Gelar Budaya GMNI Sidoarjo di Peringatan Bulan Bung Karno, Membakar Semangat Patriot Sejati
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Puncak peringatan Bulan Bung Karno di Sidoarjo digelar GMNI dengan panggung budaya, menghadirkan tokoh politik, budayawan, dan aktivis. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Serangkaian Puncak peringatan Bulan Bung Karno, terselenggara di Pendopo Delta Sabha Disporapar (Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata) Kabupaten Sidoarjo, pada Sabtu (27/6/2026).
Acara yang berlangsung malam dengan gelar budaya ini, digagas aktivis pengurus GMNI Sidoarjo bersama masyarakat. Turut mengundang pula aktivis seniornya di Sidoarjo, antara lain, Anggota DPRD Sidoarjo dari Fraksi PDI-P, Kusumo Adi Nugroho, Fauzan Adim, Moeh. Arif, komisioner Bawaslu Sidoarjo, Budayawan Sidoarjo, Mahmud Yunus Al Willy, dan masih banyak lagi.
Kepada Ruang.co.id Fauzan, menegaskan bahwa semangat Bung Karno harus terus hidup. “Pemuda harus berani menyuarakan gagasan kritis demi keadilan sosial,” ujarnya.
Fauzan menambahkan, “Kegelisahan lahir dari melihat realitas ketimpangan. Mahasiswa harus setara dengan menteri, bahkan presiden, dalam gagasan demi perubahan.”
Anggota DPRD Sidoarjo, Kusumo Adi Nugroho, mengingatkan pentingnya keberanian. “Kalau bicara kebenaran, jangan takut. Jadilah Patriot bangsa sejati. Karena Bung Karno bilang, bangsa ini kami titipkan kepada generasi muda,” katanya.
Kusumo lebih jauh mengingatkan sejumlah pesan yang paling mendalam dan abadi dari Bung Karno (Ir. Soekarno), untuk generasi penerus bangsa.
“Pesan Bung Karno tentang pentingnya menjaga jati diri, kemandirian, dan persatuan nasional. Bung Karno pernah mengingatkan bahwa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Generasi muda harus memahami perjuangan masa lalu agar tidak kehilangan arah dalam membangun masa depan,” tukas Kusumo.
Ia menambahkan, “Bung Karno mengajarkan kita untuk berdaulat di bidang politik, tidak mendikte atau didikte oleh kekuatan asing. Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) di bidang ekonomi, yaitu mengelola kekayaan alam sendiri untuk kemakmuran rakyat, bukan diserahkan kepada eksploitasi asing”.
“Dan terakhir, mengajarkan berkepribadian dalam kebudayaan. Bangga dengan budaya, adat, dan identitas asli Indonesia, serta tidak meniru mentah-mentah budaya luar,” tambahnya.
Melalui ungkapan legendaris Bung Karno, pungkas Kusumo menegaskan bahwa, pemuda merupakan mesin penggerak perubahan.
“Beliau tidak ingin generasi muda memiliki mental tempe (lemah/penakut), melainkan mental pelaut yang berani mengarungi ombak besar, kreatif, dan memiliki daya cipta yang tinggi untuk membangun bangsa,” tandasnya.
Kusumo mengingatkan kepada generasi penerus GMNI, tentang pengalaman perjuangan mahasiswa masa lalu, masa reformasi.
“Kami pernah dipukuli saat kampanye. Tapi kebenaran harus diperjuangkan. Jangan takut, terus maju demi bangsa,” tegasnya.
Sedangkan Budayawan Sidoarjo, Mahmud Yunus Al – Willy di momentum Bulan Bung Karno ini, menekankan relevansi Trisakti Bung Karno. “Perjuangan tidak selesai selama masih ada penindasan. Nasionalisme harus tetap digelorakan,” ucapnya.
Willy menyoroti kondisi bangsa. “Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Pemuda, intelektual harus jadi teladan, dan berjuang dengan ekonomi yang mandiri,” katanya.
Ia prihatin dengan sikap – sikap anak bangsa yang mengadu domba dan menjadi penghianat bangsa sampai saat ini masih ada.
“Sifat mengadu domba dan penghianat bangsa sejak dahulu ada. Bagaimana kisah Pangeran Diponegoro dipenjara, ya karena ada penghianat dari sesama bangsa sendiri. Selagi sifat itu terserah masih ada sampai saat ini, generasi muda GMNI harus hadir untuk melawannya. Perjuangan GMNI belum selesai kalau masih ada sifat adu domba dan penghianat,” tandas Yunus Al – Willy.
Acara refleksi bulan Bung Karno ini menghadirkan panggung puisi, tari, dan musik tradisional. Semua dikemas sederhana, mencerminkan semangat kerakyatan GMNI yang selalu dekat dengan denyut rakyat.
Ketua DPC GMNI Sidoarjo, Antonius Saroja Meduha, menyebut acara ini refleksi pemikiran Bung Karno. “Kami ingin budaya jadi bagian penting pembangunan bangsa,” jelasnya.
Panggung budaya ini juga menjadi ruang dialog. Aktivis muda GMNI Sidoarjo menegaskan komitmen advokasi terhadap rakyat, termasuk isu pertanian dan hak-hak masyarakat kecil yang terus diperjuangkannya.
Semangat Bung Karno dalam gelaran ini hadir melalui puisi, musik, dan diskusi. Semua peserta merasakan energi perjuangan yang diwariskan sang proklamator, untuk generasi penerus bangsa.
Menutup gelaran ini, Yunus Al – Willy dengan puisi “Cinta” Laila Majenun, sebagai penegasan bahwa, semangat Bung Karno tetap hidup dalam gerakan mahasiswa dan budaya Sidoarjo dilakukan dengan cinta.
- Penulis: Ruang Nurudin

