Maju Caketum, Gus Kikin Bawa Amanah Tebuireng untuk Menjaga Ruh Perjuangan NU Abad Kedua
- account_circle Mascim
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Gus Kikin maju caketum PBNU dengan membawa amanah Pesantren Tebuireng untuk menjaga ruh perjuangan NU abad kedua di Muktamar Jombang. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Di tengah bursa calon Ketua Umum PBNU yang riuh oleh isu dan tarik-menarik kepentingan, satu nama hadir dengan tenang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur ini merupakan cicit pendiri NU, KH M. Hasyim Asy’ari, dan diusung PWNU Jawa Timur pada Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, pada Sabtu (29/8).
“Ini amanah, bukan niat pribadi. Saya hanya menjalankan keputusan para kiai dan keluarga besar Tebuireng,” kata Gus Kikin di Jombang, Kamis (27/8).
Ia dipercaya meneruskan kepemimpinan Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Proses suksesi itu berjalan penuh kehati-hatian, sejak 2016 Gus Sholah telah memintanya mempersiapkan diri melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy’ari. “Tebuireng bukan sekadar tempat mengabdi, melainkan penjaga sanad keilmuan dan tradisi yang menjadi ruh organisasi,” tuturnya.
Gus Kikin menilai NU tengah memasuki fase penting pada abad kedua. Menurutnya, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang menjaga ruh perjuangan, bukan sekadar memenangi kontestasi. “Ruh itu ada pada sanad keilmuan, adab, dan persatuan. Kalau itu hilang, NU kehilangan arah,” tegasnya.
Kiprah Gus Kikin di organisasi juga teruji. Ia pernah menjabat Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur menggantikan KH Marzuqi Mustamar, kemudian terpilih menjadi Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029. Pengalaman memimpin organisasi dan mengelola pesantren, ditambah rekam jejak di dunia usaha, menjadikannya figur yang memahami dua dunia sekaligus: keumatan dan kebangsaan, spiritualitas dan ekonomi.
Penilaian itu juga datang dari kalangan kiai. Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, menilai Gus Kikin memiliki kapasitas utuh. “Seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya,” ujar KH Junaidi. “Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh. Beliau juga seorang pengusaha, punya kekuatan di bidang jaringan untuk bagaimana membangun. Di media juga beliau pernah punya media televisi.”
Pada Juli 2026, PWNU Jawa Timur beserta PCNU se-Jawa Timur sepakat menugaskan Gus Kikin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Wakil Rais PWNU Jatim, KH Abdul Matin Djawahir, menegaskan penugasan itu murni keputusan bersama. “Ini bukan keinginan pribadi beliau. Kita tanya beliau siap atau tidak, katanya siap. Murni pendapat PCNU. Alhamdulillah seluruh PCNU bersama PWNU satu garis mengusung kiai,” katanya. “Selain dzurriyah KH M Hasyim Asy’ari, Gus Kikin juga memiliki pengalaman organisasi yang matang, bahkan hingga PBNU. Sosoknya juga teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah.”
Menjelang muktamar, ia memilih jalur silaturahmi ke pesantren dan tokoh di berbagai daerah, termasuk Makassar, tanpa gemuruh kampanye. “Kami hadir bukan untuk merebut jabatan, tetapi memastikan NU tetap menjadi rumah besar bagi semua golongan,” ucapnya.
Gagasan yang ia usung berpijak pada fondasi organisasi, penguatan kembali Qanun Asasi sebagai dokumen dasar NU, serta NU yang berpijak pada adab dan politik kebangsaan. Gus Kikin juga mengingatkan pentingnya menjaga sanad keilmuan dan persatuan di tengah tantangan zaman.
“Dari Tebuireng, kami membawa amanah untuk menjaga ruh perjuangan NU abad kedua,” tutupnya.
- Penulis: Mascim

