Breaking News
Sabtu, 20 Juni 2026
Trending Tags
Beranda » Daerah » Anggota Dewan Meriahkan Grebeg Suro Sidoarjo 2026 Teguhkan Identitas Budaya Tak Tercerai Berai

Anggota Dewan Meriahkan Grebeg Suro Sidoarjo 2026 Teguhkan Identitas Budaya Tak Tercerai Berai

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month 44 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sidoarjo, Ruang.co.idGrebeg Suro Sidoarjo 2026 resmi digelar pada 19–20 Juni di Lapangan Parkir Selatan Alun-Alun 2.

Tak sedikit warga hadir, menyaksikan prosesi ritual kirab budaya Grebeg Suro yang sarat makna kebangsaan.

Warih Andono, Wakil Ketua III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo, hadir dalam kirab bersama tokoh sesepuh budaya dan budayawan Sidoarjo.

Dia merupakan politisi senior dari Partai Golkar Sidoarjo, yang menduduki jabatan pimpinan DPRD Sidoarjo tersebut untuk masa bakti periode 2024–2029.

Warih mengatakan, “Saya baru kali pertama ini mengikuti acara Grebeg Suro. Saya tertarik ingin mendalami kegiatan – kegiatan budaya di Sidoarjo, dan saya senang bertemu dengan para sesepuh tokoh budaya Sidoarjo. Saya siap kapanpun membantu kesulitan teman – teman budaya untuk berkegiatan”.

“Sebagai anggota dewan, saya juga ingin mengetahui segala persoalan dan permasalahan teman – teman komunitas budaya di Sidoarjo. Jangan sampai ada yang tidak rukun, tidak guyub. Jika ada permasalahan, mari kita bicarakan duduk bersama dan kita diskusikan untuk memperoleh solusi yang terbaik. Itu harapan saya,” pintanya.

Kirab Pusaka menjadi sorotan utama. Parade pusaka keris, tombak, dan tosan aji berjalan khidmat, menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur. Seniman cak Tawar-pun hadir di acara ini.

“Kami ingin pusaka tetap hidup sebagai simbol jati diri bangsa,” ujar Bopo Suwarso dari Paguyuban Budaya Putro Warso Wijoyo 1244.

Ritual Jamasan Pusaka turut mengundang partisipasi masyarakat. Warga yang membawa pusaka pribadi diberi kesempatan membersihkan dan memuliakan benda bersejarah itu.

“Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat akan akar budaya,” ujar Bopo Bagus Dwi Prasetio, panitia Grebeg Suro.

Meski demikian, belum tampak hadir dari kalangan eksekutif atau Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, turut hadir dalam acara ritual Grebeg Suro dan pertunjukan budaya Sidoarjo ini.

Di hari kedua, Sabtu (20/6/2026), Gebyar Budaya menghadirkan pertunjukan Jaranan dan Bantengan khas Sidoarjo. Suasana meriah tercipta ketika seni tradisi tampil di tengah lapangan parkir Alun – Alun, memperlihatkan kekuatan ekspresi budaya lokal.

Pertunjukan Jaranan dan Bantengan menambah semarak. Dentuman gamelan berpadu dengan gerakan lincah para penari, akan membuat penonton bersorak. Warga dari berbagai daerah datang, menjadikan Grebeg Suro sebagai ajang silaturahmi budaya.

Tak kalah menarik, di hari kedua juga tersedia layanan Pengobatan Tradisional. Kehadiran pengobatan berbasis kearifan lokal ini menjadi bukti bahwa tradisi masih relevan dalam kehidupan modern.

Acara yang berlangsung dua hari ini, juga menjadi ladang perekonomian UMKM warga Sidoarjo, yang mengais rejeki di sekitar lokasi Alun – alun sisi selatan dan barat.

Acara yang digelar Dewan Kebudayaan Sidoarjo bersama Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) ini, menegaskan komitmen menjaga tradisi sekaligus memperkuat nilai kebangsaan di tengah generasi muda.

Bagi panitia, Grebeg Suro Sidoarjo 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pertemuan antara sejarah, seni, dan masyarakat.

Grebeg Suro berakar dari tradisi Jawa, yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa. Di Sidoarjo, tradisi ini berkembang menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur.

Kirab dan jamasan pusaka mencerminkan hubungan spiritual masyarakat dengan warisan budaya.

Di era modern, relevansi Grebeg Suro terletak pada kemampuannya menjaga identitas lokal, di tengah arus globalisasi. Tradisi ini bukan hanya sebuah nostalgia turun temurun, tetapi juga sarana memperkuat nilai kebangsaan.

Dengan melibatkan masyarakat luas, Grebeg Suro menjadi ruang edukasi budaya. Generasi muda diajak memahami, bahwa pusaka dan seni tradisi adalah bagian dari jati diri bangsa yang harus dijaga.

  • Penulis: Ruang Nurudin
expand_less