Breaking News
light_mode
Minggu, 13 September 2026
Beranda » Peristiwa » Kecaman PWDPI Sidoarjo atas Kekerasan Ajudan Kapolri ke Pewarta Foto di Semarang

Kecaman PWDPI Sidoarjo atas Kekerasan Ajudan Kapolri ke Pewarta Foto di Semarang

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month Senin, 7 Apr 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sidoarjo, Ruang.co.id – Kekerasan terhadap jurnalis adalah isu yang terus mengemuka di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Insiden yang terjadi pada 5 April 2025 di Stasiun Tawang, Semarang, merupakan contoh nyata kasus kekerasan yang menimpa jurnalis saat menjalankan tugasnya. Kejadian ini melibatkan seorang ajudan Kapolri yang diduga melakukan tindakan intimidasi dan kekerasan fisik terhadap seorang pewarta foto. Peristiwa ini tidak hanya mencederai harkat jurnalis tetapi juga mengancam nilai-nilai demokrasi yang menjadi landasan dalam masyarakat kita.

Insiden tersebut terjadi di tengah kunjungan kerja Kapolri dan menimbulkan reaksi negatif dari kalangan jurnalis dan organisasi profesi pers. Ketua Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia, PWDPI DPC Sidoarjo, Agus Subakti, menegaskan bahwa tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan pers yang diakui oleh undang-undang.

“PWDPI mengecam tindakan ajudan Kapolri dan mendesak institusi tersebut untuk menindak tegas pelaku. Pemintaan ini bukan hanya bersifat insidental, tetapi lebih sebagai langkah untuk menjaga integritas dan keamanan jurnalis yang berperan penting dalam penyampaian informasi kepada publik,” ujar Ucok sapaan Agus Subekti Ketua PWDPI DPC Sidoarjo, Minggu (6/4).

Ia menegaskan, Kerja jurnalistik berfungsi sebagai pengawas dan kontrol sosial dalam suatu demokrasi. Jurnalis yang meliput peristiwa penting merupakan pilar bagi sistem pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Kekerasan terhadap mereka bisa dianggap sebagai usaha untuk membungkam kebenaran dan upaya untuk mengintimidasi mereka yang berani mengungkap fakta. “Seiring dengan tindakan kekerasan itu, muncul pertanyaan mendasar mengenai peran dan tanggung jawab aparat penegak hukum dalam melindungi hak-hak jurnalis dan kebebasan pers,” tandasnya.

Pernyataan Agus Subakti mengenai hubungan antara pers dan institusi negara menjadi krusial dalam konteks ini. Ketika aparat yang seharusnya melindungi masyarakat justru menjadi pelaku kekerasan, kepercayaan publik terhadap institusi tersebut menjadi terganggu. Ini bukan hanya masalah individual, tetapi menyangkut reputasi institusi dan kesehatan demokrasi di Indonesia. Tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan sangat diperlukan untuk mencegah munculnya preseden buruk yang bisa merusak hubungan antara masyarakat dengan badan-badan negara.

Baca Juga  Demo Jurnalis Jatim Memanggil, Wabup Sidoarjo Minta Maaf Usai Algojonya Berulah

Di sisi lain, solidaritas dari organisasi pers, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Pewarta Foto Indonesia (PFI), menunjukkan bahwa komunitas jurnalis bersatu dalam mengadvokasi perlindungan serta hak-hak Jurnalis. “Kami harap dan kami meminta jaminan kepastian bahwa insiden serupa tidak akan terulang kembali, dimana komitmen Polri yang mengatakan bahwa Jurnalis dan Media Pers adalah mitranya?, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi jurnalis. Melalui kehadiran Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dalam mengawasi proses investigasi, diharapkan transparansi dan objektivitas dalam penanganan kasus ini dapat terjaga,” tegasnya.

Peristiwa itu juga mengingatkan pada kenyataan pahit bahwa jurnalis di Indonesia masih rentan terhadap kekerasan dan intimidasi. Hal ini patut menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat sipil. Saatnya tindakan preventif dan protektif bagi jurnalis tidak hanya dicantumkan dalam disertasi dan peraturan, tetapi juga diimplementasikan dalam praktik sehari-hari.

“Kejadian di Semarang adalah bukti betapa rentannya jurnalis dalam menjalankan fungsi kritis mereka. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi, kita harus bersama-sama mendukung prinsip kebebasan pers dan perlindungan terhadap jurnalis agar dapat menjalankan tugasnya tanpa rasa takut diintervensi atau mengalami kekerasan,” tegasnya lagi.

Kedepannya, diharapkan bahwa Kapolri dan lembaga terkait mengambil tindakan konkret untuk menjaga kepercayaan publik, dan memastikan kekerasan terhadap jurnalis tidak kembali terulang. Dalam dunia yang semakin kompleks, di mana informasi adalah kekuatan, melindungi jurnalis menjadi suatu keharusan demi keberlangsungan demokrasi yang sehat dan beradab.

 

  • Penulis: Ruang Nurudin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kenapa bisul sering muncul di punggung

    Kenapa Bisul Sering Muncul di Punggung? Ini Penyebab dan Cara Menghindarinya!

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Bisul, si kecil yang bikin repot! Pernah nggak sih, tiba-tiba ada benjolan merah di punggung yang terasa nyeri luar biasa? Mungkin Anda bertanya-tanya, “Kenapa bisul sering muncul di punggung, ya?” Kalau iya, tenang, Anda tidak sendirian. Saya juga pernah ngalamin hal ini, sampai harus berbaring tengkurap seharian sambil berharap keajaiban datang dari […]

  • Sungai Kedungturi

    Perlawanan Warga Kedungturi atas Gugatan PT Ispat Indo dari Dugaan Penyerobotan Sungai Desa

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ruang.co.id – Ruang mediasi di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo siang itu, tak hanya mempertemukan dua pihak yang sedang bersengketa. Di balik berkas perkara bernomor 168/Pdt.G/2026/PN.Sda, tersimpan pertarungan yang lebih panjang. Yakni warga Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Sidoarjo, melawan perusahaan bekas industri peleburan baja besar, PT. Ispat Indo. Sudah lama warga dua RT (Rukun Tetangga) […]

  • Kader surabaya hebat

    Entas Stunting dan Kemiskinan, Wali Kota Eri Apresiasi Kontribusi KSH

    • calendar_month Jumat, 19 Apr 2024
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Surabaya. Ruang.co.id – Turunkan angka stunting dan kemiskinan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar halal bihalal bersama Kader Surbaya Hebat (KSH) di Taman Surya Balai Kota Surabaya. Halal bihalal dalam suasana Lebaran ini, diikuti sekitar 48 ribu KSH yang dilaksanakan secara bertahap sejak Jumat (19/4/2024) pagi. Halal bihalal sekaligus silaturahmi bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi […]

  • Kesenian Jawa Timur

    Eksplorasi Dunia Kesenian Tradisional Jawa Timur

    • calendar_month Rabu, 14 Agt 2024
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Surabaya, Ruang.co.id – Jawa Timur, pulau paling ujung di Pulau Jawa, menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Salah satu manifestasinya adalah ragam kesenian tradisional yang telah turun-temurun. Dari tarian yang memukau hingga drama yang penuh humor, Jawa Timur memiliki semuanya. Dengan akar sejarah yang kuat dan pengaruh beragam budaya, kesenian di Jawa Timur mampu bertahan […]

  • demo mahasiswa Surabaya

    Kericuhan Demo BEM Mahasiswa di Surabaya, Mahasiswa Tuntut Video Call dengan Presiden

    • calendar_month Senin, 17 Feb 2025
    • account_circle Ruang Gentur
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Aksi demonstrasi (demo) besar yang digelar oleh ribuan mahasiswa di Surabaya, di depan gedung DPRD Jawa Timur, berakhir dengan kericuhan. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Islam Sunan Ampel (Uinsa), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), dan beberapa universitas lainnya menggelar aksi untuk menuntut penghentian kebijakan efisiensi […]

  • cek kesehatan gratis

    Puluhan Anak Tunanetra di Surabaya Antusias Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Ini Hasil Mengejutkan yang Ditemukan!

    • calendar_month Selasa, 25 Feb 2025
    • account_circle Ruang redaksi
    • 0Komentar

    Ruang.co.id– Pagi itu, suasana di SLB A YPAB Surabaya terasa begitu hangat dan penuh semangat. Puluhan anak tunanetra dengan antusias mengikuti cek kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh ZAP Clinic. Tania, siswi kelas 5, terlihat penasaran saat dokter menempelkan thermogun di dahinya. “Ini buat apa, Dok?” tanyanya polos. Kegiatan ini tidak hanya memeriksa suhu tubuh, tetapi […]

expand_less