Breaking News
light_mode
Sabtu, 12 September 2026
Beranda » Terkini » Abolisi dan Amnesti: Sahlan Azwar Beberkan Hukum Indonesia Tumbang oleh Politik

Abolisi dan Amnesti: Sahlan Azwar Beberkan Hukum Indonesia Tumbang oleh Politik

  • account_circle Mascim
  • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang.co.id – Kebijakan Presiden Prabowo Subianto memberikan Amnesti kepada Hasto Kristiyanto dan Abolisi untuk Tom Lembong mendapat kritikan dari praktisi hukum Surabaya, Sahlan Azwar. Hal tersebut menjadi bukti nyata bagaimana penegakan hukum di Indonesia secara sistematis dikalahkan oleh kepentingan politik praktis. Keputusan ini bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan pembunuhan karakter terhadap supremasi hukum yang selama ini digaungkan. Senin, (04/8/2025).

Sahlan Azwar, SH., S.Pd., M.H., CLA, CRA, Praktisi hukum dari Kota Surabaya, membedah paradoks kebijakan ini dengan analisis tajam. Amnesti bagi koruptor seperti Hasto yang notabene Sekjen PDIP adalah pengkhianatan terhadap janji pemberantasan korupsi Prabowo sendiri. Sementara abolisi untuk Tom Lembong menciptakan preseden berbahaya, korupsi bisa dilegalkan selama bermuatan kepentingan ekonomi strategis.

Kasus Hasto Kristiyanto menjadi contoh sempurna bagaimana hukum dipelintir untuk melayani agenda politik. Padahal, secara fakta hukum, mantan Sekjen PDIP ini telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Pemberian amnesti tanpa dasar kemaslahatan publik yang jelas hanya mengukuhkan stereotip bahwa hukum di Indonesia tumpul ke atas tapi tajam ke bawah.

Yang lebih memprihatinkan, legitimasi politik diberikan secara bulat oleh DPR—lembaga yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi. Tidak ada suara kritis, tidak ada mekanisme check and balance, yang ada hanya pembiaran terhadap intervensi kekuasaan ke ranah hukum. Fakta ini membuktikan bahwa reformasi hukum pasca Orde Baru ternyata hanya ilusi.

Argumen kemaslahatan ekonomi yang dipakai untuk membenarkan abolisi Tom Lembong justru membuka kotak Pandora. Jika keuntungan bisnis biasa bisa dikriminalisasi sebagai korupsi, lalu bagaimana investor mau bermitra dengan pemerintah? Namun di sisi lain, kebijakan ini juga mengaburkan batas antara korupsi dan praktik bisnis sehat.

Baca Juga  Amnesti dan Abolisi untuk Kasus Korupsi: Preseden Baru atau Intervensi Politik? Ini Analisis Prof. Dr. Hufron

Sahlan Azwar mengingatkan bahaya yurisprudensi baru dimana korupsi bisa diampuni selama pelaku punya akses politik strategis. Ini adalah preseden buruk untuk pemberantasan korupsi ke depan. KPK yang sudah dilemahkan, kini harus berhadapan dengan kekuatan oligarki politik yang semakin tak terbendung.

Persetujuan bulat DPR terhadap kebijakan ini adalah tanda kematian demokrasi deliberatif. Ketika lembaga perwakilan rakyat diam seribu bahasa melihat hukum diinjak-injak, maka krisis legitimasi demokrasi tidak bisa dihindari. Sahlan Azwar tegas menyatakan: “Jika DPR tidak bisa menjalankan fungsi kontrol, lebih baik bubarkan saja!”

Fenomena ini juga mengukuhkan teori hukum sebagai alat politik ala Marx. Hukum tidak lagi berdiri sebagai panglima tertinggi, melainkan budak bagi kekuasaan. Implikasinya? Ketimpangan hukum akan semakin lebar: rakyat kecil dihukum karena mencuri sandal, sementara koruptor kelas kakap bebas berkeliaran.

Situasi ini membawa kita pada pertanyaan krusial: ke mana arah penegakan hukum Indonesia sebenarnya? Ketika keputusan politik bisa dengan mudah menggeser prinsip keadilan, bukan tidak mungkin kita sedang menyaksikan fase degradasi hukum yang sistematis.

Baca Juga  Kontroversi Abolisi Tom Lembong dan Amnesti Hasto: Pakar Hukum Soroti Akankah Keadilan Dipertaruhkan?

Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Justru momentum ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan koreksi fundamental. Civil society, akademisi hukum, dan media perlu bersinergi menciptakan pressure system yang mencegah intervensi kekuasaan terhadap hukum.

Sahlan Azwar mengingatkan, “Hukum yang kuat membutuhkan masyarakat yang kritis.” Di sinilah peran public watchdog menjadi kunci. Dengan transparansi dan partisipasi publik, bukan tidak mungkin kita bisa mengembalikan hukum pada posisinya sebagai panglima tertinggi dalam bernegara.

Pilihan ada di tangan kita: membiarkan hukum menjadi tumbal politik, atau bersama-sama memperjuangkan sistem peradilan yang independen. Sejarah membuktikan, reformasi hukum selalu mungkin ketika ada kehendak kolektif yang kuat dari masyarakat.

  • Penulis: Mascim

Rekomendasi Untuk Anda

  • Film Korea berjudul Flu

    Sinopsis Film Korea “Flu” Tentang Wabah Virus yang Mematikan

    • calendar_month Selasa, 7 Jan 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Film Korea bertajuk “Flu” menghadirkan cerita menegangkan tentang wabah virus mematikan yang mengubah hidup banyak orang dalam sekejap. Dirilis pada 2013, film ini menjadi salah satu tontonan yang semakin relevan pasca pandemi global melanda dunia. Bagi kalian yang senang dengan drama penuh aksi dan emosi, “Flu” adalah pilihan sempurna. Dalam cerita ini, […]

  • Manfaat Makan Makanan Masih Hangat

    Jangan Tunggu Dingin! Ini Alasan Kenapa Makan Makanan Hangat Lebih Baik untuk Tubuh

    • calendar_month Jumat, 28 Feb 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Bayangkan pulang ke rumah setelah seharian sibuk, lalu di meja makan sudah tersaji semangkuk sup panas yang mengepul, nasi hangat yang pulen, atau segelas teh hangat yang menghangatkan tenggorokan. Rasanya langsung nyaman, bukan? Makanan yang masih hangat memang memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya dari segi rasa yang lebih nikmat, tetapi juga dari […]

  • Bahaya mie instan

    Mie Instan: Praktis, Enak, tapi… Bahaya?

    • calendar_month Kamis, 26 Sep 2024
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Mie instan, makanan siap saji yang praktis dan lezat, sering menjadi pilihan utama saat kita malas memasak atau sedang terburu-buru. Namun, di balik kelezatannya, banyak pertanyaan seputar keamanan dan dampak konsumsi mie instan terhadap kesehatan. Apakah mie instan benar-benar bahaya? Mari kita telaah lebih lanjut. Mie instan menjadi pilihan populer karena kepraktisannya […]

  • dj may memey

    Dj May Memey Ungkap Alasan Pilih Menjadi Disc Jockey Sebagai Profesi

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle ruangadmin
    • 0Komentar

    Ruang Hiburan | May Memey Di usianya yang terbilang muda, ia sudah memutuskan untuk menjalani profesi sebagai disc jockey (DJ). Profesi DJ, disebut May, tak cuma bermanfaat untuk mencukupi kebutuhannya. Banyak hal lain yang ia rasakan selama menggeluti profesi tersebut. “Alhamdulillah lebih dari cukup sih,” kata May Memey ditemui di kawasan Surabaya Barat, baru-baru ini. […]

  • Jadwal tayang film Singsot Siulan Kematian di Bioskop Surabaya

    Review Film Singsot, Setiap Siulan Membuat Merinding

    • calendar_month Senin, 17 Mar 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – “Singsot” adalah film horor dari legenda urban tentang suara siulan misterius yang banyak meyakini dapat memanggil makhluk halus. Film ini mengisahkan tentang sekelompok remaja yang tanpa sengaja membangkitkan teror “Singsot” saat mereka melakukan perjalanan ke sebuah desa terpencil. “Singsot: Siulan Kematian” merupakan film horor Wahyu Agung Prasetyo sebagai sutradara, dengan naskah oleh Vanis […]

  • Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia

    AFPI Ungkap Kontribusi Besar P2P Lending terhadap Lapangan Kerja dan Penurunan Kemiskinan

    • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Industri fintech peer-to-peer (P2P) lending kembali menunjukkan dampak positifnya terhadap perekonomian Indonesia. Menurut laporan terbaru dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), sektor ini berhasil membuka lapangan kerja baru untuk 362.000 orang dan membantu mengurangi angka kemiskinan hingga 177.000 jiwa. Hasil ini berasal dari riset yang dilakukan oleh Amartha bersama Center of Economic […]

expand_less