43 CPMI Ikuti Uji Kompetensi Cleaning Service di Medan untuk Syarat Kerja ke Malaysia
- account_circle Ruang M Andik
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Sebanyak 43 CPMI ikuti uji kompetensi cleaning service di Medan untuk penuhi syarat kerja ke Malaysia. Proses sertifikasi kini lebih cepat via e-certificate. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medan, Ruang.co.id – Sebanyak 43 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) mengikuti uji kompetensi bidang cleaning service di Tempat Uji Kompetensi (TUK) Lonari, Medan, Sumatra Utara. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026 merupakan langkah wajib untuk memenuhi persyaratan bekerja di luar negeri, khususnya Malaysia.
Direktur LSP Cleaning Service Nusantara, Hesnud Daulah menjelaskan, bahwa sertifikasi ini merupakan amanat undang-undang untuk memberikan perlindungan negara kepada setiap pekerja migran. “Setiap CPMI wajib memiliki sertifikat kompetensi sebelum berangkat ke luar negeri. Mereka wajib mengikuti pelatihan dulu, baru kemudian diuji kompetensikan,” tegasnya saat ditemui di sela kegiatan.
Lembaga Sertifikasi Profesi Cleaning Service Nusantara sendiri merupakan lembaga sertifikasi yang telah mendapatkan lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dengan lisensi tersebut, lembaga ini memiliki kewenangan untuk melaksanakan uji kompetensi dan menerbitkan sertifikasi bagi tenaga kerja cleaning service yang akan ditempatkan di luar negeri.
Hesnud menambahkan, proses sertifikasi kini mengalami terobosan baru dari BNSP. Terobosan itu berupa penerbitan sertifikat dalam format elektronik atau e-certificate. Menurutnya, langkah ini secara signifikan memangkas birokrasi dan mempercepat penerbitan sertifikat setelah peserta dinyatakan kompeten.
“Salah satu syarat untuk mengikuti uji kompetensi adalah calon peserta wajib memiliki akun Siapkerja. Setelah terdaftar melalui LSP ke BNSP, sertifikat yang terbit nanti berupa e-certificate. Ini adalah dobrakan baru dari BNSP untuk mempercepat proses turunnya sertifikasi,” terang Hesnud.
Para peserta yang mengikuti uji ini berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dari Sumatra Utara tetapi juga dari Aceh. Sebelum menghadapi ujian, mereka telah menjalani pelatihan intensif selama tiga hari di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Lonari Medan. Materi pelatihan menitikberatkan pada pemahaman teori, pengenalan alat, hingga praktik langsung.
Salah satu peserta, Malik Fajar dari Aceh Tenggara, mengaku mendapat banyak manfaat dari pelatihan tersebut. “Manfaatnya banyak, Pak. Yang tidak tahu menjadi tahu,” ujarnya singkat. Senada dengan itu, Tutamadirastuti, peserta asal lain, menyebut pelatihan memberinya metode baru agar bisa bekerja maksimal di negeri jiran.
Hesnud Daulah menutup keterangannya dengan harapan besar bagi para CPMI. Ia mengajak seluruh calon pekerja migran untuk selalu patuh pada prosedur resmi negara agar keselamatan dan hak-hak mereka terlindungi selama bekerja di luar negeri.
“Saya berharap seluruh CPMI yang mau berangkat ke luar negeri harus mengikuti aturan dan pedoman yang sudah diatur negara. Ini penting supaya mereka mendapatkan perlindungan yang optimal,” pungkasnya.
- Penulis: Ruang M Andik

