resin ke dalam cetakan topeng malangan dengan bimbingan pelatih Ndaru Lazarus.
Keterampilan yang Dirancang untuk Berlanjut
Ndaru membangun metode dari dasar: pengenalan bentuk topeng yang bertahap, prosedur resin yang aman, dan pendampingan orang tua sebagai jembatan instruksi. Setiap langkah dipikirkan agar bisa diulang—di sanggar, di rumah, di mana pun.
“Kami ingin memberikan keterampilan yang punya nilai jual, sehingga bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah,” ujar Brelliane Semesta Pratiwi, panitia kegiatan sekaligus mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Hasil karya peserta, lanjutnya, akan dipamerkan di Hotel Mercure, Pasar Seni Bareng, dan Taman Krida Budaya Jawa Timur.
Baca Juga : Bantuan Dua Kursi Roda dari Bupati Sidoarjo, Penyemangat Hidup Kakak Beradik Difabel Sejak Lahir
Peserta dari Sanggar Nareswari: Jesika Ramadhani Sakka, Muhammad Faza Aulia Rahadiyanto, Jordy Arnold Emanuelle Permadi Eoh, Aryasatya Andy Pratama, Agam Baharuddin Syaputra, Dzaky Althaf Wijaya, Aldhi Kurniawan, Dwi Nur Alif Setyawan, Jonathan Heber Bravo, Aline Kirana Salma Asheva, dan Marcel Putra Pamungkas. Dari Kelurahan Bumiayu: Choirul Rozikin, Intan Ade Reza, Dyan Afriananda Sutopo, dan Pungky Chandra Dwi Fransisca.
Tiga Fase Menuju Festival
Program ini dibangun dalam tiga fase yang saling menopang. Fase pertama, pelatihan batik sampur ramah difabel, telah selesai Mei 2026. Fase kedua, membuat topeng, berlangsung Juni ini. Fase ketiga—mewarnai topeng—dijadwalkan Juli 2026. Ketiganya bermuara pada Festival Sendratasik Topeng Malangan, Sabtu, 1 Agustus 2026, dengan parade tari, pertunjukan seni drama tari musik, dan bazar UMKM sebagai ruang pertama karya mereka bertemu publik.
Baca Juga : Sahid Hotel Surabaya Ajak Difabel Berkarya Lewat Batik di HUT ke-34
Program ini terwujud berkat Dana Abadi Kebudayaan 2025 untuk kategori dukungan institusional lembaga kebudayaan, serta didukung Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perhubungan, LPDP, dan Dana Indonesiaraya. Sanggar Budaya Anak Nareswari yang berdiri sejak 2017 kini menaungi 50 anggota aktif dan berkolaborasi dengan 27 lembaga pendamping ABK se-Malang Raya.
Seni sebagai Ruang Berekspresi Paling Jujur
Brelliane menegaskan bahwa keterbatasan verbal bukan penghalang berkarya. Seni adalah ruang berekspresi yang paling jujur—dan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, ia juga bisa menjadi ruang ekonomi yang nyata.
Topeng malangan, yang lahir dari tradisi panjang Malang, kini menjadi alat. Alat ekspresi, sekaligus alat untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Seluruh kegiatan dipusatkan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang. (Syarif Wajabae)
- Penulis: Ruang redaksi

