Kobaran Asa dan Cita Perjuangan Sidoarjo Tahun Perdana Gebyar Kelahiran Hari Keroncong Nasional
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

Sidoarjo menggelar peringatan Hari Keroncong Indonesia inisiator sekaligus menggerakkan pembinaan musik keroncong menuju panggung dunia. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Alunan merdu alat musik ciri khas Keroncong, kembali dibunyikan di Sidoarjo, pada Kamis malam (1/10/2026), di panggung spektakuler Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo.
Senandung dengan nada cengkok ciri khas Keroncong, dinyanyikan dari judul “Keroncong Sidoarjo” karya Gustav, lagu “Gebyar Gebyar” yang dipopulerkan Gombloh, hingga lagu “Un-Break My Heart” yang dipopulerkan Toni Braxton, menghiasi apik di peringatan momentum Hari Keroncong Indonesia, 1 Oktober, selain diperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Ketua Dekesda Kabupaten Sidoarjo, Ribut Wijoto, menyatakan itu dalam kata sambutan pembuka gebyar Hari Keroncong Indonesia,
Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo, Choirul Hidayat, yang mewakili Kadindikbud, juga tampak hadir bersama sang Master Keroncong Agus Subagyo alias Gustav, Bambang, dan para sesepuh Keroncong di tengah acara tasyakuran potong tumpeng acara peringatan Hari Keroncong Indonesia.
Kehadiran Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sidoarjo, sekaligus pengagum keroncong, Ahmad Misbahul Munir, turut menyemarakkan gebyar Hari Keroncong Indonesia ini. Dia mengapresiasi pesatnya perkembangan seniman junior hingga senior di daerahnya.
“Saya melihat potensi seniman keroncong di Sidoarjo ini sangat besar. Yang senior, yang junior itu semua berkembang dengan sangat baik. Ini potensi yang harus dikembangkan.”
Misbah, sapaan akrab Ahmad Misbahul Munir, menyatakan kebanggaannya atas kontribusi besar pegiat lokal. Penetapan momentum bersejarah tersebut membuktikan Sidoarjo sukses menjadi pelopor dan pusat pergerakan musik keroncong di tingkat nasional.
“Hari 1 Oktober ini sebagai Hari Keroncong Nasional. Ini kan berawal dari perjuangan teman-teman di Sidoarjo. Berawal dari Sidoarjo dan sekarang menasional,” pungkasnya.
Penetapan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Keroncong Nasional atau Hari Keroncong Indonesia, menjadi tonggak sejarah baru yang sangat membanggakan. Perjuangan besar ini, mengalir nyata dari bumi Delta Sidoarjo.
Gagasan bersejarah tersebut, awal mulanya dicetuskan lewat Deklarasi Sidoarjo, pada perhelatan Festival Keroncong Impresif Nasional Synkron. Momen penting itu, berlangsung hangat di Kahuripan pada 24 Agustus 2025.
Tokoh keroncong Sidoarjo, Gustav alias Agus Subagio, bertindak sebagai pemrakarsa gerakan. Ia merumuskan usulan bersama, agar tanggal lahir Maestro Gesang Martohartono diabadikan menjadi Hari Keroncong Indonesia.
Inisiatif tersebut mendapat dukungan kuat dari Ketua Komite Musik Dekesda, Teguh. Hadir pula saat itu Ratu Keroncong Hj. Waldjinah, Tuti Maryati, Andre Juan Michiels, hingga jajaran tokoh nasional.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, turut memperkuat legitimasi gerakan tersebut. Wakil Bupati Sidoarjo periode 2025–2030, Mimik Idayana, juga memiliki peran besar atas kelahiran Hari Keroncong Indonesia, serta memberikan jaminan serta dukungan birokrasi yang sangat krusial.
Perjuangan gigih dari Sidoarjo ini, akhirnya membuahkan hasil manis di tingkat pusat. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, resmi menerbitkan Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2026.
Lewat SK yang disahkan pada 9 Maret 2026 tersebut, negara menetapkan secara hukum bahwa tanggal 1 Oktober merupakan Hari Keroncong yang diakui resmi secara nasional.
Kini, Kamis, 1 Oktober 2026, Dewan Kesenian Sidoarjo merayakan perayaan bersejarah itu. Slogan “Awal Perjuangan dari Sidoarjo” digaungkan bangga di Sekretariat Dekesda, Jalan Erlangga. Acara malam itu diisi paparan singkat pemrakarsa Hari Keroncong, Gustav Agus Subagio.
Ratusan masyarakat Sidoarjo disuguhi pertunjukan spektakuler, dari lima orkes keroncong kebanggaan Sidoarjo. Tampil memukau antara lain Laras Merak, sebagai perform perdana dan Gustav sebagai penyanyinya, Riang Gembira, New Anggrek 5 Jari, OK Embongan, serta OK Syadana.
Sejarah mencatat, Keroncong di Sidoarjo sudah mengakar kuat sejak era kolonial Hindia Belanda. Musik ini menyebar pesat, mengiringi pertunjukan teater rakyat Komedi Stambul dari Surabaya.
Seiring berjalannya waktu, kelompok musik Keroncong Sidoarjo tumbuh menjadi kekuatan yang disegani. OK Rosmalasari bahkan tercatat sukses meraih Juara 2 Festival Keroncong Nasional 1981.
Prestasi bergengsi tersebut, terus berlanjut hingga generasi kontemporer saat ini. Terbukti OK Laras Merak dan OK Papelker sukses menyabet predikat juara pada festival nasional 2025.
Agenda Program Kenalkan Keroncong ke Sekolah
Pegiat musik Keroncong, Agus Subagyo atau Mas Gustav, mendorong penuh penetrasi musik tradisional ke lingkungan sekolah. Menurutnya, potensi besar pelajar Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sidoarjo, perlu diwadahi melalui kegiatan ekstrakurikuler serta ajang pembinaan.
“Kompetisi Liga Keroncong Remaja Nasional ingin mendapatkan profil, Jawa Timur ternyata banyak potensi. Tinggal dukungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk membukakan pintu agar kita masuk ke sekolah-sekolah.”
Guna menarik minat generasi muda, ia menyiapkan terobosan berupa lomba menyanyi antar-sekolah beriringan musik keroncong. Langkah inklusif ini, harapannya menjadi pintu masuk pembinaan talenta muda secara berkelanjutan.
Mas Gustav mengatakan, “Awal tahun 2027 kita mengadakan lomba nyanyi lagu apa pun diiringi musik keroncong antar-sekolah, SMP atau SMA. Jika sekolah juara, kita masuk melakukan pembinaan melalui model seperti itu.”
Inovasi Keroncong Sidoarjo Menuju Pengakuan Dunia

Inisiator yang juga pegiat musik Keroncong Sidoarjo, Agus Subagyo alias Mas Gustav, menyanyikan lagu ciptaannya berjudul “Keroncong Sidoarjo” sebagai sebagai penanda lahirnya Hari Keroncong Nasional dari Sidoarjo. (Din)
Pegiat musik Keroncong Sidoarjo, Mas Gustav, menegaskan bahwa seni musik harus bersifat dinamis. Menurutnya, inovasi kreasi kontemporer menjadi strategi vital agar Keroncong tetap memikat minat generasi muda.
“Seni itu berkembang seiring perkembangan manusia, termasuk Keroncong. Agar Keroncong bisa berkembang dan dicintai audiens, harus ada inovasi-inovasi yang menggertak, terutama dari kawula muda.”
Ia menekankan pentingnya sinergi erat antara generasi senior dan junior, melalui pembinaan berkesinambungan. Kolaborasi lintas generasi ini memicu optimisme menjadikan Jawa Timur, khususnya Sidoarjo, sebagai pusat regenerasi Keroncong nasional.
“Harapan kami ke depan, antara yang muda dan tua itu bersinergi, sehingga Keroncong digemari seluruh lapisan masyarakat. Sidoarjo diharapkan menjadi barometer pembinaan dan regenerasi se-Indonesia.”
Tak berhenti di tingkat nasional, Mas Gustav bersama tim supporting, tengah mengawal pergerakan Keroncong menuju panggung internasional. Langkah diplomasi budaya ini, ditargetkan tuntas di 2027 hingga mendapatkan pengakuan resmi dari UNESCO.
“Untuk go internasional, saya dengan tim membawa Keroncong Road to UNESCO. Nanti Maret 2027 upaya perjuangan kami tinggal satu langkah lagi untuk diakui sebagai warisan tak benda dunia,” ujar Mas Gustav.
Jejak Panjang Keroncong, dari Tradisi hingga Era Kontemporer
Musik Keroncong lahir dari akulturasi musik fado Portugis abad ke-16, yang dibawa para pelaut ke Nusantara. Tradisi ini kemudian berkembang pesat di Kampung Tugu, Batavia, pada 1661.
Nama keroncong diambil dari tiruan bunyi “crong-crong” instrumen ukulele. Genre ini menyebar ke Pulau Jawa, dan melahirkan tiga jenis utama, yaitu Keroncong Asli, Langgam, serta Stambul.
Perkembangan genre ini tidak lepas dari peran maestro, seperti Gesang Martohartono. Melalui karya monumental “Bengawan Solo“, Gesang berhasil melambungkan musik Keroncong ke panggung internasional.
Tokoh lain seperti Waldjinah, Ismail Marzuki, Abdoel Razak, hingga Sundari Soekotjo turut memperkuat estetika keroncong. Mereka konsisten melestarikan warisan musik ini melintasi berbagai generasi.
Seiring berjalannya waktu, Keroncong berevolusi dari era klasik menuju era milenium. Musisi modern mulai melepaskan aturan birama kaku, demi memadukan Keroncong dengan berbagai genre lain.
Kini, grup musik muda seperti Simphony Kerontjong Moeda dan Paksi Band gencar berinovasi. Langkah ini berhasil mengubah citra Keroncong menjadi musik kontemporer yang diminati generasi muda.
Saat ini pula, Pemkab bersama DPRD Sidoarjo terus menyatakan komitmennya, mengawal pelestarian seni musik ini. Dukungan regulasi dan anggaran disiapkan, agar musik Keroncong Sidoarjo kelak mampu menembus panggung dunia.
- Penulis: Ruang Nurudin

