Breaking News
light_mode
Selasa, 14 Juli 2026

Kembalikan Pamor Aksara Jawa, DPRD Jatim Dukung Pembelajaran Inovatif di SMA/SMK

  • account_circle Ruang Gentur
  • calendar_month 23 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Komisi E DPRD Jawa Timur menyambut baik terciptanya kartu aksara Jawa sebagai alat untuk pembelajaran aksara Kawa yang lebih sistematis dalam memudahkan pelajar atau generasu muda mempelajarinya.

Menurut ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, hadirnya kartu aksara Jawa yang diciptakan seniman dan budayawan Jawa Timur, Taufik Monyong ini merupakan upaya konkret menyelamatkan kebudayaan Nusantara yang mulai tergerus modernisasi.

Karena itu, Untari mendorong agar Dinas Pendidikan segera menerapkan pembelajaran aksara Jawa dengan sistrm Kartu ini agar masuk dalam Kurikulum SMA/ SMK.

” Memasukan pola pembelajaran aksara Jawa melalui kartu ini merupakan inovasi budaya yang sangat strategis untuk mengubah pola pemahamsn generasi muda tentang jati diri bangsa yang sebenarnya. Terlebih dalam penerapan ini jiha sudah ada payung hukjmnya yaitu Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024 yang mengatur tentang Muatan Lokal (Mulok) Bahasa dan Aksara Jawa. Melalui regulasi ini, metode inovatif tersebut bisa kita sebarluaskan kepada para pendidik di lapangan, ” ujar Sri Untari saat neneri.a audensi para seniman budayawan, (14/7).

Senada dengan itu, anggota Komisi E Dr Rasiyo yang hadir dan menyimak diskusi di ruang rapat komisi E tersebut mengatakan, bahwa skema penerapan metode ini bisa segera dimulai melalui pelatihan guru secara masif. Pihaknya menginstruksikan agar implementasi di sekolah diawali lewat forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“Penerapannya nanti tinggal dimulai dari MGMP. Guru mata pelajaran diberikan tutorial terlebih dahulu melalui sistem Training of Trainers (ToT), baru kemudian diajarkan di sekolah-sekolah. Muatan lokal ini nantinya harusvmendapat porsi sebanding dengan mata pelajaran konvensional, biasanya sekitar dua jam pelajaran,” ujar Legislator yang pernah menjabat kepala dinas pendidikan Jawa Timur ini menjelaskan.

Rasiyo menekankan, urgensi dari penerapan kurikulum ini adalah penguatan karakter dan jati diri generasi muda. Menurutnya, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan aksaranya sendiri, seperti halnya Jepang dengan Kanji atau Rusia dengan huruf Sirilik. Ia juga meluruskan miskonsepsi sejarah terkait Aksara Jawa.

“Huruf Jawa itu bukan sekadar huruf biasa, tapi itu carakan yang dulu dipakai di seluruh Nusantara pada masa kejayaan Majapahit ke bawah. Lewat aksara, berbagai filosofi kehidupan diimplementasikan ke dalam simbol-simbolnya. Kita ingin mengembalikan jati diri itu agar tidak hilang di masa modern. Karrna itu kami dukung penuh hadirnya kartu aksara Jawa ini,” tandas politikus partai Demokrat ini.

Sementara itu, Menanggapi dukungan tersebut, seniman sekaligus budayawan Jawa Timur, Taufik Monyong menjabarkan bahwa metode kartu ini lahir dari keresahan kultural yang mendalam. Kartu yang diklaim sebagai satu-satunya di dunia ini dirancang untuk mendobrak ketergantungan generasi muda pada produk permainan Barat.

“Kami melakukan riset mendalam selama lima tahun lebih. Hasilnya, ternyata bangsa kita ini seolah dijajah oleh dominasi huruf Latin di sekolah. Kartu ini kami ciptakan sebagai tawaran balik, sebuah konsep kesadaran untuk mengubah cara berpikir dan ketergantungan pada ajaran Barat,” ungkap seniman Jawa Timur yang fenomenal ini.

Berbeda dengan kartu remi konvensional yang hanya berjumlah 54 kartu, inovasi lokal ini terdiri dari 94 kartu. Kartu-kartu tersebut memuat unsur Aksara sebagai manifestasi batin dan Wilangan (bilangan) yang mengajarkan konsep ruang dan waktu tradisional, seperti Saptoworo dan Pancawaro, serta filosofi tokoh pewayangan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Kartu ini didesain serbaguna dengan delapan format permainan, mulai dari edukasi umum hingga pembacaan karakter spiritual.

Kelebihan lain dari proyek kebudayaan ini adalah kemandirian produksinya. Taufik memastikan bahwa para penggiat budaya dan pengusaha lokal telah mendirikan pabrik sendiri untuk memproduksi kartu tersebut secara massal, sehingga tidak akan membebani anggaran belanja pemerintah.

“Kami sudah siapkan stok pabriknya, minta berapa pun yang dibutuhkan pemerintah, kami siap. Kami tidak tergantung pada anggaran negara karena ini persembahan untuk mengembalikan marwah leluhur,” tambah Taufik.

Proses sinkronisasi metode pembelajaran ini dijadwalkan masuk dalam tahap koordinasi final bersama jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebelum diluncurkan secara resmi pada 23 Juli 2026 mendatang.

  • Penulis: Ruang Gentur
expand_less