Breaking News
light_mode
Sabtu, 10 Oktober 2026
Beranda » Terkini » Membedah Cara Bung Tomo Menyulut Gelora di Surabaya Lewat Radio

Membedah Cara Bung Tomo Menyulut Gelora di Surabaya Lewat Radio

  • account_circle Ruang Gentur
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Bayangkan sebuah kota yang porak-poranda, asap mengepul dari tiap sudut jalan, dan suara tembakan bersahutan seperti pesta kembang api yang mencekam. Jauh sebelum berita-berita perlawanan bisa disebar lewat satu sentuhan jempol di ponsel, ada satu suara yang memecah ketakutan jadi keberanian. Suara itu milik seorang pemuda berkacamata, bersafari lusuh, yang berdiri di depan mikrofon stasiun radio darurat. Dialah Bung Tomo. Rabu, (12/8).

Mungkin cuma segelintir tokoh yang bisa mengubah gelombang kepanikan massal menjadi barisan siap tempur hanya lewat lantunan kata-kata. Bung Tomo bukan sekadar orator. Ia adalah arsitek semangat yang membangun ulang jiwa rakyat Surabaya yang nyaris remuk dihajar ultimatum. Di era ketika informasi adalah amunisi, Bung Tomo memilih taktik propaganda radio berdaya ledak dan mobilisasi rakyat lewat simpul-simpul kampung. Inilah metode yang sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti bensin yang disiram ke bara api.

Harus diakui, saat itu banyak yang mengira Surabaya akan menyerah. Tapi radio-radio gelap dan seruan langsung dari mulut ke mulut yang dikomandoi Bung Tomo membuktikan bahwa perang bukan cuma soal peluru, melainkan juga urusan hati yang berhasil diaduk-aduk.

Kenapa Suara Bung Tomo Begitu Membahana?

Pernah dengar istilah “musuh terbesar adalah rasa takut kita sendiri”? Nah, itulah yang dilawan Bung Tomo. Di bulan Oktober dan November 1945, Surabaya itu seperti keran raksasa yang siap meledak. Pasukan Sekutu yang diboncengi NICA mendarat dengan senjata modern, tank, dan pesawat tempur. Di sisi lain, arek-arek Suroboyo cuma bermodalkan bambu runcing dan senjata rampasan. Secara logika, ini pertarungan yang timpang.

Masalahnya bukan cuma di alat perang. Jauh lebih dalam, musuh yang harus dikalahkan dulu adalah ketakutan dan mental “kita pasti kalah”. Dari sinilah Bung Tomo masuk. Dia paham betul, sebelum berperang melawan tentara asing, rakyat harus menang dulu melawan batinnya sendiri. Caranya? Dengan menggelorakan narasi heroik dan menciptakan musuh bersama yang jelas melalui corong radio. Dia tidak menyampaikan berita, tapi membangun keyakinan.

Baca Juga  10 Cara Ampuh Meningkatkan Kualitas Shalat di 10 Hari Kedua Ramadan Raih Khusyuk dan Tadabur Al-Qur'an

Panduan Menyalakan Semangat Perlawanan ala Bung Tomo

Bung Tomo dan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) tidak cuma sekadar ngomong keras-keras di radio. Ada struktur mobilisasi massal yang bisa kita pelajari. Jika kita bedah, begini tahapan yang membuat Surabaya berani melawan meski nyawa jadi taruhannya.

1. Kuasai Medium Komunikasi yang Paling Merakyat

Ini langkah paling krusial. Bung Tomo sadar, di tahun 1945, nggak semua orang bisa baca koran atau paham selebaran. Tapi hampir di setiap sudut kampung, ada radio. Entah itu milik pribadi, milik balai desa, atau radio umum yang dinyalakan keras-keras. Dia memilih Radio Pemberontakan sebagai alat utama. Mengapa bukan pidato keliling? Karena pidato keliling terbatas jangkauannya. Radio bisa menembus jarak, membuat satu suara didengar oleh ribuan telinga secara bersamaan. Efeknya? Rasa kebersamaan itu instan tercipta. Pendengar merasa, “Oh, aku tidak sendiri.”

2. Bangun Narasi “Kita vs. Mereka” yang Jelas dan Tajam

Dengarkan lagi rekaman orasi Bung Tomo. Dia nggak bertele-tele. Ada dua kubu yang dia gambar dengan sangat tegas: rakyat Surabaya yang tertindas dan penjajah yang ingin kembali berkuasa. Dia menggunakan diksi keagamaan yang kuat (“Allahu Akbar!”) yang langsung menyentuh sisi spiritual mayoritas pejuang. Ini teknik psikologis brilian. Ketika sebuah konflik dibingkai sebagai perjuangan suci, ketakutan akan kematian berubah menjadi kerinduan akan kesyahidan. Sederhana, tapi dampaknya dahsyat.

3. Pimpin Langsung, Jangan Cuma Suruh dari Belakang

Ini yang membedakan provokator bayaran dengan pemimpin sejati. Bung Tomo mendirikan dan memimpin langsung BPRI. Dia tidak hanya berteriak “Serbu!” dari studio radio yang aman, lalu pulang. Dia ada di lapangan, bergerilya, ikut mengatur strategi. Ketika rakyat tahu bahwa pemimpin yang mengomando lewat radio juga sama-sama basah kuyup di medan laga, kepercayaan itu muncul total. Di tahap ini, sabar ya kalau kita mencerna nilainya. Keberanian itu menular. Ketika satu pemimpin berdiri di depan, tanpa sadar kaki-kaki yang tadinya gemetar jadi ikut melangkah maju.

Baca Juga  Lautan Tiket Murah! Jadwal & Harga KM Kirana VII Lombok-Surabaya 2025
4. Abaikan Ancaman, Pertegas Harga Diri Kolektif

Ultimatum Mayor Jenderal Mansergh adalah titik baliknya. Isinya kasar: menyerah atau Surabaya dihancurkan. Daripada gentar, Bung Tomo justru menjadikan ultimatum ini sebagai bahan bakar. Dia memelintir ketakutan menjadi penghinaan terhadap harga diri. “Kita ini merdeka! Kenapa harus menyerah pada orang asing yang baru datang?” Kira-kira begitu pesan yang disampaikan. Tekniknya bukan menenangkan, tapi justru membakar emosi. Dalam kondisi terkepung, emosi kemarahan yang terarah jauh lebih berguna daripada logika yang membuat orang berpikir dua kali untuk maju.

5. Ciptakan Simbol Perlawanan yang Membumi

Bung Tomo dan kawan-kawan tidak menciptakan seragam mewah. Ikon perlawanan mereka adalah lengan baju yang digulung, ikat kepala merah putih, dan bambu runcing. Benda-benda ini sangat inklusif; siapa saja bisa memilikinya. Tak perlu biaya mahal untuk jadi pejuang. Ini cerdas secara sosial. Dengan simbol yang sederhana, setiap orang—dari tukang becak, petani, hingga pemuda putus sekolah—bisa merasa menjadi bagian dari tentara rakyat. Identitas “Pejuang Surabaya” jadi milik bersama.

  • Penulis: Ruang Gentur

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perbaikan jalan Wabup Mimik Idayana

    Perbaikan Jalan Rusak Sidoarjo Tinggal 30 Persen, di Bukber Wabup Sidoarjo Mimik Idayana dan Kyai Said Agil Siradj

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ruang.co.id — Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo, Mimik Idayana, di Pendopo Delta Wibawa, pada Sabtu (14/3/2026), mengatakan perbaikan jalan berlubang dan jalan rusak di Sidoarjo, tinggal 30 persen, terutama di ruas jalan Lingkar Timur Sidoarjo. “Update untuk perbaikan jalan – jalan yang berlubang, jalan yang rusak di Sidoarjo, tinggal 30 persen, terutama untuk jalan di […]

  • Janda usia sekolah

    Fenomena Janda Usia Sekolah di Jatim Tembus 3.900 Kasus

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Mascim
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Di balik torehan positif penurunan angka stunting, Jawa Timur menyimpan ironi sosial yang tak kalah genting. Ribuan remaja perempuan justru kehilangan masa depan pendidikannya dan berstatus sebagai janda di usia yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Fenomena janda usia sekolah (JUS) ini mengalami peningkatan signifikan dalam setahun terakhir. Data terbaru Badan Kependudukan […]

  • Jadwal Tayang Film Pulung Gantung Pati Ngendat di Bioskop

    Jadwal Tayang Film Pulung Gantung – Pati Ngendat di Bioskop Surabaya Hari Ini! Jangan Lewatkan!

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Film “Pulung Gantung – Pati Ngendat” yang diangkat dari mitos Jawa kuno tentang kematian tragis, menjanjikan teror psikologis yang mencekam! “Pulung Gantung – Pati Ngendat” menghantui desa! Ryan kembali ke kampung halaman setelah ayahnya meninggal dunia secara misterius. Keanehan demi keanehan terjadi, dan petunjuk mengarah pada cahaya merah di langit sebelum maut menjemput. […]

  • Drama Korea Song Hye Kyo dan Gong Yoo Slowly but Intensely

    Drama Korea Terbaru yang Ditunggu “Slowly but Intensely”, Memasangkan Song Hye Kyo dan Gong Yoo

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Drama Korea selalu punya cara unik untuk membuat para penggemar setianya tak sabar menanti. Kali ini, kabar menggembirakan datang dari dua bintang besar, Song Hye Kyo dan Gong Yoo, yang akan beradu akting dalam drama terbaru. Kehadiran mereka dalam satu proyek menjadi perbincangan hangat, karena keduanya terkenal sebagai aktor dengan kemampuan akting […]

  • ketua milenial relawan gotong royong

    Relawan Gotong Royong Jatim Serukan Pilkada yang Demokratis dan Damai

    • calendar_month Rabu, 27 Nov 2024
    • account_circle Ruang Gentur
    • 1Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Koordinator Relawan Gotong Royong Jawa Timur, Mat Mochtar, menyerukan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2024 yang berlangsung demokratis, dan damai tanpa kekacauan. “Kami mendukung penuh Pilgub Jawa Timur yang demokratis, tanpa kekerasan atau kekacauan. Meski berbeda pilihan, kita tetap satu untuk Jawa Timur,” ujar tokoh Madura ini pada […]

  • Mengenal apa itu duck syndrome

    Apa sih Duck Syndrome? Rahasia Tersembunyi di Balik Penampilan Tenang

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Bayangkan seorang teman yang selalu terlihat bahagia dan sukses. Dia punya pekerjaan yang bagus, banyak teman, dan kehidupan sosial yang aktif. Namun, di balik senyumnya, ia mungkin sedang berjuang dengan tekanan yang luar biasa. Inilah yang terkenal dengan sebutan duck syndrome. Apa Itu Duck Syndrome? Duck Syndrome adalah istilah yang semakin sering […]

expand_less