Pelatihan Kepemimpinan Berbasis Resiliensi, Dorong Santri Jadi Kader Penggerak Hidup Sehat Tanpa NAPZA dan HIV
- account_circle Ruang redaksi
- calendar_month 17 jam yang lalu
- print Cetak

Pelatihan kepemimpinan berbasis resiliensi di PP Hidayatullah Al-Muhajirin Bangkalan membentuk kader santri penggerak hidup sehat tanpa NAPZA dan HIV, oleh dr. Dyah Yuniati Sp.S. (Foto Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : dr. Dyah Yuniati, Sp.S
Bangkalan, Ruang.co.id – Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter, pengambilan keputusan, dan kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa. Karena itu, membekali remaja dengan pengetahuan kesehatan sekaligus kemampuan menghadapi tekanan dan pengaruh lingkungan menjadi langkah penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan produktif.
Semangat tersebut menjadi dasar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Kepemimpinan Berbasis Resiliensi: Membentuk Kader Penggerak Hidup Sehat Tanpa NAPZA dan HIV di PP Hidayatullah Al Muhajirin” yang dilaksanakan pada 9 Mei 2026 di Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin, Paserean Bawah, Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
Kegiatan yang melibatkan dosen, staf, dan mahasiswa FK UNUSA ini diikuti oleh 30 santri dan santriwati, dengan pendampingan ustaz dan ustazah pengurus pesantren. Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin tidak hanya berperan dalam pendidikan agama Islam dan pembentukan karakter santri, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial, kebangsaan, pemberdayaan, serta pelatihan kewirausahaan bagi remaja santri.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari pihak pesantren, dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa “kerjasama ini memberikan dampak baik bagi santri agar termotivasi menjadi remaja yang sehat dan selalu berkegiatan positif. Penyuluhan kesehatan terkait NAPZA dan HIV juga menambah pengetahuan baru disertai dengan dampak buruk yang bisa terjadi jika remaja masih nekat mencoba hal negatif tersebut”.
Penyuluhan dilakukan secara interaktif melalui pemaparan materi menggunakan slide PowerPoint, leaflet informatif, serta diskusi dan tanya jawab. Materi yang diberikan meliputi pengenalan NAPZA dna HIV, dampak penyalahgunaannya NAPZA, cara penularan HIV, serta upaya pencegahannya. Santri juga mendapatkan materi mengenai resiliensi, yaitu kemampuan untuk menghadapi tekanan dan tantangan secara positif, serta kepemimpinan dan peran kader kesehatan santri.
Dalam kegiatan tersebut, remaja ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai agen penggerak perubahan. Kader kesehatan santri diharapkan mampu menjadi teladan, mengingatkan teman sebaya, menyampaikan informasi kesehatan yang benar, serta mendorong lingkungan pesantren untuk menerapkan pola hidup sehat dan kegiatan positif.
Antusiasme santri terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diberikan sehingga diskusi berlangsung hidup dan dua arah.
Efektivitas kegiatan dievaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 79 pada pre-test menjadi 81,3 pada post-test. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan dapat menambah pengetahuan peserta mengenai NAPZA, HIV, resiliensi, dan peran kader kesehatan.
Ketua kegiatan pengabdian masyarakat, dr. Dyah Yuniati, Sp.S, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal terbentuknya kelompok kader remaja yang aktif di lingkungan pesantren.
“Kegiatan ini semoga bisa menjadi awal mula terbentuknya kelompok kader remaja yang berperan aktif mengingatkan teman sebaya untuk terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan kegiatan positif dan menjauhi kegiatan negatif yang berdampak buruk pada kehidupan. Masa remaja merupakan masa yang indah dan produktif, perlu diisi dengan kegiatan positif dan bermanfaat.”
Kegiatan kemudian ditutup dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi penghuni pondok, meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, konsultasi kesehatan, serta pemberian obat apabila diperlukan.
Pesan yang dibawa dalam kegiatan tersebut sederhana, tetapi penting: “Remaja yang tangguh adalah remaja yang mampu memimpin dirinya sendiri, menjaga kesehatan, serta menginspirasi orang lain untuk hidup sehat tanpa NAPZA dan HIV.”
- Penulis: Ruang redaksi

