Breaking News
light_mode
Minggu, 13 September 2026
Beranda » Kolom » Membumi Bersama Padel: Dari Lahan Sempit Meksiko ke Olahraga Massal Indonesia

Membumi Bersama Padel: Dari Lahan Sempit Meksiko ke Olahraga Massal Indonesia

  • account_circle Ruang redaksi
  • calendar_month Kamis, 25 Sep 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Muhammad Ali Affandi
Wakil Ketua I KONI Jawa Timur

Ruang.co.id – Sebagai Wakil Ketua KONI Jawa Timur, saya sering ditanya soal tren olahraga baru yang mulai populer di Indonesia, salah satunya padel. Bagi sebagian orang, padel tampak seperti olahraga eksklusif, hanya bisa dimainkan oleh kalangan tertentu di lapangan-lapangan modern dengan biaya sewa yang relatif tinggi. Narasi itu tidak sepenuhnya salah, karena memang hari ini fasilitas padel di Indonesia masih terbatas, terkonsentrasi di kota besar, dan identik dengan gaya hidup urban. Tetapi kalau kita menengok ke sejarahnya, padel justru lahir dari hal yang sederhana, bahkan sangat down to earth. Olahraga ini berangkat dari keterbatasan, bukan dari kemewahan.

Padel pertama kali muncul pada tahun 1969 di Acapulco, Meksiko. Seorang pengusaha bernama Enrique Corcuera ingin membangun lapangan tenis di halaman rumahnya. Namun lahan yang tersedia terlalu sempit, terhimpit tembok dan dinding. Dari keterbatasan itu lahirlah inovasi: lapangan tenis versi mini, dengan dinding sebagai bagian dari permainan, dan raket yang lebih sederhana. Olahraga baru itu dinamai padel. Artinya, sejak awal padel lahir bukan dari resort mewah atau klub elit, tetapi dari kreativitas rakyat biasa yang berusaha mengakali ruang sempit untuk tetap bisa berolahraga.

Dari Meksiko, padel kemudian menyebar ke Spanyol melalui seorang bangsawan bernama Alfonso de Hohenlohe. Dari Spanyol, olahraga ini berkembang cepat ke Argentina, lalu merambah Eropa, Timur Tengah, hingga Asia. Dalam beberapa dekade terakhir, padel tumbuh pesat dan kini menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Namun, yang sering dilupakan adalah akar sejarahnya: padel bukanlah olahraga elit, ia lahir dari keterbatasan. Justru di situlah nilai yang seharusnya kita rawat.

Baca Juga  Dua Jalan Menuju Pemakzulan Bagi Bupati Pati

Sebagai bagian dari KONI, saya melihat ada dua wajah padel hari ini. Di satu sisi, ia membawa energi baru: dinamis, mudah dimainkan, fun, dan cocok untuk dimainkan berpasangan. Padel cepat dipelajari, sehingga menarik bagi pemula maupun atlet lintas cabang. Banyak kalangan muda tertarik karena padel menghadirkan kombinasi antara olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Tetapi di sisi lain, kita juga harus jujur bahwa padel berisiko terjebak dalam stigma eksklusifitas. Biaya sewa yang relatif mahal, fasilitas yang terbatas, dan citra olahraga kalangan atas membuatnya sulit diakses oleh masyarakat luas. Inilah tantangan kita bersama: bagaimana men-down to earth-kan padel, agar ia tidak berhenti sebagai tren elit, tapi tumbuh menjadi olahraga rakyat.

KONI Jawa Timur percaya, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, demokratisasi akses. Padel harus keluar dari pagar-pagar eksklusif. Fasilitas padel bisa dikembangkan di ruang publik, di kampus, sekolah, bahkan taman kota. Sama seperti futsal yang dulu hanya ada di pusat perbelanjaan lalu berkembang ke gang-gang kota, padel juga bisa dipopulerkan lewat lapangan komunitas yang sederhana. Kedua, harga yang terjangkau. Jika biaya bermain tetap tinggi, padel akan menjadi olahraga gaya hidup sesaat. Kita perlu model bisnis yang inovatif: klub komunitas dengan iuran rendah, program subsidi silang dengan sponsor, hingga sinergi dengan pemerintah daerah untuk membangun lapangan berbasis publik.

Ketiga, program inklusi untuk semua kalangan masyarakat. Bayangkan jika padel masuk ke kurikulum olahraga sekolah atau diperkenalkan lewat ekstrakurikuler di SMP dan SMA. Dengan lapangan yang lebih kecil dan permainan yang menyenangkan, padel bisa menjadi alternatif yang menarik bagi generasi muda. Dari sinilah ekosistem atlet bisa lahir, dari akar rumput, bukan dari segelintir klub eksklusif. Keempat, narasi yang membumi. Kita harus menceritakan sejarah padel dengan jujur: bahwa olahraga ini lahir dari garasi sederhana di Meksiko, bukan dari ballroom hotel. Bahwa padel adalah olahraga rakyat, yang bisa dimainkan siapa saja, tanpa memandang kelas sosial.

Baca Juga  Ketika Kursi Bupati Bergetar di Alun-Alun Pati

Kita bisa belajar dari perjalanan olahraga lain di Indonesia. Futsal, misalnya. Dulu ia dianggap mahal, hanya ada di pusat kota, bahkan sempat dicap olahraga elit urban. Tetapi begitu lapangan-lapangan futsal komunitas dibangun, olahraga ini menjelma menjadi fenomena massal. Begitu pula badminton. Pada awalnya, ia identik dengan kelas menengah, tetapi lewat narasi “dari kampung bisa juara dunia,” badminton menjadi olahraga rakyat yang membanggakan bangsa. Padel pun bisa menempuh jalan yang sama, jika kita mengembalikannya pada akarnya: sederhana, inklusif, dan menyenangkan.

Saya melihat potensi besar jika padel diarahkan dengan benar. Padel bisa menjadi olahraga yang mempersatukan. Dengan format ganda, ia mendorong kebersamaan, interaksi sosial, dan semangat komunitas. Bayangkan jika suatu hari nanti lapangan padel hadir di kampung-kampung kota, berdampingan dengan lapangan voli dan futsal. Anak-anak muda bisa berlatih, keluarga bisa berkumpul, UMKM di sekitar lapangan bisa hidup, dan olahraga ini menjadi bagian dari denyut sosial masyarakat. Inilah yang saya maksud dengan men-down to earth-kan padel: membawanya dari citra eksklusif ke fungsi sosial yang nyata.

Lebih jauh lagi, padel juga bisa menjadi arena pembinaan atlet masa depan. Dengan pertumbuhan global yang sangat cepat, peluang padel masuk ke agenda multi-event internasional semakin besar. Jika kita bergerak lebih awal, Indonesia bisa menyiapkan atlet padel sejak dini. Dan pembinaan itu tidak harus dimulai dari klub elit, melainkan dari sekolah, kampus, dan komunitas. Seperti kata pepatah, juara dunia lahir dari lapangan kampung, bukan dari fasilitas mahal semata.

Sebagai Wakil Ketua KONI Jawa Timur, saya melihat padel bukan hanya olahraga baru, tetapi juga simbol tantangan kepemimpinan olahraga: bagaimana membawa sesuatu yang lahir di ruang sempit Meksiko agar benar-benar bisa menjadi ruang besar bagi rakyat Indonesia. Bagi saya, padel adalah cermin bahwa olahraga tidak boleh terjebak eksklusifitas. Karena sejatinya, olahraga adalah hak publik. Ia harus inklusif, membumi, dan memberikan manfaat sosial.

Baca Juga  Sentuh dan Bayar: Revolusi QRIS Tap dan Arah Masa Depan Dompet Digital

Sejarah padel memberi kita pelajaran penting. Olahraga ini lahir bukan dari kemewahan, tetapi dari keterbatasan. Dan justru dari keterbatasan itulah lahir kreativitas yang akhirnya mendunia. Filosofi ini sejalan dengan semangat olahraga Indonesia: bahwa prestasi bisa lahir dari akar rumput, dari semangat gotong royong, dari tekad untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang. Maka padel harus diarahkan kembali pada akarnya: sederhana, menyenangkan, dan inklusif.

Saya percaya, jika kita mampu men-down to earth-kan padel, maka olahraga ini bisa menjadi lebih dari sekadar tren. Ia bisa menjadi bagian dari bagian dari olahraga kita, membangun interaksi sosial, menghidupkan ekonomi lokal, dan bahkan melahirkan atlet-atlet yang mengharumkan Indonesia di panggung dunia. Karena pada akhirnya, hanya olahraga yang membumi yang akan bertahan. Dan hanya olahraga yang inklusif yang akan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

  • Penulis: Ruang redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mitos Gula Membuat Anak Hiperaktif

    Mitos atau Fakta: Gula Membuat Anak Hiperaktif

    • calendar_month Minggu, 4 Agt 2024
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Sudah lama beredar anggapan bahwa konsumsi gula berlebih dapat membuat anak menjadi hiperaktif. Namun, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim tersebut. Jawabannya adalah: MITOS! Mengapa Mitos Ini Sulit Dihilangkan? Kadang, setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis, anak-anak memang terlihat lebih berenergi. Namun, ini lebih berkaitan dengan peningkatan […]

  • Tim Child Friendly City Initiative

    Perkuat Sistem Perlindungan Anak, UNICEF Kunjungi Surabaya

    • calendar_month Selasa, 26 Mar 2024
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Untuk perkuat sistem perlindungan anak, tim Child Friendly City Initiative (CFCI) UNICEF, yang terdiri dari para ahli perlindungan anak global dan regional, melakukan kunjungan khusus ke Kota Surabaya (26/3/2024). “Kunjungan ini merupakan bagian dari proses penilaian Kota Surabaya untuk menjadi anggota CFCI tingkat dunia,” ujar Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa, Arie Rukmantara.   […]

  • Jembatan Palembang

    Mengenal Budaya Kesenian Tradisional Daerah Sumatera Selatan

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Di balik keindahan alam dan keramahan masyarakat Sumatera Selatan, tersimpan rahasia yang terungkap melalui kesenian tradisional. Tarian-tarian yang penuh makna, musik yang menggema, dan juga ukiran yang memukau adalah cerminan jiwa masyarakat yang kaya akan nilai-nilai luhur. Apa saja yang bisa kita pelajari dari kesenian tradisional Sumatera Selatan? Provinsi ini dihuni oleh […]

  • Film Captain America : Brave New World di Surabaya,Sam Wilson mnejadi captain America sejati

    Sinopsis Film Captain America: Brave New World dengan Aksi Seru, Musuh Baru & Kemunculan Red Hulk!

    • calendar_month Minggu, 9 Feb 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Pernah nggak sih kebayang kalau Kapten Amerika harus melawan musuh yang bukan hanya pintar, tapi juga monster berwarna merah yang jauh lebih kuat dari Hulk biasa? Yap, rumor yang selama ini beredar akhirnya terjawab—Red Hulk bakal muncul di Captain America: Brave New World! Film terbaru Marvel ini menjadi bagian dari fase baru MCU […]

  • Arus peti kemas TPS Juli 2026

    Arus Peti Kemas TPS Naik 11,79% di Tengah Transisi Modernisasi

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Mascim
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan kenaikan volume arus peti kemas sebesar 11,79% pada bulan Juli 2026. Pertumbuhan month-on-month ini menandakan aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Tanjung Perak tetap bergairah di tengah proses modernisasi peralatan. Berdasarkan data yang dirilis pada Jumat (8/8), volume peti kemas meningkat dari 116 ribu Twenty-foot Equivalent Units (TEUs) di […]

  • Efek tidak konsumsi nasi untuk tubuh

    Tidak Konsumsi Nasi untuk Tubuh, Apa yang Terjadi Jika Berhenti Makan Nasi?

    • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Makan tanpa nasi? Bagi sebagian orang, itu seperti “hidup tanpa warna”. Apalagi di Indonesia, nasi sudah menjadi makanan pokok yang wajib ada di setiap hidangan. Bahkan, ada yang merasa belum makan jika belum menyantap nasi, meskipun sudah menghabiskan satu porsi mie atau roti. Namun, belakangan ini semakin banyak orang mulai mengurangi atau bahkan […]

expand_less