Membedah Cara Bung Tomo Menyulut Gelora di Surabaya Lewat Radio
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Inilah taktik psikologis dan teknik mobilisasi rakyat yang dipakai Bung Tomo untuk mengubah Surabaya menjadi kota pertempuran paling heroik di Indonesia. (Ilustrasi gambar by AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
6. Maksimalkan Momentum Pertumpahan Darah Pertama
Meninggalnya Brigadir Mallaby pada 31 Oktober 1945 adalah percikan api yang membakar ladang. Bagi pihak Sekutu, ini adalah bukti “kebiadaban” yang harus dibayar mahal. Namun bagi Bung Tomo dan BPRI, ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa rakyat Surabaya bukan macan ompong. Mereka bisa melukai. Untuk meningkatkan moral, keberhasilan melumpuhkan seorang jenderal musuh itu jauh lebih efektif daripada ribuan selebaran propaganda. Dalam setiap orasi, semangat “Kita sudah buktikan kita bisa!” terus didengungkan.
7. Adaptasi Taktik Gerilya Perkotaan
Bertempur melawan tank dan pesawat dengan bedil tua adalah bunuh diri jika dilakukan di lapangan terbuka. Maka dari itu, perlawanan dipecah ke simpul-simpul kampung. Inilah keunggulan BPRI. Mereka tidak bertempur sebagai pasukan reguler. Mereka bergerak dalam kelompok-kelompok kecil, memanfaatkan gang-gang sempit Surabaya yang tak bisa ditembus kendaraan lapis baja Sekutu. Bung Tomo lewat radio mengoordinasikan target-target penyerangan, sementara di lapangan, para komandan unit melaksanakan manuver secara otonom.
Tips Biar Semangatnya Nggak Cuma Jadi Kenangan
- Jadikan Sejarah Ini Dekat, Bukan Dongeng Pengantar Tidur. Kalau cuma dengerin rekaman pidatonya setahun sekali pas Hari Pahlawan, ya basi. Bayangkan sebagai drama nyata. Rasakan getaran nadanya. Kalimat “Merdeka atau Mati” itu bukan gimmick, itu pilihan biner yang diucapkan dengan sadar oleh orang-orang seusia kita saat itu.
- Pahami Konteks Lokalnya. Keberanian Surabaya lahir bukan dari ruang hampa. Ada tradisi perlawanan ulama dan jawara di sana. Bung Tomo berhasil menyatukan elemen-elemen liar itu. Ini pelajaran soal inklusivitas.
- Radio itu “Senjata” Kuno yang Masih Relevan. Di masa krisis, ketika internet mati atau kacau, komunikasi audio satu arah justru lebih solid karena sulit disusupi hoaks visual. Ini prinsip “KISS” (Keep It Simple, Stupid) dalam perang psikologis.
- Selebrasi Keberagaman. Dalam barisan arek-arek Suroboyo, ada santri, ada preman pasar, ada pelajar. Musuh bersama menyatukan perbedaan itu. Sekat-sekat identitas cair dalam sekejap.
Pada akhirnya, Pertempuran 10 November bukanlah sekadar catatan kalah atau menang di atas kertas militer. Fisik Surabaya mungkin sempat hancur, namun rohnya berhasil diselamatkan oleh Bung Tomo. Suara seraknya di radio berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh ribuan tentara terlatih: menciptakan bangsa yang percaya bahwa kemerdekaan adalah hak yang tak bisa ditawar. Pelajaran dari metode “radio dan mobilisasi masif” ini abadi: sekuat apa pun lawanmu, selama kepala masih tegak dan hati masih menyala, pertempuran belum usai.
Mari, kalau ada suara gentar di dada menghadapi masalah hari ini, ingat saja petikan pidato itu. Bukan untuk perang, tapi untuk mengingatkan bahwa kakek-nenek kita dulu jauh lebih nekat dan berani. Selamat Hari Pahlawan.
- Penulis: Ruang Gentur

