Belajar Merawat Amanah, Pembina Inabah XIX Sidoarjo Serap Ilmu Tata Kelola dari Nurul Hayat
- account_circle Ruang Mujiono
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

Pembina Inabah XIX Sidoarjo menimba ilmu tata kelola yayasan profesional dan mandiri dari pendiri Yayasan Nurul Hayat Surabaya dalam kunjungan studi hari Senin. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Pembina Inabah XIX Sidoarjo, Iin Indana Khudsiyah, menggali langsung praktik tata kelola yayasan ke Kantor Yayasan Nurul Hayat Surabaya pada Senin (20/7/2026). Kunjungan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi pengelolaan lembaga sosial yang profesional dan berkelanjutan.
Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu disambut hangat oleh Pendiri Yayasan Nurul Hayat, Drs. H. Muhammad Molik, beserta jajaran manajemen. Kedua pihak bertukar pandangan mengenai tantangan dan kunci sukses membangun yayasan yang mampu melayani umat secara mandiri.
H. Molik membeberkan perjalanan panjang Nurul Hayat sejak awal berdiri hingga kini menaungi jaringan cabang di berbagai daerah. Ia menekankan bahwa pondasi utama yayasan bertumpu pada keikhlasan serta keberanian membangun kemandirian finansial.
“Saya dulu tidak mau cari bantuan untuk panti asuhan yang saya dirikan. Semua dari hasil bisnis saya,” ungkap H. Molik menceritakan masa-masa awal merintis.
Namun, sebuah nasihat sederhana mengubah haluan pandangnya. Seorang sahabat mengingatkan agar tidak “mengavling surga sendirian”. Pesan itu mendorong Nurul Hayat membuka diri menerima amanah donasi publik tanpa kehilangan semangat usaha mandiri.
Sebagai bagian dari strategi pengelolaan, H. Molik juga mewakafkan unit-unit usaha miliknya untuk yayasan. Laba dari lini bisnis tersebut dialirkan membiayai operasional serta memperkuat program pembinaan anak yatim, pemberdayaan ekonomi, dan misi kemanusiaan lainnya.
Model integrasi bisnis dan sosial inilah yang menjadi sorotan utama Bunda Iin. Ia melihat pentingnya membangun ekosistem pendanaan berkelanjutan agar gerakan sosial tidak bergantung sepenuhnya pada donasi eksternal.
H. Molik menambahkan, transparansi dan profesionalisme menjadi kunci utama merawat kepercayaan publik. “Begitu amanah masuk, harus ada sistem yang jelas. Siapa mengerjakan apa, uangnya ke mana, manfaatnya untuk siapa. Itu harga mati,” tegasnya di sela diskusi.
Bunda Iin mengaku mendapat banyak pelajaran berharga yang akan diterapkan di Inabah XIX Sidoarjo. “Kami ingin meniru semangat dan sistem yang sudah terbukti di Nurul Hayat. Bukan sekadar besar secara fisik, tapi besar dalam manfaat dan amanah,” ujarnya.
Ia berharap kunjungan ini menjadi titik awal pengembangan tata kelola Inabah XIX Sidoarjo menuju standar profesional yang lebih tinggi. Ke depan, pihaknya berkomitmen menghadirkan pelayanan prima bagi masyarakat, sejalan dengan semangat berkhidmat yang dicontohkan Yayasan Nurul Hayat.
- Penulis: Ruang Mujiono

