Breaking News
light_mode
Senin, 13 Juli 2026

Wayang Kulit Warisan Leluhur, Kapoksi Komisi VII dan Legislator Jatim Ajak Pemuda Surabaya Jaga Identitas Bangsa

  • account_circle Ruang M Andik
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ruang.co.id – Kapoksi Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono bersama Anggota DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso mengajak generasi muda Surabaya untuk menjaga wayang kulit sebagai warisan leluhur dan identitas bangsa. Ajakan ini disampaikan di tengah pagelaran wayang kulit di Kelurahan Sonokwijenan, Surabaya, Minggu (12/7/2026).

“Pagelaran seperti ini perlu terus dilakukan. Selain menjadi wadah bagi para pelaku seni untuk terus berkarya, masyarakat juga semakin mengenal kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia,” ujar Cahyo Harjo Prakoso.

Cahyo menegaskan pelestarian warisan leluhur tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial semata. Dibutuhkan komitmen bersama antara pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat untuk menghadirkan lebih banyak ruang bagi kesenian tradisional secara berkelanjutan.

Menurutnya, derasnya arus digitalisasi memang memudahkan masyarakat mengenal berbagai budaya dunia. Namun, hal itu tidak boleh membuat generasi muda berpaling dari budaya daerahnya sendiri. “Sejatinya bangsa yang besar dan kota yang maju adalah yang mampu menjaga nilai-nilai budayanya. Wayang kulit bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat yang harus terus dijaga,” tegas Cahyo.

Pertunjukan mengangkat lakon “Pandowo Syukur (Sesaji Rojo Suyo)” yang dimainkan oleh sepuluh dalang serta menghadirkan penampilan seniman muda Niken Salindry. Acara yang merupakan bagian dari tradisi sedekah bumi ini dihadiri ribuan masyarakat.

Sementara itu, Bambang Haryo Soekartono mengapresiasi kolaborasi antara Cahyo Harjo Prakoso dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim dalam menyelenggarakan pagelaran wayang kulit tersebut. Ia menilai pelestarian budaya menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang membuat masyarakat mudah mengakses budaya dari berbagai negara.

Selain berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, Bambang Haryo menilai kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selama berlangsungnya acara, puluhan pelaku UMKM memanfaatkan keramaian pengunjung untuk menjajakan berbagai produk. “Mudah-mudahan acara Sedekah Bumi ini menjadi wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat,” ujar BHS.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Jatim, Sadari, menjelaskan wayang kulit telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003. “Kami ingin memastikan warisan leluhur ini tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujarnya.

Cahyo Harjo Prakoso kembali menekankan dampak positif dari pertunjukan wayang kulit terhadap berbagai sektor. “Budaya yang hidup akan menggerakkan banyak sektor. Ketika masyarakat berkumpul menikmati pertunjukan wayang, UMKM ikut tumbuh, seniman mendapat ruang berkarya, dan generasi muda memiliki kesempatan mengenal budaya daerahnya,” kata Cahyo.

Ia pun berharap pagelaran wayang kulit dapat terus digelar secara rutin di Surabaya. “Mari kita tonton, kita hayati, lalu kita lestarikan. Warisan leluhur ini harus kita ajarkan kepada generasi penerus agar tetap hidup dan tidak lekang oleh waktu,” pungkasnya.

  • Penulis: Ruang M Andik
expand_less