Jalan Gajah Mada Sidoarjo Menuju Senja Sejarah Perdagangan Legendaris Kini Pusat Kuliner Sepi
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

Wabub Sidoarjo, Mimik Idayana saat menyapa pedagang untuk melakukan sidak di sentra kuliner Gajah Mada bersama Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo, Amat Adi Subhan. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Jalan Gajah Mada Sidoarjo, pernah menjadi koridor perdagangan paling ramai sejak masa kolonial Belanda hingga di bawah tahun 2000. Kini, kawasan legendaris itu perlahan kehilangan denyut ekonominya.
Pedagang lama, mengungkapkan, dulu pembeli selalu ramai, sekarang hanya lewat begitu saja. Omzetnya rata – rata turun drastis sejak pusat belanja modern muncul, terlebih sejak Pandemi COVID-19.
Bangunan bersejarah sejumlah toko di deretan raya Gajah Mada, masih berdiri kokoh. Pemiliknya bertahan menjaga warisan keluarga. Namun generasi muda jarang berkunjung.
Relokasi PKL ke Sentra Kuliner Gajah Mada pada 7 tahun silam, awalnya sempat memberi harapan.
Tetapi setelah Pandemi para pedagangnya bayak yang mengeluh sepi pembeli, dan sebagian mencoba bertahan berjualan apa adanya, dan sebagian lagi hengkang entah pindah berjualan kemana?.
Eni (45) pedagang warkop Sentra Kuliner Gajah Mada lantai dasar, tetap bertahan buka meski pengunjung berkurang. Ia mengaku omzet harian kini terkadang hanya sekitar Rp200 ribu.
“Kalau ramai bisa lebih kalau sebelum Pandemi, tapi sekarang pembeli sering hanya lewat. Dulu meja penuh, kini banyak kosong,” tutur sedihnya.
Ia berharap pemerintah membantu menghidupkan kawasan sentra kuliner ini. “Kami ingin tempat ini kembali ramai. Banyak pembeli, banyak penjual. Kalau tidak, usaha makin berkurang,” ujar warga kampung Daleman, Gang I.
Meski tantangan besar, Eni tetap bertahan. “Duwik’e (uangnya) muter, asal cukup buat belanja harian, saya lanjut jualan,” katanya penuh keteguhannya kepada Ruang.co.id.
Ia berjualan sudah 3 tahun ini, meneruskan warisan ibunya yang berjualan sejak 7 tahun silam, awal berdirinya Sentra Kuliner Gajah Mada.
Meski demikian, kata dia, dulu yang berjualan sampai 100 lapak/ stand. Kini menurutnya, 60 persen penjualnya pergi mencari lokasi yang ramai pembeli.
“Pembeli sepi, banyak yang tutup dan pindah jualan ke tempat lain. Sekarang yang tersisa sekitar 40 penjual,” pungkasnya.
Nasib serupa dialami Cak Gundul, penjual STMJ, yang bertahan meski omzet menurun drastis sejak Pandemi.
Ilham (51), akrab disapa Cak Gundul, mengaku, “Dulu bisa habis 100 liter STMJ sehari. Sekarang paling 10 liter, kadang sisa satu atau dua liter.”
Ia telah berjualan sudah tujuh tahun di lokasi ini. “Sejak diresmikan Bupati Saiful Ilah, saya terus bertahan. Sepi tetap dilakoni,” ujarnya dengan nada pasrah.
Pandemi menjadi titik balik kemerosotan. “Mulai Corona, meja jarang penuh. Malam hanya habis lima liter. Piala dunia kemarin pun tidak menambah pengunjung,” katanya.
Meski pendapatan harian hanya Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, ia tetap berusaha. “Duwik’e (uangnya) muter, asal cukup buat sekolah anak, saya lanjut,” tegas warga Pandean Gang I dengan 3 anak.
Anak keduanya, kini sudah kelas VIII di SMPN 3 Sidoarjo. “Uang penghasilan dicukupi– cukupkan untuk biaya sekolah anak. Dua tahun lalu bayar seragam SMP saja sampai Rp1 juta lebih di sekolahnya. Saya cicil, demi pendidikan anak,” ungkapnya.
Bahkan, selama berjualan di sentra kuliner ini, Dia mengaku tekor dua unit motornya ludes, buat perputaran modal usaha jualannya agar bisa bertahan sampai sekarang.
“Aku Sampek torok rong sepeda montor (tekor dua unit motor) buat perputaran modal karena sepi pembeli,” kenang sedihnya kepada Ruang.co.id.
Cak Gundul berharap pemerintah menata ulang kawasan sentra kuliner ini. “Kalau ramai pembeli, kami ikut senang. Jangan sampai pedagang terus keluar,” pintanya penuh harapan.
Sentra Kuliner Gajah Mada Sidoarjo, kembali menjadi sorotan publik. Wakil Bupati, Mimik Idayana, kemudian melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Selasa siang, (21/7/2026).
Ia meninjau langsung kondisi sebenarnya mulai bangunan, fasilitas, serta aktivitas para pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut. Mimik menemukan sejumlah persoalan yang dinilai mendesak.
Ia menyoroti bangunan kusam, retakan pada pilar, serta penataan lapak yang belum optimal.
“Kasihan pelaku UMKM. Jangan sampai mereka terus bertahan dalam kondisi seperti ini. Penataan harus segera dilakukan agar tempat ini layak, aman, dan menarik pengunjung,” tegasnya.
Saat berkeliling, Mimik juga menyoroti lapak pedagang di bagian belakang yang sepi karena kurang terlihat.
“Kalau yang di belakang terus sepi, tentu tidak adil. Penataannya harus dipikirkan supaya semua pedagang bisa berkembang,” ujarnya.
Kondisi bangunan yang retak membuat Mimik meminta pemeriksaan teknis segera. “Kalau sampai ada bagian bangunan jatuh menimpa pengunjung atau pedagang, siapa yang bertanggung jawab? Keselamatan harus prioritas,” tandasnya.
Sedangkan Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo, Amat Adi Subhan, di lokasi sidak menjelaskan luas kawasan sentra kuliner ini mencapai 2.147 meter persegi.
Usai sidak Ia menerangkan, pemerintah tengah menyiapkan program revitalisasi dengan konsep modern.
“Konsep yang kami siapkan bukan hanya sentra kuliner, tetapi juga sentra oleh-oleh UMKM Sidoarjo, dilengkapi ruang kelas untuk pelatihan dan pembinaan. Perencanaan sudah kami susun dan akan dibahas bersama tim TAPD,” jelasnya.
Sejatinya, sidak ini juga menyingkap persoalan klasik, regenerasi usaha yang lambat. Banyak lapak masih dikelola keluarga lama tanpa inovasi. Generasi muda cenderung memilih usaha di pusat belanja modern atau e-commerce.
Hal ini membuat daya tarik kawasan menurun. Wabup Mimik akhirnya menegaskan komitmen pemerintah mempercepat penataan.
“Revitalisasi bukan sekadar fisik, tetapi juga pengelolaan. Harus ada agenda rutin seperti festival kuliner, pertunjukan seni, dan pasar tematik agar kawasan hidup kembali,” ujarnya.
Analisis akademik perguruan tinggi lokal menunjukkan, penurunan pengunjung dipengaruhi kombinasi faktor. Mulai dari promosi lemah, daya tarik menurun, parkir terbatas, serta kurangnya aktivitas kawasan. Relokasi PKL menertibkan trotoar, tata ekonomi bisnis yang merata, bukan merelokasi titik pusat perbelanjaan baru, namun mematikan pusat perbelanjaan lama, dan masih banyak lagi pembenahan.
Menghidupkan kembali Jalan Gajah Mada Sidoarjo, tidak cukup dengan perbaikan fisik. Kawasan ini perlu identitas baru, berakar pada sejarah perdagangan legendarisnya.
Kusumo Adi Nugroho, anggota DPRD Sidoarjo, pernah berdiskusi dengan Ruang.co.id terkait menggairahkan UMKM Sidoarjo. Ia tertarik untuk pembenahan Sentra Kuliner Gajah Mada dengan ide atau gagasan yang out of the box.
Kata Kusumo, “Jika ditetapkan sebagai kawasan heritage, fasad bangunan lama bisa jadi daya tarik wisata sekaligus menjaga sejarah kota.”
Gagasan yang pernah tercetusnya, “Festival kuliner dan car free night”, akan menghidupkan kembali suasana. Pengunjung datang bukan hanya belanja, tapi menikmati hiburan.
Konsep revitalisasi menekankan sejarah, kuliner khas, UMKM, dan ruang publik. Dengan pengelolaan konsisten, kawasan ini dapat berpotensi menjadi “Malioboro-nya Sidoarjo,” pungkas Kusumo.
- Penulis: Ruang Nurudin

