Breaking News
light_mode
Sabtu, 12 September 2026
Beranda » Kolom » Suara Tanpa Nurani: Menjaga Etika dan Cinta dalam Komunikasi Publik Berbasis AI di Ranah Keluarga

Suara Tanpa Nurani: Menjaga Etika dan Cinta dalam Komunikasi Publik Berbasis AI di Ranah Keluarga

  • account_circle Ruang redaksi
  • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aulia Dikmah Kiswahono
Pranata Humas Ahli Pertama Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur

Ruang.co.id – Di tengah era disrupsi digital, kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam komunikasi publik menjadi keniscayaan. AI kini digunakan dalam berbagai fungsi, mulai dari merancang narasi kebijakan, merespons keluhan masyarakat, hingga menyusun strategi kampanye perubahan perilaku. Namun, saat algoritma menggantikan manusia dalam menyampaikan pesan khususnya dalam konteks keluarga dan nilai muncul pertanyaan mendasar: apakah suara yang terdengar masih membawa nurani?

Transformasi digital di sektor publik telah memunculkan dilema etis yang belum sepenuhnya terjawab. Dalam Global Forum on the Ethics of Artificial Intelligence 2024 di Slovenia, UNESCO menekankan pentingnya pendekatan etis, transparan, dan berpusat pada manusia dalam pemanfaatan AI, khususnya untuk sektor publik. Melalui inisiatif bersama G7, UNESCO menggarisbawahi perlunya tata kelola AI yang mempertimbangkan hak asasi manusia, privasi, dan keberagaman budaya. Namun, UNESCO juga mengakui bahwa tantangan besar masih mengemuka dalam menjaga aspek emosional, etis, dan inklusif dalam komunikasi yang dijalankan oleh negara.

Dalam konteks keluarga Indonesia, komunikasi tidak sekadar proses transfer informasi. Ia melibatkan nilai-nilai tradisional, emosi, dan kepercayaan yang telah mengakar turun-temurun. Ketika pesan tentang parenting, kesehatan reproduksi, atau 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) disampaikan melalui sistem otomatis tanpa intervensi manusia, risikonya bukan hanya kehilangan makna, tetapi juga degradasi nilai-nilai kemanusiaan.

Zuboff, seorang profesor Harvard, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (2019), memperingatkan bahwa teknologi yang lepas dari kontrol manusia dapat mengubah cara kita berinteraksi secara fundamental. Ia menegaskan bahwa pengalaman manusia kini menjadi bahan baku untuk data perilaku, sehingga tujuan teknologi bergeser dari sekadar membantu menjadi membentuk perilaku. Dalam konteks komunikasi keluarga, ini berarti hilangnya esensi kasih sayang dan empati yang menjadi fondasi hubungan manusia.

Baca Juga  Penyalahgunaan Antibiotik: Bahaya Resistensi dan Solusi di Era Kesehatan Modern

Di Indonesia, data dari Data Reportal 2024 mencatat terdapat 139 juta pengguna aktif media sosial, atau setara dengan 49,9% dari total populasi. Jika dilihat dari populasi pengguna internet, angka ini bahkan mencapai 75%, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Khusus kelompok remaja, data Kementerian Komunikasi dan Informatika 2023 menunjukkan bahwa 93,52% remaja aktif menggunakan media sosial, dengan WhatsApp menjadi platform dominan yang juga kerap menjadi saluran komunikasi dalam keluarga.

Fenomena ini mengisyaratkan potensi besar pemanfaatan chatbot dan AI dalam komunikasi publik yang menyasar keluarga. Namun, seiring peluang tersebut, muncul pula keraguan mendasar: mampukah komunikasi yang disampaikan mesin sepenuhnya memahami konteks emosional dan nilai budaya dalam keluarga? Banyak kalangan mulai mempertanyakan efektivitas pesan-pesan sensitif seperti seputar parenting atau kesehatan reproduksi jika disampaikan tanpa sentuhan empati manusia. Dalam ranah inilah keterlibatan manusia tetap krusial, bukan sekadar sebagai pengawas teknologi, tetapi sebagai penjaga nurani dalam setiap interaksi.

UNESCO dalam rekomendasinya mengenai Etika Kecerdasan Buatan menekankan prinsip “human oversight” sebagai pilar utama. Prinsip ini dikenal dengan istilah Human-in-the-Loop (HITL), yaitu memastikan ada pengawasan dan intervensi manusia dalam setiap tahapan proses kerja AI. Penerapan prinsip ini sangat relevan untuk konteks komunikasi publik keluarga di Indonesia.

Dalam program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang diusung Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, penerapan HITL menjadi sangat penting. Pesan-pesan seputar keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, maupun pendidikan seksual tidak bisa hanya disampaikan melalui pendekatan teknis. Diperlukan pemahaman akan konteks budaya, nilai-nilai lokal, serta sensitivitas emosional yang hanya bisa dipahami oleh manusia.

Baca Juga  Literasi Sejak Pra Nikah! Solusi Membangun Generasi Berbudaya Baca di Indonesia

Contoh kasus bisa dilihat dari kampanye digital seputar ASI eksklusif. AI mungkin mampu menyusun pesan yang secara medis tepat. Namun, tanpa pemahaman atas tekanan sosial yang dihadapi ibu muda, tantangan ekonomi keluarga, atau stigma terhadap ibu bekerja, pesan tersebut berisiko tidak relevan atau bahkan menyakitkan bagi audiens.

Komunikasi dalam keluarga memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan komunikasi publik lainnya. Pertama, ia bersifat personal dan emosional. Kedua, ia sarat dengan nilai-nilai budaya yang kontekstual. Ketiga, komunikasi keluarga harus peka terhadap perbedaan generasi, status sosial ekonomi, dan latar belakang pendidikan.

Tanpa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, penerapan AI dalam komunikasi keluarga bisa kontraproduktif. Misalnya, pesan KB yang menggunakan istilah medis mungkin sulit dipahami masyarakat berpendidikan rendah. Sebaliknya, pesan yang terlalu disederhanakan bisa dianggap merendahkan oleh kelompok terdidik. Bahkan, jika tidak memahami nilai budaya lokal, pesan AI bisa saja bertentangan dengan norma masyarakat, menimbulkan resistensi terhadap program pemerintah.

Penolakan total terhadap AI tentu bukan solusi. Teknologi ini memiliki potensi efisiensi dan jangkauan yang besar. Yang dibutuhkan adalah integrasi AI dengan kebijaksanaan manusia. Strategi yang bisa diterapkan antara lain: sistem verifikasi berlapis yang melibatkan ahli multidisiplin; pelatihan AI menggunakan dataset yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia; dan mekanisme umpan balik dari masyarakat untuk evaluasi berkelanjutan.

UNESCO melalui G7 Toolkit for AI in the Public Sector telah menyediakan kerangka kerja implementasi AI yang bertanggung jawab. Prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik menjadi kunci dalam memastikan bahwa komunikasi berbasis AI tetap manusiawi. Dalam konteks keluarga, ini berarti masyarakat harus diberitahu kapan mereka berbicara dengan mesin, dan kapan dengan manusia.

Baca Juga  Membumikan Pancasila Melalui Kampus Berdampak sebagai Pemandu Aksi Nyata

Berdasarkan uraian di atas, beberapa rekomendasi strategis yang bisa diusulkan antara lain: pertama, menyusun standar etika khusus untuk komunikasi AI dalam ranah keluarga yang berbasis nilai budaya Indonesia. Kedua, memperkuat kapasitas SDM pemerintah dan lembaga keluarga dalam mengawasi komunikasi AI. Ketiga, membangun infrastruktur teknologi yang memungkinkan integrasi yang mulus antara sistem otomatis dan intervensi manusia.

Selain itu, indikator keberhasilan komunikasi perlu diperluas, tak hanya mengukur efektivitas penyampaian informasi, tetapi juga dampak emosional dan kultural dari pesan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa AI benar-benar menjadi alat bantu yang memperkuat, bukan menggantikan, nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, tantangan utama kita bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi bagaimana menjaga agar komunikasi publik tetap memiliki roh kemanusiaan. Karena dalam konteks keluarga di mana cinta, kepercayaan, dan empati menjadi landasan utama suara tanpa nurani bukanlah solusi. AI mungkin bisa bicara, tapi hanya manusia yang bisa benar-benar menyentuh hati.

 

Referensi:
DataReportal (2024). Digital 2024: Indonesia. Retrieved from https://datareportal.com;

UNESCO (2024). Ethics of Artificial Intelligence – G7 Toolkit for the Public

Sector:
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. Public Affairs

  • Penulis: Ruang redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • belajar budaya Indonesia

    Mahasiswa dan Dosen Asing Menyelami Budaya Indonesia di Surabaya

    • calendar_month Selasa, 9 Sep 2025
    • account_circle Mascim
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – YPPI Schools di jantung Kota Surabaya baru-baru ini menjadi pusat pertukaran budaya internasional yang sangat dinamis. Gelombang semangat dari puluhan mahasiswa dan dosen asing membanjiri kampus tersebut, mereka adalah bagian dari program unggulan CommTECH Highlight 2025. Program kolaborasi antara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan YPPI Schools ini dirancang khusus untuk menawarkan pengalaman […]

  • Silent treatment

    Apa Itu Silent Treatment? Fenomena yang Harus Kamu Kenali

    • calendar_month Sabtu, 21 Des 2024
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Capek deh sama yang suka main-main perasaan! Kenapa sih ada aja orang yang tiba-tiba nge-block atau nggak bales chat? Silent treatment emang bikin kesel banget, kan? Kita bedah bareng yuk, apa sih yang sebenarnya ada di balik sikap kayak gitu? Silent treatment adalah salah satu bentuk komunikasi pasif-agresif yang sering terjadi dalam […]

  • Revitalisasi Hi-Tech Mall Surabaya

    Nyawa Baru Transformasi Eks Hi-Tech Mall Surabaya Jadi Jantung Kreativitas Pemuda

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Wali Kota Eri Cahyadi memimpin langsung percepatan revitalisasi gedung eks Hi-Tech Mall Surabaya, menjadi pusat ekonomi kreatif dan hiburan pada Rabu (14/1/2026), demi menghidupkan kembali aset daerah sebagai ruang produktif bagi generasi muda, di momen Hari Jadi Kota Surabaya. Ia menegaskan bahwa, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengejar target pengerjaan bagian basement (lantai […]

  • Rapat Dengar Pendapat DPRD Jatim tolak reklamasi kenjeran

    Rapat Dengar Pendapat: Reklamasi Kenjeran Ditolak Nelayan Surabaya

    • calendar_month Kamis, 3 Okt 2024
    • account_circle Ruang Gentur
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Puluhan warga yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) cabang kota Surabaya dan LKMD masyarakat nelayan serta petani tambak di Surabaya dengan tegas menolak reklamasi laut yang berada di sekitar pantai Kenjeran Surabaya.Penolakan dari para nelayan yang tergabung dalam masyarakat maritim madani ini disampaikan langsung dalam rapat dengar pendapat di ruang […]

  • Satkamling Rungkut Mapan Barat Keamanan berbasis komunitas

    Dirbinpotmas Korbinmas Baharkam Polri, Satkamling RMB Contoh Harmoni dan Keamanan yang Menginspirasi

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2024
    • account_circle Ruang M Andik
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Pos Kamling (Satkamling) RW 8 Rungkut Mapan Barat (RMB), Kelurahan Rungkut Tengah, Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya, sukses mencuri perhatian dalam kunjungan Dirbinpotmas Korbinmas Baharkam Polri, Brigjen Pol. Badya Wijaya, S.H., M.H. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Kakorbinmas Baharkam Polri yang juga melibatkan apel besar Polisi RW, Bhabinkamtibmas, dan Kasatkamling di […]

  • Jadwal Tayang film horor kisah nyata Petaka Gunung Gede di Surabaya Maret

    Jadwal Pemutaran Film “Petaka Gunung Gede” di Bioskop Surabaya Hari Ini, 4 Maret

    • calendar_month Selasa, 4 Mar 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Saksikan petualangan menegangkan di Gunung Gede yang menyimpan rahasia gelap dalam film “Petaka Gunung Gede”. Diadaptasi dari peristiwa nyata yang menggemparkan, film ini menceritakan tentang Maya dan Ita, dua sahabat yang tanpa sengaja masuk ke dunia mistis yang mengerikan. Arla Ailani dan Adzana Ashel berhasil memerankan karakter Maya dan Ita dengan penampilan akting […]

expand_less