Merajut Asa di Balik Lensa, Yayasan D’Mart Tithiek Tenger dan Jo Panda Garap Film Perjuangan Difabel
- account_circle Syarif Wajabae
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Yayasan D'Mart Tithiek Tenger dan YouTuber Jo Panda menggelar pertemuan di Malang untuk membahas proyek film inspiratif tentang penyandang disabilitas, libatkan talenta difabel. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Malang, Ruang.co.id – Yayasan D’Mart Tithiek Tenger bersama tim kreatif YouTuber Jo Panda menginisiasi proyek film bertema kehidupan penyandang disabilitas. Langkah kolaboratif ini ditandai dengan pertemuan perkenalan yang berlangsung di Lobby Lantai 1 Gedung DPRD Kota Malang pada Kamis (16/7). Proyek film tersebut dirancang untuk mengangkat semangat dan potensi difabel agar dapat menginspirasi publik secara lebih luas.
Kegiatan temu kenal itu mempertemukan jajaran pengurus yayasan dengan tim Jo Panda yang dinakhodai oleh Pak Jordan. Suasana diskusi berjalan hangat sekaligus produktif. Kedua pihak saling bertukar gagasan terkait konsep cerita yang ingin dibangun. Film ini diharapkan bukan sekadar menjadi tontonan, melainkan juga cermin yang memantulkan realitas perjuangan difabel dalam keseharian.
Ketua Yayasan D’Mart Tithiek Tenger menyampaikan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk perluasan misi sosial mereka. “Kami ingin mematahkan stigma bahwa difabel adalah kelompok yang lemah. Melalui medium film, kisah mereka akan berbicara lebih lantang tentang mimpi, daya juang, dan prestasi yang nyata,” ujarnya.
Dalam sesi perkenalan tersebut, sejumlah talenta difabel binaan yayasan turut hadir dan unjuk kebolehan. Mereka adalah Dimas (bisu tuli), Dwi (autis), Aryasatya (down syndrome), Dzaky (down syndrome), Agam (down syndrome), Zahria (tunagrahita), dan Marcel (tunadaksa). Penampilan mereka menjadi bukti konkret bahwa keterbatasan fisik maupun mental tak menyurutkan kreativitas.
Kehadiran para orang tua pendamping ikut memperkuat atmosfer dukungan dalam pertemuan itu. Interaksi antara anak-anak difabel, keluarga, pengurus yayasan, dan tim produksi berbaur dalam nuansa kekeluargaan. Momen ini mempertegas bahwa proses kreatif proyek film tersebut akan dibangun di atas fondasi empati dan kerja sama.
Tim Jo Panda mengaku mendapatkan perspektif baru setelah menyaksikan langsung potensi para talenta. Jordan, selaku pimpinan tim, mengungkapkan rencana aksi mereka ke depan. “Kami akan memulai proses pendalaman karakter dan riset partisipatif. Kami ingin para talenta difabel terlibat aktif, bukan hanya sebagai subjek cerita, tetapi juga sebagai rekan yang memberi warna pada naskah,” jelasnya.
Proyek ini dijadwalkan melalui tahapan pengembangan yang melibatkan konsultasi dengan pendamping khusus dan para orang tua. Film yang dihasilkan nantinya akan menyasar segmen khalayak luas dengan misi edukasi. Lebih dari sekadar hiburan, karya ini diharapkan menjadi katalis yang menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan inklusif dan kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Menutup rangkaian pertemuan, Ketua Yayasan kembali menegaskan optimisme terhadap keberlanjutan misi ini. “Semoga sinema sederhana ini kelak menjadi jembatan yang menyambungkan hati banyak orang, agar tidak ada lagi sekat antara kami dan kalian,” tutupnya.
- Penulis: Syarif Wajabae

