Sidoarjo, Ruang,co.id – Ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas perupa, hingga masyarakat umum memadati Dewan Kesenian Sidoarjo Art Center di Jalan Erlangga No 67, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Minggu (24/5/2026). Mereka berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Sidoarjo Menggambar” sebagai wadah ekspresi kreativitas sekaligus bagian dari rangkaian Bulan Indonesia Menggambar 2026.
Ketua Penyelenggara Sidoarjo Menggambar, Sentot Usdek, menyampaikan bahwa kegiatan ini diinisiasi untuk menumbuhkan kembali semangat berkreasi dan berkarya melalui media gambar. Ia menegaskan, antusiasme peserta sangat tinggi dan didominasi oleh generasi muda.
“Total peserta yang terdata dalam Sidoarjo Menggambar ini ada sebanyak 145 orang. Tak hanya pelukis profesional, acara ini juga diramaikan oleh komunitas perupa, masyarakat pecinta seni, mahasiswa, dan pelajar,” ujar Sentot Usdek.
Dominasi peserta dari kalangan pelajar menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggara. Sentot menyebut sekitar 75 persen dari total peserta merupakan pelajar yang datang dari berbagai sekolah di Sidoarjo. Ia menilai partisipasi tersebut sebagai indikator positif keberlangsungan ekosistem seni rupa di daerah itu.
“75 persen peserta yang mendaftar didominasi para pelajar. Hal ini menunjukkan banyak bibit-bibit pelukis hebat asal Sidoarjo,” tegasnya.
Semangat generasi muda tersebut tercermin dari karya yang dihasilkan. Rayyan, pelajar kelas 2 SDIT Nurul Hikmah berusia 9 tahun, memilih menggambar Monumen Jayandaru lengkap dengan unsur udang dan bandeng. Ia mengaku ingin memperkenalkan ikon Kota Delta Sidoarjo melalui goresannya.
“Saya menggambar Monumen Jayandaru dengan udang dan bandeng. Saya terinspirasi karena sering mendengar bahwa Monumen Jayandaru ini merupakan simbol Kota Delta Sidoarjo,” ucap Rayyan.
Peserta lainnya, Quaneisha Nada, pelajar berusia 12 tahun yang akrab disapa Nada, membawa pendekatan berbeda. Ia menuangkan kisah Dewi Sekardadu ke dalam kanvas dengan sentuhan gaya anime. Menurutnya, adaptasi visual tersebut dapat menjadi jembatan agar cerita rakyat lebih mudah diterima oleh generasi masa kini.
“Aku membuat lukisan Dewi Sekardadu dalam imajinasi anime. Tema kegiatan ini memang bebas, tetapi sebagai putri yang lahir di Sidoarjo, cerita rakyat Dewi Sekardadu harus dikenalkan ke dunia luas bahkan internasional, agar semakin banyak wisatawan datang ke Sidoarjo,” tegas putri dari pasangan Bagus Riyanto dan Kurnia Noviani itu.
Pihak penyelenggara menambahkan bahwa Sidoarjo Menggambar bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan ruang perjumpaan bagi seniman, komunitas, budayawan, dan masyarakat. Kegiatan ini dirancang untuk menghidupkan kembali budaya menggambar sebagai bagian dari kebudayaan, ekspresi sosial, dan semangat kebersamaan.
Melalui ruang-ruang kreatif seperti ini, penyelenggara berharap energi kreatif dari para peserta akan semakin mewarnai kota, komunitas, dan generasi. “Kami ingin budaya menggambar tetap tumbuh dan lestari di Sidoarjo,” tutup Sentot Usdek.

