KH Miftachul Akhyar Sosok Penjaga Otoritas Ulama di Bursa Rais Aam PBNU
- account_circle Mascim
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

KH Miftachul Akhyar disebut sosok tepat pimpin Syuriyah PBNU abad kedua. Simak rekam jejak dan dukungan pengurus wilayah untuknya. (Foto@FB_NU Online News)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Nama KH Miftachul Akhyar mencuat sebagai figur penjaga marwah Syuriyah dalam bursa pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 di Jombang, Jawa Timur, Jum’at (28/8/2026). Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini dinilai memiliki kapasitas keulamaan
dan rekam jejak integritas untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia memasuki abad kedua.
Sanad keilmuan Kiai Miftach terbangun sejak usia delapan tahun. Ia menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Darul Ulum Rejoso, Sidogiri, hingga Al-Islah Soditan Lasem. Puncaknya, ia berguru kepada Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, salah satu ulama besar dunia yang sanadnya tersambung hingga Rasulullah SAW.
Rekam jejaknya menunjukkan konsistensi menjaga amanah. Pada 2022, Kiai Miftach memilih mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keputusan itu diambil untuk menghindari rangkap jabatan dan berfokus pada khidmah di NU. Langkah tersebut kemudian dibaca banyak pihak sebagai bukti bahwa ia tidak menjadikan posisi organisasi sebagai batu loncatan politik.
“Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut,” ujar Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar, saat dihubungi dari Jombang.
Keteguhan dalam menjaga otoritas Syuriyah juga terlihat saat organisasi menghadapi dinamika internal. Kiai Miftach berada di garis terdepan memastikan keputusan tertinggi organisasi tetap berada di tangan para ulama, bukan terseret arus kepentingan politik praktis. Sikap itu didukung 36 pengurus wilayah dan menjadi salah satu pendorong percepatan pelaksanaan muktamar.
Menjelang hajat besar NU tersebut, ia memimpin istighosah yang dihadiri ribuan nahdliyin sebagai upaya mendinginkan suasana dan merajut kembali kebersamaan. Pada pembukaan muktamar, Kiai Miftach menyampaikan Khutbah Iftitah berbahasa Arab yang selama ini dijaga secara turun-temurun oleh para pendahulu NU.
Dalam khutbah itu, ia mengungkapkan tiga kegembiraan: kelahiran Nabi Muhammad SAW, peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, dan terselenggaranya Muktamar ke-35 di Tambakberas, pesantren muassis KH Abdul Wahab Hasbullah. Ia juga mengingatkan bahwa fitnah adalah kondisi ketika kebenaran dan kebatilan bercampur sehingga tidak mudah dibedakan.
“Harapan kami KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU,” kata Ridwan.
Pengabdian Kiai Miftach juga mendapat pengakuan negara. Pada 2025, Presiden RI menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama sebagai penghargaan atas jasanya terhadap bangsa dan negara, khususnya dalam bidang keagamaan dan pendidikan.
Dengan modal keilmuan yang kokoh, rekam jejak integritas, serta dukungan dari berbagai pengurus wilayah, nama KH Miftachul Akhyar menjadi salah satu kandidat kuat yang disebut-sebut mampu membawa NU tetap teguh di jalur khittah pada abad kedua perjalanannya. Muktamirin diharapkan memilih pemimpin yang merdeka dari kepentingan politik praktis dan berpegang teguh pada tradisi ulama.
- Penulis: Mascim

