Perkenalkan Hutan Indonesia Dari Perspektif Yang Lebih Luas Kemenhut Gelar Hutan.id Fest 2026
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 42 menit yang lalu
- print Cetak

Pembukaan Hutan.id Fest 2026 di Grand City Mall Surabaya oleh Kemenhut RI untuk memperkenalkan hutan Indonesia kepada generasi muda. (Gentur)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Kementrian Kehutanan ( Kemenhut ) RI menggelar Hutan.id Fest 2026 di Grand City Mall, Surabaya, Jumat, (11/9). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Bangga hutan Indonesia wilayah Jawa – Bali – Nusa Tenggara – Sulawesi.
Acara yang digelar tiga hari itu, dibuka Staf Ahli Menteri bidang ekonomi dan perdagangan internasional Kemenhut RI Ir Dida Mighfar Ridha Msi. Acara ini menjadi ajang untuk memperkenalkan hutan dalam perspektif yang lebih luas kepada masyarakat khususnya generasi muda.
Menurut Dida, kegiatan ini digelar untuk memperkenalkan kepada masyarakat akan pentingnya hutan sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga. Karena hutan di Indonesia selain sebagai paru-paru dunia yang kawasannya dipenuhi pepohonan, di dalamnya juga terdapat keanekaragaman hayati, sumber pangan, bahan baku berbagai produk, ruang wisata alam.
“Didamping itu hutan kita juga sebagai ekosistem yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat. Perspektif inilah yang kita angkat dalam penyelenggaraan ini,” ujar Dida.
Menurutnya, acara ini berbeda dari pameran yang hanya sekadar memperkenalkan produk. Festival ini menjadi ruang untuk melihat hutan dari berbagai sisi. Masyarakat khususnya generasi muda atau Gen Z dapat mengenal inovasi berbasis hasil hutan, produk hijau yang dikembangkan pelaku usaha lokal. Dalam Festifal ini, generasi muda juga diajak mengikuti diskusi secara terbuka mengenai pengelolaan hutan Indonesia.
” Di festival ini kami juga berupaya memperkenalkan hasil hutan bukan kayu dan berbagai produk turunannya. Namun leboh fari itu, hutan juga menyediakan sesuatu yang lebih banyak daripada kayu,” tukas Dida.
Sesuatu yang lebih banyak dari kayu tersenut anatara lain, berbagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan menjadi pangan, bahan obat, minyak atsiri, bahan kerajinan, kosmetik, hingga produk kreatif bernilai ekonomi lainnya.
Namun, tambah Dida, pemanfaatan hutan tersebut tentu perlu dilakukan dengan prinsip keberlanjutan. Nilai ekonomi hasil hutan seharusnya berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem sehingga masyarakat memperoleh manfaat tanpa mengorbankan keberadaan hutan untuk generasi berikutnya.
Pendekatan semacam ini juga pernah diperkenalkan dalam berbagai kegiatan edukasi Hutan Itu.id, yang menunjukkan bahwa hutan memiliki fungsi ekologis, sosial, budaya dan ekonomi. Hutan juga menjadi habitat berbagai satwa dan tumbuhan yang memiliki karakteristik khas di setiap wilayah Indonesia.
Konsep wisata hutan yang baik bukan sekadar membawa wisatawan masuk ke kawasan berhutan. Lebih penting lagi, wisata tersebut harus memberikan pengalaman mengenai bagaimana ekosistem bekerja dan mengapa kawasan hutan perlu dilindungi.
Pesan penting lainnya dalam acara ini adalah bahwa konservasi tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon. Perlindungan hutan mencakup menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi tekanan terhadap ekosistem, mendukung pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat.
Dalam acara ini hadir para kepala dinas kehutanan maupun yang mewakili dari Jawa, Bali, NTT hingha Sulteng. Dinas kehutanan Jawa Timur diwakili Kepala UPT Perbenihan Tanaman Hutan, Didik Kriswantara. Kemudian pata peserta Pameran selain dari Dinas kehutanan perusahaan pengelola hasil Hutan juga kelompok kelompok Pecinta Alam, seniman dan mahasiswa dari berbagai Universitas di Jawa Timur seperti Unair, Unibraw dan beberapa lainnya.
- Penulis: Ruang Gentur

