Breaking News
light_mode
Selasa, 25 Agustus 2026
Beranda » Kolom » Antara Warisan Alam dan Regulasi: Menakar Ulang Narasi Anti-Rokok

Antara Warisan Alam dan Regulasi: Menakar Ulang Narasi Anti-Rokok

  • account_circle Mascim
  • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

S. Alamsyah
(Penulis adalah pendiri Pusat Studi Pembangunan Berbasis Pancasila)

Ruang.co.id – Di tengah gencarnya kampanye anti-rokok global, seolah ada satu suara yang terus-menerus mengulang: perokok adalah biang kerok kematian dini.

Paru-paru yang hitam, angka kematian akibat kanker, serta pusaran penyakit degeneratif seperti jantung dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) apa penyebabnya? Rokok. Namun, apakah hitam-putih begitu persoalannya?

Di Indonesia, narasi itu kini mulai dibungkus dalam bentuk aturan hukum. Pemerintah melalui draf Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari UU Kesehatan berniat memasang batas maksimal kadar nikotin hanya 1 mg dan tar 10 mg per batang. Tujuannya mulia: melindungi generasi muda dari bahaya kecanduan.

Tapi kebijakan itu tak ubahnya seperti petir di siang bolong bagi ekosistem Industri Hasil Tembakau (IHT). Bukan sekadar karena bisnis rokok besar akan terganggu. Melainkan karena ada benturan fundamental antara regulasi dan karakteristik alam Nusantara.

Alam dan Regulasi

Tembakau Indonesia adalah warisan budaya. Dari lereng Temanggung hingga Madura, varietas tembakau lokal seperti tembakau Virginia, Besuki, dan Kasturi dikenal memiliki kadar nikotin alami yang tinggi.

Menurut data Kementerian Pertanian, produktivitas tembakau nasional mencapai lebih dari 180 ribu ton per tahun. Diserap oleh ratusan pabrik dan ribuan petani.

Baca Juga  Perkara Pengosongan Lahan dan Legalitas Peralihan Hak (Kasus Nenek Elina VS Samuel), Hukum Dikangkangi?

“Jika aturan 1 mg nikotin dipaksakan, itu sama saja memvonis mati tembakau lokal,” ujar seorang petani tembakau yang hadir dalam pertemuan uji publik yang digelar Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) bulan Maret lalu.

Artinya, kita seperti menghukum petani karena geografinya.

Tak main-main, sektor IHT menyerap lebih dari 5 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung—mulai dari petani, buruh linting, hingga agen pengecer.

Cukai hasil tembakau juga menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara, mencapai lebih dari Rp200 triliun per tahun (Kemenkeu, 2023).

Di sinilah letak dilema klasik: antara melindungi kesehatan generasi masa depan atau mempertahankan nafkah jutaan rakyat.

Standar Ganda

Pemerintah berdalih bahwa langkah ini demi menyelamatkan anak-anak Indonesia dari jeratan nikotin. Namun, para pelaku usaha dan akademisi mulai menyoroti standar ganda kebijakan publik.

Mengapa rokok jadi sasaran tembak paling keras, sementara konsumsi gula yang meledak-ledak di minuman kemasan dan makanan olahan dibiarkan leluasa?

Baca Juga  Suara Tanpa Nurani: Menjaga Etika dan Cinta dalam Komunikasi Publik Berbasis AI di Ranah Keluarga

Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi obesitas dan diabetes terus merangkak naik. Bahkan, Indonesia masuk dalam daftar negara dengan penderita diabetes tertinggi di Asia. Namun, hingga kini belum ada kebijakan seketat itu terhadap kadar gula.

Belum lagi soal polusi udara. Setiap hari, paru-paru pengemudi ojek online di Jakarta, Surabaya, dan Medan menghirup gas buang kendaraan yang mengandung PM2,5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida.

Sebuah studi dari IQAir bahkan menyebut Jakarta sebagai salah satu kota dengan polusi udara tertinggi di dunia. Ironisnya, tak ada kampanye sefrenetik “anti-emisi” seperti halnya anti-rokok.

Di sinilah nama Lauren A. Colby mulai relevan untuk diseret ke panggung diskusi kita.

Membongkar “Junk Science”

Lauren A. Colby, seorang pengacara asal Amerika Serikat, menulis buku kontroversial berjudul In Defense of Smokers (1995). Buku ini dianggap tabu karena berani mempertanyakan dogma medis arus utama yang menyudutkan rokok sebagai biang kerok tunggal penyakit paru.

Colby tidak pernah bilang merokok itu sehat. Namun, ia melancarkan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai junk science—sains sampah yang kerap digunakan untuk membangun propaganda ketakutan massal.

Baca Juga  Persahabatan, Integritas, dan Kehangatan dalam Silaturahmi Para Perempuan Profesional

Apa saja poin Colby yang membakar logika kita? Pertama, manipulasi statistik dan pengabaian faktor lingkungan.

Colby berargumen bahwa banyak studi epidemiologi tentang rokok dan kanker paru sering kali mengabaikan variabel lain. Seperti polusi industri, paparan asbes, atau faktor genetik.

Di Indonesia, hal ini bisa dianalogikan dengan fakta bahwa pekerja tambang, pabrik tekstil, atau bahkan petani yang terpapar pestisida jauh lebih rentan terhadap penyakit pernapasan. Namun tak pernah mendapat sorotan sama seperti perokok aktif.

Kedua, paradoks umur panjang di tengah konsumsi tembakau tinggi. Colby menyoroti fenomena di sejumlah wilayah Asia—seperti Okinawa (Jepang) atau sebagian kecil masyarakat tradisional di India—yang memiliki angka harapan hidup tinggi meski tingkat konsumsi tembakau juga signifikan.

Baca Juga  Membumikan Pancasila Melalui Kampus Berdampak sebagai Pemandu Aksi Nyata

Apakah ini berarti nikotin bukan satu-satunya variabel? Tentu tidak. Tapi ini mengajak kita bertanya: apakah yang lebih dominan adalah gaya hidup, pola makan, atau dukungan sosial?

Aspek Psikososial

Colby juga menekankan satu hal yang kerap dilupakan birokrat kesehatan: kebahagiaan kecil yang didapat perokok.

Bagi buruh pabrik, kuli angkut, atau nelayan yang pulang melaut, rokok adalah semacam “ritual istirahat” yang memberi relaksasi sejenak dari himpitan ekonomi.

Mengabaikan aspek ini, menurut Colby, adalah bentuk arogansi kebijakan publik yang hanya melihat tubuh, bukan jiwa manusia.

Dilema “Emas Hijau”

Jika pemerintah memaksakan batas 1 mg nikotin dan 10 mg tar tanpa kompromi, kita mungkin menyaksikan skenario paling suram: runtuhnya ekosistem tembakau lokal.

Baca Juga  Membumi Bersama Padel: Dari Lahan Sempit Meksiko ke Olahraga Massal Indonesia

Pabrik rokok akan berbondong-bondong mengimpor tembakau kadar rendah dari luar negeri atau memaksa petani mengubah varietas.

Akibatnya? Petani lokal tergusur. Warisan agrikultur Nusantara perlahan lenyap.

Sebagai perbandingan, negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa memang sudah menerapkan batasan kadar nikotin dan tar. Namun, struktur industri tembakau mereka berbeda: petani tembakau di sana sudah tersubsidiasi dan terintegrasi dengan perusahaan raksasa. Sementara di Indonesia, sebagian besar petani adalah rakyat kecil dengan lahan terbatas.

Kritik terhadap kebijakan anti-rokok saat ini bukan berarti anti-kesehatan. Justru sebaliknya: kritik ini lahir dari keinginan agar kebijakan publik itu adil. Ilmiah dan manusiawi.

Mengapa polusi kendaraan tidak ditekan dengan regulasi setara? Mengapa gula tak dibatasi seketat nikotin? Mengapa suara petani tak didengar dalam setiap draf kebijakan?

Membaca ulang buku In Defense of Smokers di era sekarang bukan ajakan untuk merokok massal. Melainkan ajakan untuk tidak mudah terjebak dalam narasi tunggal.

Colby mengajarkan satu hal berharga: skeptisisme sehat terhadap kampanye yang terlalu sempurna.

Indonesia seharusnya tidak perlu memilih antara membiarkan warganya mati karena rokok atau membunuh industri sendiri.

Ada jalan tengah yang lebih bijak: pengawasan ketat terhadap peredaran rokok ilegal. Kampanye bahaya merokok tanpa stigmatisasi berlebihan. Diversifikasi tanaman bagi petani tembakau. Dan yang terpenting: regulasi yang proporsional terhadap semua faktor risiko kesehatan. Bukan hanya tembakau.

Karena pada akhirnya, kesehatan masyarakat tak akan pernah tercapai dengan kebijakan yang buta terhadap realitas sosial, ekonomi, dan geografis bangsanya sendiri.

Jakarta, 5 April 2026

  • Penulis: Mascim

Rekomendasi Untuk Anda

  • POLDA Jatim REAFEST 2026

    Polda Jatim Jadikan Kreativitas AI Sebagai Benteng Keamanan Publik di Hari Bhayangkara ke-80

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Polda Jawa Timur menjadikan kreativitas berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai benteng keamanan publik. Langkah strategis ini diwujudkan melalui ajang KREAFEST 2026 dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Kompetisi video digital bertema “AI for Public Safety” tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, akademisi, media, dan masyarakat umum. Mereka […]

  • Ketua Fraksi Gerinda

    Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jatim Gus Fawait Dukung Langsung Timnas U-19 di GBT

    • calendar_month Selasa, 30 Jul 2024
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Ruang.co.id – Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jawa Timur, Muhamad Fawait, menyambut antusias pertandingan final Piala AFF U-19 yang mempertemukan Timnas Indonesia. Final ASEAN Boys U-19 Championship 2024 ini memang menarik perhatian semua kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari suporter dan warga biasa hingga pejabat teras di tingkat nasional, provinsi, maupun kota. Tak terkecuali […]

  • korupsi pelabuhan Probolinggo

    Kejati Jatim Amankan Rp 47 Miliar dan 421.046 Dolar AS dari Kasus Korupsi Pelabuhan Probolinggo

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Mascim
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Langkah tegas penegakan hukum di Jawa Timur kembali menunjukkan hasil nyata dalam upaya penyelamatan keuangan negara. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur berhasil mengamankan aset senilai sangat besar yang terkait dengan sebuah dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan pelabuhan. Selasa, (09/12/2025). Aset yang disita mencapai Rp47,28 miliar dan USD 421.046 dari kasus yang menjerat PT Delta […]

  • Film 1 Imam 2 Makmum

    Jadwal Tayang Film 1 Imam 2 Makmum di Bioskop Surabaya Hari Ini

    • calendar_month Senin, 27 Jan 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Film terbaru Indonesia, “1 Imam 2 Makmum” menghadirkan kisah cinta yang rumit dan penuh haru. Bertabur bintang dengan aktor Fedi Nuril sebagai Arman dan Amanda Manopo sebagai Anika, Key Mangunsong sebagai sutradara. Anika, dengan segenap hati, berharap pernikahannya dengan Arman akan membawa kebahagiaan. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika ia menyadari bahwa Arman […]

  • Warga serbu DPRD PT Ispat Indo

    Terdampak Limbah Berbahaya, Warga Kedungturi Serbu DPRD Desak Tanggung Jawab PT Ispat Indo

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ruang.co.id – Dugaan pencemaran yang melibatkan PT Ispat Indo di Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, kembali menjadi sorotan tajam dan protes keras, setelah rangkaian keluhan warga muncul dalam beberapa periode dengan konteks yang berbeda. Isu ini bukan hal baru, melainkan akumulasi persoalan lingkungan, industrial, dan ketenagakerjaan yang sampai saat ini belum sepenuhnya tuntas. […]

  • Macam Potongan Rambut

    Model Rambut yang Membuat Wanita Tampak Lebih Segar

    • calendar_month Rabu, 7 Agt 2024
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Siapa bilang hanya makeup yang bisa membuat penampilan lebih segar? Model rambut juga punya peran penting, lho! Dengan memilih potongan rambut yang tepat, kamu bisa memberikan kesan awet muda dan berenergi. Potongan rambut juga bisa mencerminkan kepribadian. Yuk, simak beberapa model rambut yang bisa membuat kamu tampak lebih segar. 1. Bob Klasik […]

expand_less