PFI dan IJTI Surabaya Gelar Doa Bersama untuk Rekan yang Hilang di Selat Sunda
- account_circle Ruang redaksi
- calendar_month 6 menit yang lalu
- print Cetak

Doa bersama PFI dan IJTI Surabaya untuk rekan jurnalis yang hilang di Selat Sunda. (ISt)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Poin Utama:
- PFI Surabaya dan IJTI menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di Selat Sunda.
- Ketua PFI Surabaya Suryanto menegaskan kegiatan ini bukan aksi, melainkan bentuk kepedulian dan harapan.
- PFI mendorong pelatihan mitigasi risiko dan sertifikasi keselamatan bagi jurnalis yang bertugas di wilayah berbahaya.
Ruang.co.id – PFI Kota Surabaya bersama IJTI Surabaya dan sejumlah wartawan menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Kegiatan berlangsung di depan Taman Apsari, Surabaya, Jumat (11/9/2026), dipimpin Humas YDSF Khoirul Anam.
Ketua PFI Surabaya Suryanto menegaskan doa bersama ini bukan aksi, melainkan bentuk harapan dan kepedulian sesama jurnalis. “Ini sebenarnya bukan aksi, tapi ini adalah doa bersama untuk lima orang jurnalis dan tiga orang kru yang saat ini masih dalam pencarian. Harapan kami kelima jurnalis dan tiga orang kru ini bisa segera ditemukan dengan selamat,” ujar Suryanto.
Lima jurnalis yang masih dicari adalah M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas). Para wartawan menyalakan lilin sebagai simbol harapan. “Simbol lilin adalah simbol harapan dari kami semua agar kelima dan tiga orang rekan kami itu bisa segera ditemukan,” kata Suryanto.
PFI Nasional terus berkoordinasi dengan organisasi jurnalis, tim SAR gabungan, dan pihak keluarga. Komunikasi juga dilakukan dengan media tempat para jurnalis bekerja. Untuk Firman Daus, pihak Anadolu Agency telah mengetahui kejadian dan menghubungi Tim SAR dan Basarnas.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dan mitigasi risiko jurnalis di lapangan. Suryanto mengatakan jurnalis harus mendekat objek liputan, tetapi tetap menghitung jarak aman. “Sebagai jurnalis, kita memang harus mendekat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh terlalu jauh. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung,” katanya.
PFI Surabaya berencana memperkuat pembekalan keselamatan melalui pelatihan mitigasi risiko bencana. PFI juga mendorong perusahaan media memberikan sertifikasi keselamatan sebelum menugaskan jurnalis ke wilayah berisiko tinggi. “Harusnya sebelum jurnalis diberangkatkan ke peliputan konflik atau wilayah konflik, media sendiri sudah membekali dengan sertifikasi-sertifikasi khusus,” tutur Suryanto.
- Penulis: Ruang redaksi

