Grebeg Suro dan Puncak Lahirnya Dewan Kebudayaan Lestarikan Warisan Budaya Sidoarjo
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Grebeg Suro 2026 melahirkan Dewan Kebudayaan Sidoarjo, memperkuat pelestarian Jaranan, Bantengan, dan warisan budaya leluhur daerah. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Grebeg Suro 2026, tidak hanya menghadirkan kemeriahan pertunjukan budaya di Kabupaten Sidoarjo, tetapi juga melahirkan gagasan besar untuk masa depan pelestarian warisan leluhur daerah.
Ratusan pegiat budaya, budayawan, sanggar seni, serta berbagai paguyuban budaya berkumpul dalam satu semangat, menjaga identitas daerah melalui tradisi yang terus hidup.
Penampilan Jaranan Putro Warso Wijoyo, Bantengan, busana adat Nusantara, dan kesenian rakyat lainnya, membuktikan budaya Sidoarjo tetap mendapat tempat di tengah perubahan zaman.
Di tengah antusiasme masyarakat, muncul kesepakatan penting untuk mendorong pembentukan Dewan Kebudayaan Sidoarjo, sebagai wadah bersama memperkuat pelestarian dan pengembangan budaya daerah.
Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, Warih Andono, memanfaatkan momentum tersebut, untuk mengajak seluruh peserta menjaga keberlangsungan kegiatan budaya, secara berkelanjutan setiap tahun.
“Apakah setuju jika kegiatan seperti ini dilaksanakan setiap tahun?” tanya Warih, pada acara Grebeg Suro hari kedua, Sabtu (20/6/2026).
Pertanyaan itu langsung disambut jawaban serempak peserta. “Setuju!” teriak masyarakat dan pelaku budaya yang memadati lokasi kegiatan dengan penuh semangat.
Menurut Warih, respons tersebut menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap budaya masih sangat kuat, dan harus diterjemahkan menjadi langkah nyata yang berkelanjutan.
“Dewan Kebudayaan Sidoarjo harus menjadi rumah besar bagi seluruh pegiat budaya, budayawan, sanggar, komunitas, dan paguyuban budaya,” ujarnya.
Ia menilai berbagai komunitas budaya selama ini, aktif bergerak dalam bidang masing-masing, namun belum memiliki ruang bersama yang mampu menyatukan kekuatan besar tersebut.
“Budaya tidak bisa dijaga sendiri-sendiri. Harus ada kebersamaan, komunikasi, dan sinergi yang kuat,” tegas Warih menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas budaya.
Gagasan tersebut, mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi kebudayaan, yang kemudian menyepakati Bambang Purwanto sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Sidoarjo, terpilih Melalui proses yang cukup panjang dan bekelok – kelok cukup tajam.
Menurut Bambang, pembentukan Dewan Kebudayaan lahir dari kebutuhan nyata, untuk menghadirkan ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan seluruh pelaku budaya daerah.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Sidoarjo senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan kebudayaan di Sidoarjo,” kata Bambang menegaskan pentingnya dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya.
Catatan sejarah Sidoarjo, juga menorehkan cikal bakal lahirnya Dewan Kebudayaan ini. Perjalanannya tak semulus dan seindah yang dibayangkan para pelaku dan pegiat budaya Sidoarjo.
Sapto Djumadi, Sekretaris PBJSN (Persatuan Budayawan Jagat Suwung Nusantara) di Sidoarjo, mengungkapkan, “Jauh sebelum terbentuknya Dewan Kebudayaan ini, ratusan organisasi dan kelompok budaya, pegiat budaya, dan budayawan, sempat tidak mendapat tempat di lingkungan Pemkab Sidoarjo,”
Pada 22 Juli 2025, BPKB (Barisan Perjuangan Kebudayaan Bangsa), melakukan aksi di Pendopo Delta Wibawa, untuk menyampaikan aspirasi terkait kebudayaan di Sidoarjo
“Hingga dengan terpaksa kami bersama ratusan orang dari berbagai perwakilan kelompok budaya ini yang tergabung dalam BPKB, mendatangi Pendopo Delta Wibawa. Melakukan ritual membakar dupa, menggelar Jaranan di pagar gerbang pendopo, dan meminta komunikasi dialogis dengan Bupati dan para pemangku kebijakan Pemkab Sidoarjo. Meskipun masih tak membuahkan hasil mendapat tempat, karena Pemkab tebang pilih untuk secara resmi diakui Pemkab,” ungkap Sapto lagi.
Dalam rekam digital pula, dalam pertemuan dialog itu tanpa kehadiran Bupati Subandi, hanya ada Sekda Feny Apridawaty, Kadindik Tirto Adi (sebelum memasuki masa pensiun) beserta jajaran Kabidnya, yang menemui pengunjukrasa budayawan.
Kartini, saat itu selaku Kabid Kebudayaan yang bertanggungjawab secara langsung, sulit mengakui dan mengayomi mereka, karena gesekan kepentingan politis yang sangat kuat memengaruhinya.
Kini, lebih dari sekadar organisasi, Dewan Kebudayaan Sidoarjo digaungkannya. Terlahir pula Sumpah Budaya menembus batas semesta, yang diikrarkan para tokoh penting kebudayaan, di Parkir Selatan ( Parkir 2) Alun – Alun Sidoarjo, pada Sabtu malam (20/6/2026).
Berikut bunyi sumpahnya:
“Kami Bangsa Indonesia Bersumpah, Berbudaya Satu Budaya Nusantara”
“Kami bangsa indonesia Bersumpah, Menjunjung Tinggi Nilai Luhur Budaya Nusantara”
“Kami bangsa indonesia Bersumpah, Melestarikan Dan Memajukan Budaya Nusantara”
Sidoarjio, 22 Juli 2025
BPKB (Barisan Perjuangan Kebudayaan Bangsa)
Diharapkannya, Dewan Kebudayaan Sidoarjo nantinya menjadi garda terdepan menjaga identitas daerah, merawat warisan leluhur, serta menyiapkan regenerasi budaya berkelanjutan.
- Penulis: Ruang Nurudin
