Pagelaran Ludruk Kontemporer Pukau Ratusan Warga
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 18 jam yang lalu
- print Cetak

Pagelaran ludruk kontemporer kolaborasi seniman senior-yunior di Taman Budaya Surabaya pukau 500 warga. Angkat kisah horor inovatif penuh sindiran. (ISt)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Pementasan ludruk kontemporer yang menyatukan seniman ludruk senior dan yunior memukau lebih dari limaratusan warga Jawa Timur yang berjubel di pendopo Taman Budaya Surabaya, sabtu (18/7) malam.
Ludruk yang dikemas dengan model kolaborasi antara seniman ludruk senior dan yunior tersebut dikemas dengan gaya kontemporer yang inovatif dengan konten cerita horor berjudul Karma Lara itu mensmpilkan alur cerita masa lalu dan masa depan.
Dalam pementasan yang dihadiri beberapa anggota DPRD Jatim seperti Dr Rasiyo, Lilik Hendrawati dan Harisandi Davari tersebut dibuka dengan tari remo yang dimainkan secara berkelompok oleh 4 orang penari. Kemudian dilanjutkan dengan tari modern serta kidungan.
Kemudian pentas ludruk yang disutradarai Muhammad Chotib Hidayatullah ini mensmpilksn komedian muda yang berperan sebagai dedemit yang gelisah karena sosoknya tidak ditakuti orang. Menariknya konten lawakan ysng dimainkan kefus konedian ini berani tampil beda dengan melontarjan sindiran-sindiran terhadap pemerintah. Seperti perekrutan manajer KDMP dan lainnya.
Cerita yang dimainkan dalam Ludruk ini juga termasuk konten horor masa kini. Dimana ada cerita rumah angker yang tidak laku dijual karena ada hantu anak perempuan yang selalu mencari ayahnya. Ternyata hantu tersebut adalah orok yang digugurkan oleh ayahnya si pemilik rumah tersebut.
Selain alur cerita, tata panggung dan lighting yang inovatif dalam pentas ludruk ini juga mempilkan tata musik campursari dengan penyanyi panggung yang membawakan lagu-lagu yang madih disukai kaum gen-z.
Dijumpsi usai acara, anggota komisi E DPRD Jatim, Dr Rasiyo mengatakan, pementssan ludruk yang seperti inilah yang kita spresiasi. Karena mereka berani membuat inovasi sehingga banyak generasi muda yang tadinya kurang mengenal seni ludruk menhadi tahu apa itu ludruk.
“Kami mendukung bentuk kesenian tradisional yang berinovasi untuk terus nenjaga eksistensinya agar tidak tergerus perubshsn zaman. Sehingga dengan demikian kita tudak kehilangsman khasanah budaya daerah kita,” ujar Rasiyo yang saat itu didampingi Kadisbudpar Jawa Timur Evy Avianasari.
Menurut Rasiyo pementasan ludruk seperti ini san kesenian Jawa Timur lainnya harus diberi kesempatan pentas lebih banyak agar bisa dikenal masyarakat luas khususnya generasi mudanya. Sehingga kesenisn daerah tetap eksis dan tidK punah ditinggal zaman.
- Penulis: Ruang Gentur

