KH Zahrul Azhar Harap AHWA Pilih Pemimpin PBNU Independen Tanpa Intervensi
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
- print Cetak

Gus Hans berharap AHWA memilih pemimpin PBNU secara independen tanpa intervensi usai Muktamar ke-35 NU menyepakati mekanisme voting. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, H.M. Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans, berharap Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menentukan pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara independen tanpa intervensi. Harapan itu ia sampaikan menyusul keputusan Muktamar ke-35 NU mengubah mekanisme pemilihan ketua umum menjadi voting, Minggu (30/8/2026).
Perubahan mekanisme tersebut disepakati 401 muktamirin dari total 552 suara sah. Sebanyak 150 suara menginginkan mekanisme lama dipertahankan, sementara satu suara abstain. Artinya, opsi perubahan mendapat sekitar 73 persen suara.
Gus Hans menilai, perubahan sistem tidak boleh menggerus independensi para kiai yang duduk di AHWA. Mereka harus memilih berdasarkan nurani, bukan karena tekanan atau kepentingan sesaat.
“Saya berharap AHWA benar-benar bisa memilih tanpa ada intervensi dan menggunakan batin nurani yang dimiliki,” ujar Gus Hans di Jombang.
Ia meminta para kiai AHWA membaca rekam jejak para calon secara objektif. Jangan sampai pilihan justru menguatkan pihak yang selama ini menjadi bagian dari persoalan.
“Sehingga para kiai bisa menentukan pilihan tanpa ada lagi sisa residu dari konflik yang kemarin,” katanya.
Gus Hans menilai peluang para kandidat masih terbuka lebar. Belum ada satu pun sosok yang bisa diklaim sebagai kandidat terkuat karena komunikasi politik masih cair.
“Semua masih terbuka. Belum bisa mengklaim siapa yang paling kuat. Semuanya tergantung komunikasi last minute kepada para kiai yang ada di AHWA,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, perubahan mekanisme tidak otomatis menghapus potensi politik uang maupun intimidasi. Menurutnya, hal itu masih sebatas dugaan yang perlu dicermati.
“Proses ini kan kita bicara dugaan. Dugaan itu bisa saja akan terjadi atau sudah terjadi,” katanya.
Gus Hans enggan menyebut perubahan sistem itu sebagai manipulasi. Ia memilih istilah pengondisian.
“Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah bagian dari manipulasi, tidak, tapi lebih tepatnya adalah hasil dari sebuah pengondisian,” kata Gus Hans.
- Penulis: Ruang Gentur

