Panggung Cinta Anak Istimewa dalam Harmoni Topeng Malangan di Malang
- account_circle Syarif Wajabae
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Harmoni Topeng Ramah Difabel Malang hadirkan lomba seni 13 SLB, pengukuhan Bunda Disabilitas, dan dorongan Perda Disabilitas Jatim. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Malang, Ruang.co.id – Puluhan anak berkebutuhan khusus dari 13 Sekolah Luar Biasa se-Malang Raya tampil dalam Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel yang berlangsung di Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Minggu hingga Senin, 30-31 Agustus 2026. Mereka unjuk kebolehan lewat lomba mewarnai topeng, melukis topeng 3D, hingga parade tari. Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian pelatihan seni yang didanai Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan tahun 2025. Selasa, (01/9).
Ketua pelaksana sekaligus Ketua Yayasan D’Mart Thithiek Tenger, Ndaru Lazarus, menyebut acara ini sebagai ruang aktualisasi diri bagi anak-anak difabel. “Kami ingin mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku seni yang percaya diri dan dihargai publik,” ujarnya di sela acara. Hari pertama difokuskan untuk lomba antar-SLB, sementara hari kedua dibuka untuk masyarakat umum dengan lomba diamond painting tingkat TK, melukis topeng 3D, dan membatik.
Momen paling menyita perhatian terjadi ketika Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., didaulat sebagai Bunda Disabilitas oleh Lembaga SLB se-Malang Raya. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ki Djoko Rendi, pembina Yayasan Thitek Tenger dan Sanggar Nareswari. Sri Untari hadir setelah menempuh perjalanan panjang dari Medan, transit di Jakarta, lalu mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.
Dalam sambutannya, Sri Untari menyampaikan bahwa Komisi E DPRD Jatim tengah merampungkan Perda Disabilitas. “Perda ini adalah wujud komitmen pemerintah daerah untuk menjamin hak setara penyandang disabilitas, termasuk akses pekerjaan dan layanan publik,” katanya. Ia juga membeberkan temuan dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang menyebut sejumlah perusahaan IT justru lebih memilih mempekerjakan anak disabilitas karena tingkat fokus mereka tinggi. Bahkan, hasil kerjanya disebut mencapai 1,5 kali lebih maksimal dibanding pekerja pada umumnya.
Sri Untari menambahkan, regulasi tersebut akan membentuk Komisi Disabilitas yang berwenang mendorong instansi pemerintah dan swasta mempekerjakan 1-2 persen penyandang disabilitas berpotensi. Ia pun mengingatkan para ibu hamil untuk mengurangi makanan olahan tinggi dan junk food, dengan menyebut asam propionat dalam roti komersial dan keju olahan sebagai zat yang berisiko mengganggu perkembangan saraf janin bila dikonsumsi berlebihan.
Hari kedua berlangsung lebih terbuka. “Kegiatan hari kedua adalah penampilan dan lomba-lomba untuk umum,” kata Ndaru Lazarus. Sekitar 20 pelaku UMKM ikut meramaikan, tujuh di antaranya dari Forum Disabilitas Kelurahan Bumiayu dan 13 lainnya hasil kolaborasi dengan SLB se-Kabupaten Malang. Meski sempat kekurangan panitia karena bertepatan dengan hari kerja, acara tetap berjalan lancar dengan bantuan mahasiswa dari Binus, Universitas Ma Chung, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Brawijaya.
Dukungan masyarakat sekitar juga terasa hangat. Karang Taruna Bumiayu menampilkan tari Gandrung pada hari pertama. Sementara itu, belasan ibu lansia anggota Karawitan Wibisono Laras Budoyo Bumiayu yang dilatih Bapak Sukardi membawakan sejumlah tembang seperti Ayun-ayun, Cep menengo, Kuwi opo kuwi, Gugur gunung, dan Bersih desa. Penampilan mereka menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Dari sisi prestasi, lomba mewarna topeng tingkat SD-LB dimenangkan Zikal Vegan Alfazil dari SLB Bimantara. Juara pertama tingkat SMP-LB diraih Atiqa Bilqis dari SMPN 17 Kelas Inklusi. Untuk lomba melukis topeng 3D tingkat SMA-LB, A. Dzalikal Denovan dari SLB PGRI keluar sebagai juara pertama. Sementara itu, parade tari kategori SLB dimenangkan SLBN Pembina Tingkat Nasional Bagian C.
Rangkaian acara ditutup dengan Sarasehan Budaya dan Sejarah Topeng Malang bersama sejarawan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum. Ndaru Lazarus berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. “Budaya bukan milik satu kelompok. Budaya adalah ruang bersama yang harus terbuka untuk siapa saja,” ucapnya.
Kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah tokoh dan lembaga, antara lain Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari, Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita, Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Muhamad Sailendra, serta General Manager Grand Mercure Mirama Hotel Malang Sugito. Dengan dukungan Dana Indonesiana, Griya Kriya Topeng Ramah Difabel berkomitmen melanjutkan program seni budaya inklusif secara berkelanjutan.
- Penulis: Syarif Wajabae


Ā Ā