Breaking News
light_mode
Rabu, 1 Juli 2026

Hancurnya Tembok Berlin: Berkaitan dengan Sejarah Hari Buah Sedunia

  • account_circle Syarif Wajabae
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SDGs adalah rencana aksi global untuk menyudahi kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. WHO (Badan Kesehatan Dunia PBB) secara umum menganjurkan konsumsi buah dan sayur sebanyak 400 gram per orang, per hari.

Hari Buah Sedunia memiliki misi Perdamaian dan Kebinekaan, yang dirinci menjadi lima bagian:

  1. Menjadi semangat dan keyakinan akan perdamaian sepanjang masa.
  2. Menjadi gerakan agar semakin peduli dengan masyarakat miskin.
  3. Mengajak semua orang untuk menciptakan lingkungan maupun semangat hidup yang positif.
  4. Menggugah untuk lebih peduli akan kesehatan sekaligus mengurangi pemborosan makanan.
  5. Keanekaragaman buah menjadi simbol kebinekaan masyarakat dan budayanya. Dengan kata lain berbagi buah menjadi simbol solidaritas pertukaran budaya.

Untuk Tema atau slogan tahun 2026 ini adalah Plant, Learn, and Celebrate/ Tanam, Belajar, dan Rayakan. Makna tema tahun ini tidak cuma mengkampanyekan, akan tetapi mengajak masyarakat menanam berbagai jenis buah sekaligus mempelajari manfaatnya bagi kesehatan dan lingkungan, dan merayakan keberagamannya melalui kegiatan edukasi, berbagi, dan konsumsi buah bersama keluarga dan komunitas.

Baca Juga : Sejarah dan Makna Hari Musik Nasional 9 Maret: Menghormati W.R. Supratman dan Budaya Indonesia

Seperti dalam sejarah agama di dunia ini juga banyak kisah yang menjelaskan bahwa makanan yang sering dikonsumsi Para Nabi dan Pemuka agama serta Cendikiawan lampau adalah buah-buahan. Yang menarik adalah, sejak ditetapkan sebagai Hari Buah Sedunia sembilan belas tahun yang lalu, masing-masing tema memiliki pesan global yang sungguh penuh dengan spirit untuk kebaikan bersama disetiap tahunnya. Hal ini menjadi bukti dari nasihat lama, jika kita memberi satu kebaikan, maka Tuhan pasti membalas dengan banyak sekali kebaikan. Nasihat yang mungkin masih sering dianggap sepele di tengah banyaknya kepentingan yang bersumber dari sifat rakusnya manusia.

Sepertinya kita perlu berkaca dari Generasi Muda Jerman yang telah membuktikan kepada dunia, bahwa dendam, indoktrinasi, dan stigma bisa dirobohkan dan dihancurkan oleh kesadaran intelektual yang berbanding lurus dengan kesadaran etik secara bersama-sama, dengan menciptakan sejarah yang baik, sehat, penuh damai, yang bisa dimulai dan diwujudkan dari tempat yang dahulu penuh dengan konflik perang. Ya, disana, di Mauerpark, Prenzlauer Berg, Berlin. (SWB)

  • Penulis: Syarif Wajabae
expand_less