Breaking News
light_mode
Rabu, 12 Agustus 2026
Beranda » Terkini » Membedah Cara Bung Tomo Menyulut Gelora di Surabaya Lewat Radio

Membedah Cara Bung Tomo Menyulut Gelora di Surabaya Lewat Radio

  • account_circle Ruang Gentur
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Bayangkan sebuah kota yang porak-poranda, asap mengepul dari tiap sudut jalan, dan suara tembakan bersahutan seperti pesta kembang api yang mencekam. Jauh sebelum berita-berita perlawanan bisa disebar lewat satu sentuhan jempol di ponsel, ada satu suara yang memecah ketakutan jadi keberanian. Suara itu milik seorang pemuda berkacamata, bersafari lusuh, yang berdiri di depan mikrofon stasiun radio darurat. Dialah Bung Tomo. Rabu, (12/8).

Mungkin cuma segelintir tokoh yang bisa mengubah gelombang kepanikan massal menjadi barisan siap tempur hanya lewat lantunan kata-kata. Bung Tomo bukan sekadar orator. Ia adalah arsitek semangat yang membangun ulang jiwa rakyat Surabaya yang nyaris remuk dihajar ultimatum. Di era ketika informasi adalah amunisi, Bung Tomo memilih taktik propaganda radio berdaya ledak dan mobilisasi rakyat lewat simpul-simpul kampung. Inilah metode yang sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti bensin yang disiram ke bara api.

Harus diakui, saat itu banyak yang mengira Surabaya akan menyerah. Tapi radio-radio gelap dan seruan langsung dari mulut ke mulut yang dikomandoi Bung Tomo membuktikan bahwa perang bukan cuma soal peluru, melainkan juga urusan hati yang berhasil diaduk-aduk.

Kenapa Suara Bung Tomo Begitu Membahana?

Pernah dengar istilah “musuh terbesar adalah rasa takut kita sendiri”? Nah, itulah yang dilawan Bung Tomo. Di bulan Oktober dan November 1945, Surabaya itu seperti keran raksasa yang siap meledak. Pasukan Sekutu yang diboncengi NICA mendarat dengan senjata modern, tank, dan pesawat tempur. Di sisi lain, arek-arek Suroboyo cuma bermodalkan bambu runcing dan senjata rampasan. Secara logika, ini pertarungan yang timpang.

Masalahnya bukan cuma di alat perang. Jauh lebih dalam, musuh yang harus dikalahkan dulu adalah ketakutan dan mental “kita pasti kalah”. Dari sinilah Bung Tomo masuk. Dia paham betul, sebelum berperang melawan tentara asing, rakyat harus menang dulu melawan batinnya sendiri. Caranya? Dengan menggelorakan narasi heroik dan menciptakan musuh bersama yang jelas melalui corong radio. Dia tidak menyampaikan berita, tapi membangun keyakinan.

Baca Juga  Surabaya Gempur TBC: NIK-BPJS Diblokir Bagi Pasien Bandel!

Panduan Menyalakan Semangat Perlawanan ala Bung Tomo

Bung Tomo dan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) tidak cuma sekadar ngomong keras-keras di radio. Ada struktur mobilisasi massal yang bisa kita pelajari. Jika kita bedah, begini tahapan yang membuat Surabaya berani melawan meski nyawa jadi taruhannya.

1. Kuasai Medium Komunikasi yang Paling Merakyat

Ini langkah paling krusial. Bung Tomo sadar, di tahun 1945, nggak semua orang bisa baca koran atau paham selebaran. Tapi hampir di setiap sudut kampung, ada radio. Entah itu milik pribadi, milik balai desa, atau radio umum yang dinyalakan keras-keras. Dia memilih Radio Pemberontakan sebagai alat utama. Mengapa bukan pidato keliling? Karena pidato keliling terbatas jangkauannya. Radio bisa menembus jarak, membuat satu suara didengar oleh ribuan telinga secara bersamaan. Efeknya? Rasa kebersamaan itu instan tercipta. Pendengar merasa, “Oh, aku tidak sendiri.”

2. Bangun Narasi “Kita vs. Mereka” yang Jelas dan Tajam

Dengarkan lagi rekaman orasi Bung Tomo. Dia nggak bertele-tele. Ada dua kubu yang dia gambar dengan sangat tegas: rakyat Surabaya yang tertindas dan penjajah yang ingin kembali berkuasa. Dia menggunakan diksi keagamaan yang kuat (“Allahu Akbar!”) yang langsung menyentuh sisi spiritual mayoritas pejuang. Ini teknik psikologis brilian. Ketika sebuah konflik dibingkai sebagai perjuangan suci, ketakutan akan kematian berubah menjadi kerinduan akan kesyahidan. Sederhana, tapi dampaknya dahsyat.

3. Pimpin Langsung, Jangan Cuma Suruh dari Belakang

Ini yang membedakan provokator bayaran dengan pemimpin sejati. Bung Tomo mendirikan dan memimpin langsung BPRI. Dia tidak hanya berteriak “Serbu!” dari studio radio yang aman, lalu pulang. Dia ada di lapangan, bergerilya, ikut mengatur strategi. Ketika rakyat tahu bahwa pemimpin yang mengomando lewat radio juga sama-sama basah kuyup di medan laga, kepercayaan itu muncul total. Di tahap ini, sabar ya kalau kita mencerna nilainya. Keberanian itu menular. Ketika satu pemimpin berdiri di depan, tanpa sadar kaki-kaki yang tadinya gemetar jadi ikut melangkah maju.

Baca Juga  Meski Kalah 6-0, Surabaya dan Jepang Cetak “Gol Emas” Diplomasi Budaya dan Tenaga Kerja
4. Abaikan Ancaman, Pertegas Harga Diri Kolektif

Ultimatum Mayor Jenderal Mansergh adalah titik baliknya. Isinya kasar: menyerah atau Surabaya dihancurkan. Daripada gentar, Bung Tomo justru menjadikan ultimatum ini sebagai bahan bakar. Dia memelintir ketakutan menjadi penghinaan terhadap harga diri. “Kita ini merdeka! Kenapa harus menyerah pada orang asing yang baru datang?” Kira-kira begitu pesan yang disampaikan. Tekniknya bukan menenangkan, tapi justru membakar emosi. Dalam kondisi terkepung, emosi kemarahan yang terarah jauh lebih berguna daripada logika yang membuat orang berpikir dua kali untuk maju.

5. Ciptakan Simbol Perlawanan yang Membumi

Bung Tomo dan kawan-kawan tidak menciptakan seragam mewah. Ikon perlawanan mereka adalah lengan baju yang digulung, ikat kepala merah putih, dan bambu runcing. Benda-benda ini sangat inklusif; siapa saja bisa memilikinya. Tak perlu biaya mahal untuk jadi pejuang. Ini cerdas secara sosial. Dengan simbol yang sederhana, setiap orang—dari tukang becak, petani, hingga pemuda putus sekolah—bisa merasa menjadi bagian dari tentara rakyat. Identitas “Pejuang Surabaya” jadi milik bersama.

  • Penulis: Ruang Gentur

Rekomendasi Untuk Anda

  • SNBP 2026

    Kesempatan Emas SNBP 2026 Buka Jalur Masuk PTN Tanpa Tes

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Pemerintah secara resmi telah membuka Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi 2026, memberikan jalur masuk PTN yang dinanti-nanti bagi para siswa berprestasi di seluruh Indonesia. Rabu, (04/2/2026). Jalur SNBP ini menjadi alternatif strategis bagi pelajar SMA, SMK, dan MA yang memiliki rekam jejak akademik dan non-akademik cemerlang untuk memasuki perguruan tinggi negeri impian tanpa melalui […]

  • arti dari Valentine Day

    Makna Sejati di Balik Hari Valentine: Apa Itu, Sejarah, dan Cara Merayakan Cinta

    • calendar_month Minggu, 2 Feb 2025
    • account_circle Ruang Sely
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Saat kita mendengar kata Valentine day, yang langsung terbayang adalah hari kasih sayang yang jatuh pada 14 Februari. Tapi, tahukah kamu apa sebenarnya arti dari Valentine Day dan bagaimana asal usul perayaan ini muncul? Minggu, (02/2/2025). Yuk, kita kupas lebih dalam! Awal Mula Hari Valentine Perayaan Hari Valentine berawal dari sebuah tradisi yang […]

  • PT. SCA Gugatan Pra-Yudisial

    Gugatan Pra-Yudisial PT SCA Terhadap Pelapor Kasus Ketenagakerjaan di Polres Mojokerto

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2025
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – PT. SCA melalui tim kuasa hukumnya menggugat pra-yudisial kepada pelapor kasus pidana ketenagakerjaan yang melibatkan pekerja almarhum Feri Dwi Astanto. Gugatan ini dilayangkan di Pengadilan Negeri Mojokerto, guna menguji kewenangan Polres Mojokerto dalam melakukan penyidikan terhadap perusahaan kliennya. Palenggahan Hukum Nusantara yang dipimpin oleh Achmad Shodiq, SH., MH., M.Kn. beserta timnya, menggugat Hermin […]

  • dampak begadang

    Malam-malam Terjaga, Umur Terkikis: Ini Dampak Mengerikan Kebiasaan Begadang!

    • calendar_month Selasa, 22 Apr 2025
    • account_circle Ruang Sely
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – “Begadang boleh saja, kalau ada perlunya…” Lirik ikonik Rhoma Irama itu ternyata lebih dari sekadar nasihat musikal. Dalam dunia medis, begadang tanpa alasan kuat ibarat “menggali kubur sendiri perlahan”. Fakta mengejutkan dari Journal of Clinical Sleep Medicine mengungkap, orang yang rutin tidur kurang dari 6 jam semalam berisiko 4 kali lebih tinggi terkena […]

  • Sidoarjo LSWare Korsel Keamanan digital

    Perkuat Keamanan Siber, Pemkab Sidoarjo Gandeng LSWare Korsel Demi “Layanan Publik Aman” dari Gimmick

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ruang.co.id – Pemkab Sidoarjo mendapat dukungan penguatan keamanan siber dari LSWare Inc, perusahaan sekuriti asal Korea Selatan, Kamis (9/7/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut MoU ASKOMPSI dengan LSWare tahun lalu. Fokusnya pada peningkatan kapasitas SDM TIK dan penguatan sistem keamanan digital. Sekda Sidoarjo, Fenny Apridawati, menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap transformasi digital. “Keamanan siber […]

  • Kredit Puspita Digital

    Surabaya Lawan Pinjol, Kredit Digital Puspita BPR Jadi Jawaban Cerdas

    • calendar_month Kamis, 12 Jun 2025
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Ruang.co.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya lagi – lagi kembali mencuri perhatian nasional melalui langkah progresif yang menyentuh denyut nadi masyarakat. Dalam forum virtual assessment TPAKD Award 2025, Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan komitmennya melindungi warga dari jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal dan praktik rentenir, dengan menghadirkan solusi konkret, yakni Kredit Puspita berbasis digital dari […]

expand_less