Tangis Flamboyan Ungkap Luka Panjang di Balik Sekapan di Sidoarjo, Pernah Hamil dan Terancam Dibuang ke Cangar
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Korban anak Sidoarjo ungkap luka panjang sekapan, pendampingan psikologis intensif dilakukan demi pemulihan trauma mendalam. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Suara lirih seorang remaja perempuan berinisial O, berusia 14 tahun, asal Tanjung Perak Surabaya di Sidoarjo, menjadi saksi luka panjang akibat sekapan seorang pengamen.
“Ia sempat mengancam akan membuang saya ke jurang di alas Cangar, Mojokerto,” ungkap Abdillah Hakki, Penasihat Hukum (PH) korban, dari DP3AKB Sidoarjo, menirukan penuturan korban.
Korban kemudian mengenang sejumlah ancaman pelaku tersebut, yang membuatnya derai air mata korban jatuh dan mengaku tak berdaya.
Sejak Maret, korban sebut saja bunga Flamboyan, dibawa pelaku ke kosnya, di Desa Sepande, Kecamatan Candi.
“Kami tetap mendampingi, meski korban bukan warga Sidoarjo,” ujar Henni Kristiani, Kepala Dinas P3AKB Sidoarjo, yang menekankan fokus pada komitmen perlindungan korban.
Lebih jauh kuasa hukum PPA menjelaskan, “Korban mengalami kekerasan fisik berulang hingga keguguran. Saat ini asesmen psikologis intensif sedang dilakukan.”
Kisah getir yang dirasakan Flamboyan, bermula dari pertengkaran korban dengan ibunya pada Maret kemarin.
Pelaku yang diduga berinisial Sup (20), memanfaatkan celah, mengajaknya kabur mencari kost, lalu memaksa korban mengamen demi uang.
Sup, merupakan warga Blitar, yang merantau ke Sidoarjo. Pertemuannya dengan korban konon lewat medsos, berlanjut akrab.
Sup, kemudian mengajak Flamboyan kost pertama di Desa Kemiri, Kecamatan Kota Sidoarjo. Lalu berpindah – pindah kos terakhir di Desa Spande.
Ibu kos sempat curiga, karena pelaku mengaku menikah tanpa bukti. “Kami sudah mengingatkan agar anak dikembalikan, tapi pelaku menolak,” ujar PH korban menirukannya.
Selama hidup bersama di kost, korban diajak bersetubuh hingga mengaku hamil. Namun tak lama kehamilannya gugur, lantaran mengalami kekerasan fisik dari pelaku disaat pertengkaran.
“Korban mengaku sudah tidak betah hidup dengan kondisi begitu di kos, ingin pulang ke ibunya. Tapi korban mengaku diancam akan dibawa dan dibuang dari jembatan Cangar,” ungkap Hakki.
Informasi darinya pula, sebetulnya ibu korban pernah melapor ke kantor polisi setempat di Surabaya, bahwa ia kehilangan anaknya, yang tak kunjung pulang.
Pada Juli, tetangga kost memberi kabar keberadaan korban. Sang ibu kost segera melapor ke balai desa, hingga tim PPA bersama aparat mendapati korban di kos tersebut.
Peristiwa itupun langsung menjadi viral di Medsos. Ibu korban kemudian mendapatinya dari medsos.
Kini korban kembali bersama ibunya. “Kami akan kawal proses hukum dan pemulihan psikologisnya,” kata kuasa hukum, memastikan pendampingan berlanjut.
Kabar terakhir, Kepala Desa Spande baru saja berhasil membekuk Sup di tempat kosnya, dan menyerahkan pelaku ke Polresta Sidoarjo.
Kisah ini bukan saja sebuah catatan kriminal yang memilukan di Sidoarjo, melainkan potret rapuhnya anak di tengah ancaman sosial terutama di dalam lingkungan keluarga. Luka korban menjadi alarm keras bagi setiap keluarga masyarakat untuk lebih peduli.
- Penulis: Ruang Nurudin

